GUGON TUHON SELAMATAN KEMATIAN


Gugon Tuhon pada Selamatan Kematian

A. Latar belakang

Masyarakat jawa sebelum mengenal agama mempunyai system kepercayaan yang berkaitan dengan animisme dan dinamisme. Kepercayaan tersebut begitu lekat di dalam kehidupan masyarakat Jawa, bahkan sampai sekarang masih ada yang menganutnya. Menurut Harustato (1987: 98) sejarah perkembangan religi orang Jawa telah dimulai sejak zaman pra sejarah, dimana pada waktu itu nenek moyang orang Jawa beranggapan bahwa : semua benda yang ada di sekelilingnya mempunyai nyawa, dan semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan gaib atau mempunyai roh yang berwatak baik maupun jahat.

Golongan kejawen masih begitu lekat dengan tradisi selamatan karena sebelum agama Islam, Katolik dan Kristen dating ke Jawa, masyarakat jawa telah lama menganut Hindu da Budha. Sehingga tradisi pemujaan terhadap dewa-dewa masih begitu lekat dengan masyrakat Jawa. Pandangan hidup masyarakat jawa dalam beragam tidak lepas dari sikap-sikap dasar masyarakat Jawa yang akhirnya menjadi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Sikap tersebut salah satunya adalah manjing ajur ajer, yang pada dasarnya merupakan sikap keterbukaan dalam hal apapun, sehingga pada saat agama-agama dari luar masuk, masyarakat Jawa terbuka untuk menerimanya. Keagamaan orang Jawa kejawen selanjutnya ditentukan oleh kepercayaan pada pelbagi macam roh yang tidak kelihatan, yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit apabila mereka dibuat marah atau kita kurang hati-hati.

Dalam masyarakat jawa, terutama yang dilkukan oleh kaum abangan, memiliki pola reliius yang disebut slametan ( Geertz, 1985 : 13-14). Tradisi slametan ini, dalam masyarakat Jawa tradisional, menurut muchtarom (1988 : 29) dilakukan sebagi perilaku pengyebahan kepada roh halus, baik baik maupun roh jahat. Pandangan orang jawa demikian tentu saja mengundang pro-kontra. Bagi yang kontra, akan menganggap bahwa masyarakat Jawa masih primitive dan kurang berpikir rasional.

Oleh karena slametan kematian berupa pemujaan roh, sering menimbulkan gugon tuhon (takhayul) tertentu dalam masyarakat Jawa. Hal ini terjadi karena kebanyakan orang Jawa masih tetap melaksanakan kepercayaan lama, yaitu tradisi pemberian sesajian kepada awrah dan makhluk halus (dhanyang-dhanyang) (Sularto dkk, 1982 : 41). Sikap hidup masyarakat yang masih menganut gugon tuhon, menurut Prawiroatmojo (1981: 156) didorong oleh sikap percaya adanya kekuatan yang lebih (supra) dibanding dirinya.

Dengan gugon tuhon yang masih melekat itu, tradisi slamatan pada upacara kematian menganggap sebagai “keharusan”. Tidak sedikit masyarakat Jawa yang enggan dan takut meninggalkanya. Selamatan baginya sudah keharusan yang memiliki konsekuensi tertentu. Hal ini memang cukup beralasan, karena menurut Malinovski (Geertz, 1992 : 95), kematian mampu menimbulkan sikap ganda orang yang berduka cita, yaitu tanggap cinta dan segan. Kedua sikap ini merupakan sebuah sikap ambivalensi emisional yang sangat mendalam yang dapat menimbulkan kekuatan dan ancaman, baik dasar-dasar psikologis maupun eksistensi social manusia.

Keadaan semacam itu, kemungkinan yang membuat eksistensi gugon tuhon dalam tradisi slametan kematian tidak akan punah. Oleh sebab itu, akan sulit terbukti jika Hardjowirogo (1979: 115) menyatakan, bahwa di antara adat kebiasaan orang Jawa, terutama yang berhubungan dengan gugon tuhon, takhayul sudah tererosi oleh betambahnya kemampuan berpikir logis orang jawa, sehingga segala sesuatu yang tidak dapat diterima nalar, ditiadakan atau tak diindahkan di dalam suatu upacara atau kenduri. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui ada apa dibalik gugon tuhon pada slametan kematian itu.

B. Perumusan Masalah

Sistem takhayul orang Jawa banyak megandalakan gugon tuhon. Dalam menjalankan kehidupannya golongan abangan tersebut masih menjalankan ritual-ritual kejawen seperti selamatan yang dipadu dengan syariat agama yang dianutnya. Dalam slametan terungkap nilai-nilai yang dirasakan paling mendalam oleh orang Jawa, yaitu nilai kebersamaan, ketetanggaan, dan kerukunan. Sekaligus slametan menimbulkan suatu perasaan kuat bahwa semua warga desa adalah derajatnya sama satu sama lain, kecuali ada kedudukan yang lebih tinggi. Mereka yang mempunyai kedudukan lebih tinggi seperti lurah, pegawai pemerintah desa, pegawai pemerintah dari kota, dan orang-orang yang lebih tua, perlu didekati dengan menunjuk sikap hormat menurut tata karma yang ketat.

Takhayul menjadi pijakan kejiwaan (kerohanian dan kebatinan). Atas dasar system kejiwaan ini orang Jawa mengenal berbagai alam hidup diluar dirinya. Alam hidup yang sering di pandang istimwa dalam takhayul adalah alam kodrati. Alam ini berada di atas rata-rata kejiwaan manusia normal. Karena itu, hanya mereka yang gemar pada pemikiran supranormal yang mampu menggapai dunia adikodrati. Oleh karena alam adikodrati itu lebih eksklusif, orang Jawa mengasumsikan bahwa alam tersebut tergolong jagat sacral yang patut mendapat perhatian khusus.

Berdasarkan uraian diatas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :

a.       Bagaimana aktivitas dalam pelaksanaan gugon tuhon dalam upacara slamatan kematian.

b.      Ada apa dibalik gugon tuhon dalam upacara slamatan kematian.

 

 

C. Tujuan Penelitian

Peneltian ini bertujuan untuk  memberikan pemahaman analitis etnografis terhadap eksistensi gugon tuhon yang di era modern ini masih dilkukan oleh sebagian komunitas masyarakt jawa. Dengan pemahaman ini diharapkan tidak lagi terjadi kesalahpahaman antara pihak yang tidak mendukung dengan pihak pendukung gugon tuhon.

Melalui pengungkapan gugon tuhon dalam upacara slametan kematian, diharapkan agar berbagai pihak akan menganggukan kepala bahwa ada kekuatan tertentu dibalik tradisi budaya spiritual itu. Kekuatan-kekuatan itulah pada gilirannya akan menjadi komoditi yang patut dilestarikan untuk mewariskan tradisi leluhur yang amat berharga.

D. Manfaat penelitian

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan analisis bagi perkembangan dunia ilmu antropologi budaya khususnya tentang pemahaman teori fungsional structural. Dari sini akan diperoleh gambaran makna dan fungsi secara fungsional structural terhadap fenomena gugon tuhon dalam upacara slametan kematian yang selama ini dianggap misteri. Dengan kata lain, bagi generasi muda atau siapa saja yang sering meragukan terhadap gugon tuhon akan semakin yakin bahwa gugon tuhon adalah fenomena yang memiliki makna dan fungsi tertentu bagi kehidupan.

Secara praktis, membuka wawasan pada masyarakat tentang adanya gugon tuhon dalam upacara slametan kematian sebagai hal yang sacral. Karena itu, masyarakat modern tidak harus menolak begitu saja kehadiran nilai tradisional yang masih relevan sebagai aset budaya.

 

 

E. Landasan Teori

Pada awalnya gugun tuhon sekedar endapan pengalaman yang dibayangi atas fantasi-fantasi tertentu. Lama kelamaan pengalaman fantasis itu disimpan, ditaati, dan dilaksanakan sebagai sebuah system kehidupan. Oleh karena gugon tuhon tadi telah melembaga menjadi sebuah system itu dinamakan tradisi. Maka, sisitem takhayul orang Jawa selalu didasrkan pada tradisi tertentu. Takhayul merupakan ideology yang tan kasat mata, sedangkan tradisi merupakn bentuk nyata dari takhayul.

Takhayul menjadi pijakan kejiwaan (kerohanian dan kebatinan). Atas dasar system kejiwaan ini orang Jawa mengenal berbagai alam hidup diluar dirinya. Alam hidup yang sering di pandang istimwa dalam takhayul adalah alam kodrati. Alam ini berada di atas rata-rata kejiwaan manusia normal. Karena itu, hanya mereka yang gemar pada pemikiran supranormal yang mampu menggapai dunia adikodrati. Oleh karena alam adikodrati itu lebih eksklusif, orang Jawa mengasumsikan bahwa alam tersebut tergolong jagat sacral yang patut mendapat perhatian khusus.

Dalam angka memperhatikan jagat adikodrati, orang Jawa melakukan berbagai tindakan supranatural. Tindakan tersebut dilaksanakan melaui proses mistik. Mistik adalah proses pencermatan dunia batin, agar mampu memasuki dubia lain. Hal ini disadari bahwa alam lain (adikodrati) itu bersifat abstrak, maka untuk masuk kesana juga perlu sikap abstrak yakni secara mistik (melalui batin). Proses mistik ada dua macam yaitu:

1.      Mistik yang dilakukan oleh perorangan, dan

2.      mistik yang dilakukan secara kelompok. Pada dasarnya system takhayul Jawa dilakukan secara kelompok, sehingga muncul berbagai sekte yang berbentuk kerukunan, paguyuban, organisasi, dan perguruan. Erbagai sekte yang menghayati takhayul di Jawa bercabang-cabang, meskipun pusarannya pada tuhan.

Setiap cabang penghayat takhayul, mengikuti pedoman khusus dari leluhur, yang diterima melalui wisik gaib. Wisik gaib memang ada yang melalui hantu, terutama hantu yang baik. Atas dasar wisik itu, orang Jawa menjalankan keyakinannya untuk menempuh hidup ke depan. Wisik yang diterima elalu diperhitungkan masak-masak. Modal perhitungan berdasarkan othak-athik mathuk serta ngelmu titen yang telah bergema bertahun-tahun. pedoman perhitungan wisik yang telah tertata, kemudian dibukukan dalam bentuk primbon.

Pengaruh hindu, Budha, islam, dan segala bentuk colonial juga mewarnai kehidupan takhayul orang Jawa. Berbagai unsure budaya spiritual yang masuk ke Jawa diadopsi pelan-pelan , hingga seakan-akan menjadi milik orang Jawa. Maka, tak jarang orang Jwa yang masih memiliki keyakinan pada dewa, hantu, ramalan (esyatologi), kosmogoni, dan lain-lain. Raja-raja tempo dulu, dianggap sebagai titisan para dewa. Raja-raja tersebut dianggap memiliki kemampuan lebih, antara lain dapat berhubungan langsung dengan hantu. Takhayul seperti itu dari waktu ke waktu menjadi sebuah mitos yang lekat di hati masyarakat.

Takhayul orang Jawa terhadap kekuatan roh, benda-benda, tumbuhan, hewan, manusia yang bersifatanimistismerupakan bentuk keyakinan asli yang pertama kali. Sebelum orang Jawa percaya pada hal-hal lain yang dipandang rasional, orang jawa puritan sebenarnya telah meyakini dinia irasional. Roh para leluhur, mereka anggap memilki sebuah pengalaman sakti yang akan memberikan berkah tersendiri bagi generasi berikutnya.

Paradigma pemikiran gugon tuhon memang amat pelik. Oleh karena gugon tuhon itu sebuah wacana “batin” yang sifatnya subjektif. Gugon tuhon baru menjadi jelas ketika telah muncul dalam fenomena. Begitu pula gugon tuhon orang jawa pada hantu, boleh dipercaya boleh tidak, karena pembuktianya juga rumit. Gugon tuhon itu sendiri sebuah teks budaya yang memiliki (fleksibel cnstruktion).

Prosesi ritus kematian pada masyarakat Jawa tradisional, biasanya diumumkan dengan cara gethok tular (pemberitahuan dari mulut ke mulut dan dari pintu ke pintu). Pemberitahuan ini disebut ngabari (memberitahukan) atau nglayati. Untuk mendukung kabar juga igunakan kenthongan dengan bentuk bunyi kenthong cugag, yaitu benyi kenthongan tiga kali-tiga kali. Pada saat mendengar beita kematian, orang Jawa sudah sering mencoba menghubungkan dengan tanda-tanda sebelumnya, seperti bunyi burung kolik dan burung gagak. Jika burung ini berbunyi berkali-kali, mereka bertanya-tanya siapa yang akan segera meninggal. Saat itu pula, mereka meyakini bahwa kematian terjadi dan segera dating ke tempatnya.

Orang yang datang takziah (melayat) seing disebut pembelasungkawa. Pada saat melayat, biasanya dilarang bersendagurau. Suasana harus kidmat dan menunjukan rasa susah yang dalam. Orang yang datng ada yang membantu memasukan uang ditempat (kotak) yang telah disediakan, lalu tangannya dibersihkan wijik pada wijikan yang diberi daun dadap. Para pelayat ada yang langsung pulang, ada pula yang menunggu sampai penguburan selesai. Jika pulang, mereka harus mandi besar (grujug) untuk menghilangkan sarap sawan (hal-hal yang tidak di inginkan).

Cara menentukan hari-hari selamatan kematian orang Jawa memiliki teknik tersendiri. Untuk menentukan hari itu, mereka menggunakan perhitungan hari dan pasaran dengan perhitungan:

a)      Ngesur tanah dengan rumus jisarji, maksudnya hari ke satu dan pasaran juga ke satu,

b)      Nelung dina dengan rumuslusaru, yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga,

c)      Menujuh hari (mitung dina) dengan rumus tusaro, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua,

d)     40 hari (matangpuluh dina) dengan rumus masarama, yaitu hari ke lima dan pasaran ke lima,

e)      100 hari (nyatus dina) dengan rumus rosarama, yaitu hari ke dua pasaran ke lima,

f)       Peringatan tahun pertama (mendhak pisan) dengan rumus patsarpat yaitu hari ke empat dan pasaran ke empat,

g)      Peringatan tahun ke dua (mendhak pindho), dengan rumus jisarly, yaitu hari satu dan pasaran ke tiga,

h)      Perigatan seribu hari (nyewu) dengan rumus nemasarma yaitu hari ke enam dan pasaran ke lima.

Setiap upacara selamatan tersebut memiliki makna yang terkait dengan “kepergian” roh orang yang meninggal. Bratawidjaja (1993: 136) memberikan makna terhadap upacara selamatan seperti tersebut di atas ada kaitannya dengan upaya penyempurnaan roh dan jasad manusia. Tafsiran yang diberikan adalah : ngesur tanah, bermakna bahwa jenazah yang telah dikebumikan, erarti memindahkan dari alam fana kea lam baka, asal manusia dari tanah selanjutnya kembali ke tanah. Selamtan meniga hari berfungsi untuk menyempurnakan empat perkara yang disebut anasir hidup manusia, yaitu bumi, api, angina, dan air. Selamtan menujuh hari untuk menyempurnakan kulit dan kuku. Selamtan 40 hari untuk menyempurnakan pembawaan dari ayah dan ibu berupa darah, daging, sum-sum, jeroan (isi perut), kuku rambut, tulang dan otot. Selamatan 100 hari untuk menyempurnakan semua hal yang bersifat badan wadag. Selamatan mendhak pisan untuk menyempurnakan kulit, daging, dan jeroan. Selamatan mendhak pindho menyempurnakan semua kulit, darah dan semacamnyayang tinggal hanyalah tulangnya saja. Selamatan mendhak ketiga, untuk menyempurnakan rasa dan bau sehingga semua rasa dan bau lenyap.

Upacara selamatan 3 hari dimaksudkan untuk memberi penghormatan pada roh yangmeninggal. Orang Jawa berkeyakinan bahwa roh tadi masih berada di dalam rumah. Ia sudah mulai berkeliaran mencari jalan untuk meninggalkan rumah. Upacara selamatan tujuh hari, dimaksudkan untuk penghormatan terhadap roh yang mulai akan keluar rumah. Dalam selamtan tujuh hari dilaksanakan tahlil, berasal dari kata arab, halla, yang berarti membaca kalimat,” laailaha illallah”, agar dosa orang yang meninggal iampuni.

Upacara selamatan 40 hari (matangpuluh dina), dimaksudkan untuk memberi penghormatan roh yang sudah mulai keluar dari pekarangan. Roh sudah mulai bergerak menuju kea lam kubur. Upacara 100 hari (nyatus dina), memberikan penghormatan terhadap roh yang sudah berada di alam kubur. Di ala mini, roh masih sering kembali ke dalam keluarga sampai upacara selamtan tahun pertama dan peringatan tahun ke dua. Roh baru tidak akan kembali, betul-betul meninggalkan keluarga setelah peringatan seribu hari.

Di samping itu, setelah peringatan seribu hari, setiap tahun sekali diadakan kol-kolan (Hardjowirogo, 1979: 142). Ia juga mengungkapkan bahwa selamatan orang meninggal sering ada perlakuan khusus, khususnya bagi yang meninggal pada hari sabtu. Katanya, orang yang meninggal pada hari sabtu ini akan ‘mengajak’ orang lain untuk menemaninya.

F. Metode penelitian

  1. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data menggunakan teknik participant observation (adler dan adler, 1994: 377) dan indepth interview (Fontana dan Frey, 1994:365-366). Dalam melakukan  participant observation juga berpegangan pada konsep Spradley (1997: 106) bahwa peneliti brusaha menyimpan pembicaraan informan, membuat penjelasan berulang, menegaskan pembicaraan informan, dan tidak menanyakan makna tetapigunanya. Pengamatan berpartisipasi dipilih untuk menjalin hubungan baik dengan informan. Dalam hal ini, peneliti melakukan pengamatan berpartisipasi pada saat penyelenggaraan gugon tuhon dalam upacara kematian.  Pengamatan telibat dibantu pendokumentasian melalui foto. Melalui pengamatan terlibat demikian, dimaksudkan agar peneliti mudah melakukan wawancara secara mendalam. Dalam wawancara, peneliti menggunakan bahasa Indonesia dan Bahasa jawa. Oleh karena, ada hal-hal dan ungkapan-ungkapan tertentu yang harus diungkap menggunakan bahasa Jawa. Hasil wawncara yang berbahasa Indonesia selanjutnya ditranskrip, adapun yang berbahasa jawa dialihbahasakan kedalam bahasa Indonesia untuk memudahkan analisis.

Untuk mencapai kredibilitas data dilakukan dengan cara pengamatan secara terus-mnerus  dan triangulasi. Pengamatan terus-menerus ditempuh dengan cara sedikitnya dua atau tiga kali pelaksanaan slametan kematian.

  1. Teknik Analisis Data

Penelitian ini, menggunakan metode penelitian kualitatif yang berupa deskripsi mendalam terhadap fenomena gugon tuhon dalam upacara kematian. Dalam kaitan ini diterapkan konsep analisis budaya Greetz (banto, 1973: 7-8) yang disebut “model for” dan “model of”. Model for artinya konsep yang telah ada diterapkan ke dalam realitas feomena soial budaya. Model of artinya realitas fenomena social budaya ditafsirkan atau dipahami. Penelitian ini menggunakan “ model off” yakni mengadakan pengamatan terlibat, kemudian secara emik (Kaplan dan mannrs, 1999:259) menanyakan kepada pendukung gugon tuhon dalam slamtn kematian untuk mengungkapkan makna dan fungsi, sesuai dengan “kategori warga setempat”.

Untuk mengungkap makna dan fungsi secara strukturral fungsional ugon tuhon pada slametan kematian, digunakan teknik analisis kualitatif etnografik. Maksudnya, peneliti berusaha mendeskripsikan secara etnografik tentang sikap, kata-kata, dan perbuatan pendukung ugon tuhon pada slametan kematian. Deskripsi tersebut digambarkan secara holistic dan mendalam. Analisis ini dilakukan secara terus-menerus baik pada saat di lapangan dan setelah di lapangan.

Sajian data analisis dilakukan secara deskriptif yang mendalam. Proses analisis data dilakukan terus-menerus baik di lapangan maupun setelah di lapangan. Analisis dilakukan dengan cara mengatur, mengurutkan, mengkelompokan, memberi kode, dan mengkategorikan data. Asetelah itu baru dicari tema-tema budaya yang kemungkinan menjadi focus penelitian. Focus penelitian ini, diperdalam melalui pengamatan dan wawancara berikutnya.

Dalam analisis ini yang berbicara adalah data dan peneliti tidak melakukan penafsiran. Jika ada penafsiran, adalah hasil pemahaman dari interpretasi informan terhadap symbol ritual. Dengan cara emacam ini, akan terlihat makna dan fungsi gugon tuhon pada slametan kematian bagi pendukungnya tanpa intervensi peneliti.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s