Raja-Raja Tanah Jawa


Dinasti Syailendra
Bhanu (752-775)
Wisnu (775-782)
Indra (782-812)
Samaratungga (812-833)
Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya)

Dinasti Sanjaya
Sanjaya (732-7xx)
Rakai Panangkaran
(tidak diketahui)
Rakai Patapan (8xx-838)
Rakai Pikatan (838-855), mendepak Dinasti Syailendra
Rakai Kayuwangi (855-885)
Dyah Tagwas (885)
Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
Rakai Watuhumalang (894-898)
Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
Daksa (910-919)
Tulodong (919-921)
Dyah Wawa (924-928)
Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)

Medang
Mpu Sindok (929-947)
Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
Makutawangsawardhana (9xx-985)
Dharmawangsa Teguh (985-1006)

Kahuripan
Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang
(Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri)

Janggala
(tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)

Kediri
(tidak diketahui silsilah raja-raja Kadiri hingga tahun 1116)
Kameswara (1116-1135), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu
Jayabaya (1135-1159)
Rakai Sirikan (1159-1169)
Sri Aryeswara (1169-1171)
Sri Candra (1171-1182)
Kertajaya (1182-1222)

Singhasari
Ken Arok (1222-1227)
Anusapati (1227-1248)
Tohjaya (1248)
Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)
Kertanagara ( 1254-1292)

Majapahit
Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
Jayanagara (1309-1328)
Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
Wikramawardhana (1390-1428)
Suhita (1429-1447)
Dyah Kertawijaya (1447-1451)
Rajasawardhana (1451-1453)
Girishawardhana (1456-1466)
Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
Bhre Kertabhumi (Brawijaya) (1468-1478)
Girindrawardhana (1474-1519)

Demak
Raden Patah (1478 – 1518)
Pati Unus (1518 – 1521)
Sultan Trenggono (1521 – 1546)
Sunan Prawoto (1546 – 1561)

Pajang
Jaka Tingkir, dikenal juga sebagai Sultan Hadiwijoyo (1561 – 1575?)

Mataram Islam
Ki Ageng Pemanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
Panembahan Senapati (Raden Sutowijoyo) (1575 – 1601)
Sunan Prabu Hanyakrawati (1601 – 1613), dikenal juga sebagai Sunan Seda Krapyak
Sultan Agung (Prabu Hanyakrakusuma) (1613 – 1645)
Amangkurat I (1645 – 1677), dikenal juga sebagai Sinuhun Tegal Arum
Amangkurat II (1677 – 1703)
Amangkurat III (1703 – 1705)
Pakubuwana I (1705 – 1719), dikenal juga sebagai Sunan Puger
Amangkurat IV (1719 – 1727), memindahkan istana ke Kartasura

Kasunanan Surakarta
Pakubuwana II (1727 – 1749), memindahkan kraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
Pakubuwana III (1749 – 1788)
Pakubuwana IV (1788 – 1820)
Pakubuwana V (1820 – 1823)
Pakubuwana VI (1823 – 1830), juga dikenal dengan nama (Pangeran Bangun Tapa)
Pakubuwana VII (1830 – 1858)
Pakubuwana VIII (1859 – 1861)
Pakubuwana IX (1861 – 1893)
Pakubuwana X (1893 – 1939)
Pakubuwana XI (1939 – 1944)
Pakubuwana XII (1944 – 2004)
Pakubuwana XIII (Tedjowulan) (2005-sekarang)

Kasultanan Yogyakarta
Hamengkubuwana I (Sultan Mangkubumi) (1755 – 1792)
Hamengkubuwana II (1793 – 1828)
Hamengkubuwana III (1810 – 1814)
Hamengkubuwana IV (1814 – 1822)
Hamengkubuwana V (1822 – 1855)
Hamengkubuwana VI (1855 – 1877)
Hamengkubuwana VII (1877 – 1921)
Hamengkubuwana VIII (1921 – 1939)
Hamengkubuwana IX (1939 – 1988)
Hamengkubuwana X (1988 – sekarang)

Kadipaten Mangkunegaran
Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 – 1795)
Mangkunagara II (1796 – 1835)
Mangkunagara III (1835 – 1853)
Mangkunagara IV (1853 – 1881)
Mangkunagara V (1881 – 1896)
Mangkunagara VI (1896 – 1916)
Mangkunagara VII (1916 -1944)
Mangkunagara VIII (1944 – 1987)
Mangkunagara IX (1987 – sekarang)

Pakualaman
Paku Alam I (1813 – 1829)
Paku Alam II (1829 – 1858)
Paku Alam III (1858 – 1864)
Paku Alam IV (1864 – 1878)
Paku Alam V (1878 – 1900)
Paku Alam VI (1901 – 1902)
Paku Alam VII (1903 – 1938)
Paku Alam VIII (1938 – 1998)
Paku Alam IX (1998 – sekarang)

 

Pembukaan cupu Panjala


Desa Girisekar terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta , merupakan dataran tinggi yang bergunung dan berbukit – bukit ,kondisi alam yang demikian menyebabkan daerah ini lebih dikenal sebagai daerah kering dan miskin air . Berbagai upaya telah dilakukan oleh penduduk untuk menjaga kelangsungan hidupnya baik berupa fisik maupun non fisik yaitu lewat kepercayaan pada hal – hal atau benda tertentu yang mempunyai kekuatan . Pada kenyataannya bentuk kepercayaan pada kekuatan benda yang mampu memberi perlambang atau ramalan dapat mempengaruhi sikap masyarakat ketika menghadapi tantangan alam yang sangat keras . Sebagian penduduk bahkan percaya terdapat benda yang diyakini mempunyai kekuatan yang dapat dipergunakan sebagai penunjuk musim bertanam atau pranata mangsa , bahkan benda tersebut dapat dimintai berkah supaya kehidupannya lebih baik , benda tersebut berujud sebuah cupu yaitu Cupu Panjala.

Menurut cerita yang dikisahkan oleh Bapak Dwijo Sumarto , tempat Cupu Panjala itu berada

Bahwa usia Cupu tersebut kurang lebih 600 tahun dan merupakan peninggalan para leluhur secara turun temurun, dikisahkan seorang Kyai bernama Panjala keturunan prajurit Majapahit melarikan diri dan mengungsi ke daerah Gunung Kidul. Pada suatu hari Kyai Panjala mengembara hingga sampai di pantai Gesing di daerah Gunung Kidul. Ketika ia menjala di laut bukan ikan yang ia dapat melainkan tiga buah cupu yang kemudian dibawa kerumah. Hingga saat ini oleh masyarakat setempat Cupu tersebut dipercaya bisa memberikan tanda – tanda alam atau perlambang dan ramalan tentang masa depan desa tersebut sehingga Cupu tersebut dikeramatkan dan bertuah yang bisa meramal kejadian – kejadian alam dimasa datang atau memberi pertanda bagi kelangsungan kehidupan pertanian. Cupu Panjala yang dipercaya mempunyai tuah berjumlah tiga buah , ketiga buah Cupu tersebut diletakkan dalam sebuah kotak atau peti dan dibungkus dengan beratus – ratus kain mori dan diletakkan di ruangan khusus dimana tidak sembarangan orang bisa masuk atau membukanya . Cupu tersebut hanya dibuka setahun sekali ketika musim hujan akan tiba bertepatan dengan hari pasaran Kliwon. Ketiga Cupu yang bertuah itu masing – masing memiliki nama Cupu yang paling besar bernama Semar Kinandhu , Cupu yang kedua yaitu Cupu tengahan bernama Kalang Kinanthang , sedang Cupu yang terakhir yang paling kecil disebut Kenthi Wiri.

Menurut sejarahnya Cupu tersebut sudah mengalami perpindahan tempat sebanyak tiga kali dan diturunkan secara bergantian menurut trah tertua dari generasi ke generasi . Sejak tahun 1957 hingga saat ini Cupu tersebut berada di Dusun Colo Rejo , di rumah Bapak Dwijo Sumarto yang merupakan menantu generasi ke 7 dari Trah Kyai Panjala.

Pada perkembangan selanjutnya upacara Pembukaan Cupu Panjala menjadi tempat keramat , sakral dan ajang masyarakat dari berbagai lapisan untuk meminta berkat dan berbagai keinginan dari masyarakat. Tidak heran jika banyak artis , pejabat dan masyarakat luas dari berbagai daerah berbondong – bondong datang ke upacara tersebut dengan berbagai macam kepentingan dan permintaan ada yang mohon penglarisan bagi mereka yang pedagang , pengasihan , naik pangkat , sukses dalam berusaha dll. Dari tahun ke tahun upacara tersebut semakin banyak dihadiri pengunjung sebab bagi mereka yang merasa terkabul permintaannya akan membayar nazar di tahun mendatang.

 

Pelaksanaan Upacara :

Sebelum pelaksanaan upacara pembukaan Cupu Panjala ibu – ibu warga dusun tersebut mulai mempersiapkan rangkaian hidangan untuk kenduri , sudah menjadi tradisi turun temurun sebelum upacara pembukaan Cupu Panjala biasanya diawali dengan upacara kenduri . Nasi kenduri yang dimasak berasal dari para tamu yang datang baik dari tamu yang sudah terkabul permintaannya pada tahun sebelumnya maupun para tamu yang ingin minta berkat saat pembukaan tahun ini. Banyak sedikitnya nasi kenduri yang dimasak oleh warga dusun ini tergantung pada banyaknya orang yang ingin memberi nazar karena keberhasilannya dalam berusaha berkat Cupu Panjala.

Dari tahun ke tahun jumlah orang yang memberi kenduri semakin banyak. Nasi tersebut nantinya akan dibagikan dan menjadi hidangan untuk tamu yang hadir.

Setelah uba rampe atau keperluan sesaji yang terdiri dari Nasi gurih ,Entho – entho , Ayam Ingkung dsb telah siap kemudian dibawa masuk untuk didoakan , setelah selesai nasi tersebut kemudian dibagikan kepada pengunjung dan diletakkan dalam piring. Sementara itu wakil keluarga trah Panjala mengumumkan acara kenduri wilujengan atau syukuran segera dimulai. Tak lama kemudian piring – piring yang berisi nasi gurih dan kelengkapannya dibagikan ke semua orang yang hadir di tempat tersebut. Mesti jumlah yang hadir tersebut ratusan orang , namun semuanya tetap mendapat sepiring nasi kenduri hasil dari sumbangan tamu yang telah berhasil dalam permohonanya kepada Kyai Cupu Panjala. Setelah makan bersama nasi kenduri selesai para tamu dan masyarakat yang hadir kembali menunggu acara puncak yaitu pembukaan Cupu Panjala.

Menurut wakil keluarga acara pembukaan Cupu Panjala tidak bisa ditentukan waktunya semua tergantung kesiapan sesaji yang sedang dipersiapkan .

Sementara itu di dapur warga dusun masih tetap sibuk memasak kali ini yang dimasak adalah sesaji untuk upacara Pembukaan Cupu Panjala berupa nasi gurih , srundeng dan segala uba rampenya.

Kira – kira pukul dua dini hari salah satu Trah Ki Panjala mengumumkan bahwa upacara membuka Cupu segera dimulai. Sebelumnya nasi gurih dan srundeng beserta uba rampenya dibawa masuk untuk didoakan bersama sesaji yang lain, setelah selesai nasi tersebut ditempatkan dalam piring dan dibagikan pada para tamu yang datang, namun karena nasi tersebut terbatas dianjurkan satu piring untuk dua orang atau istilah jawa makan secara kembulan ( sepiring berdua ) , ini merupakan berkat dari Cupu Panjala yang harus disyukuri.

Setelah acara sesaji dan makan nasi kembulan selesai upacara pembukaan Cupu dimulai disaksikan para tamu yang mengelilinginya , bagi para wanita tidak diperkenankan untuk mendekat ke Cupu tersebut, yang membuka adalah trah Kyai Panjala.

 

Setelah Cupu dalam kotak itu dibuka dan kain mori yang membungkusnya diteliti satu persatu, gambar atau tanda yang terdapat dalam mori tersebut kemudian segera diumumkan oleh kerabat trah kepada para pengunjung yang ada diluar dengan menggunakan pengeras suara. Biasanya gambar – gambar yang terpampang dalam mori tersebut mempunyai perlambang atau ramalan pada peristiwa yang akan terjadi. Pada pembukaan Cupu yang sudah berlangsung sejak dulu beberapa gambar atau tanda yang terdapat di kain mori yang menjadi perlambang akan peristiwa yang terjadi sudah menjadi kenyataan. Biasanya masyarakat yang hadir di tempat itu kemudian menginterprestasikan sendiri makna yng terkandung dalam lambang atau tanda dalam kain mori yang disampaikan oleh wakil keluarga trah Panjala. Percaya atau tidak yang pasti perlambang atau ramalan itu telah mampu membuktikan lewat peristiwa – peristiwa besar yang telah terjadi yang kadang menyebabkan perubahan cara pandang bagi orang yang mempercayainya.

Setelah semua kain mori yang berjumlah ratusan lembar itu dibuka dan diumumkan kepada masyarakat pada pagi harinya Cupu Panjla di bungkus kembali dengan mori – mori tersebut dan kembali disimpan untuk dibuka setahun lagi , maka selesailah rangkaian upacara Pembukaan Cupu Panjala.

 

Upacara Grebeg Kraton


Update: Saturday, May 01, 2004
Berasal dari kata Gerebeg / gerbeg bermakna suara angin, Garebeg merupakan salah satu adat Keraton Kasultanan Yogyakarta pertamakalinya diadakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Garebeg merupakan suatu upacara kerajaan melibatkan seisi keraton, segenap aparat kerajaan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Garebeg secara formal bersifat keagamaan yang dikaitkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam ( Idul Fitri dan Idhul Adha ). Garebeg secara politik juga menjabarkan gelr Sulrtan yang bersifat Kemuslimatan = Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah. Upacara ini diselenggarakan tiga kali selama  satu tahun sejak masa Sultan hamengku Buwono I sampai dengan Sultan Hamengku Buwono IX yaitu :

Garebeg Mulud, Garebeg Besar, Garebeg Sawal.

Pada penyelenggaraan garebeg biasanya disemarakkan dengan tradisi sekaten di alun – alun lor ( utara ).

Upacara Garebeg mempunyai tiga arti penting :

a.       Religius, sebab penyelenggaraan upacara garebeg  berkenaan dengan kewajiban Sultan untuk menyebarkan dan melindungi agama Islam. Hal ini sesuai dengan peranannya sebagai Sayidin Panatagama Kalifatullah.

b.      Historis berkaitan dengan keabsahan Sultan dan kerajaannya sebagai ahli waris syah dari Panembahan Senapati dan kerajaan Mataram Islam .

c.       Kultural karena penyelenggaraan upacara ini menyangkut kedudukan Sultan sebagai pemimpin suku bangsa jawa yang mewarisi kebudayaan para leluhur yang diwarisi oleh kepercayaan lama.

Pada upacara garebeg Sultan mengeluarkan hajad dalem berupa Gunungan. Gunungan yang biasa dikeluarkan dalam upacara Garebeg yaitu :

a.       Gunungan Lanang

b.      Gunungan wadon

c.       Gunungan Gepak

d.      Gunungan Pawuhan

e.       Gunungan Dharat

Sedangkan jenis gunungan Kutug / Bromo hanya dikeluarkan pada upacara Garebeg Mulud Dal.

 

Tempat – tempat yang dipakai untuk upacara Garebeg dibagi menjadi 2 ( dua ) yaitu :

a.       Tratrag Sitihinggil.

Merupakan tempat khusus untuk melakukan upacara pasowanan garebeg, Sultan berada di bangsal Manguntur Tangkil duduk  di Singgasana kemasan yang diletakkan diatas selo gilang yaitu batu yang ditinggikan.

 

b.      Kompleks Masjid Besar

Tempat yang digunakan yaitu pelataran depan serambi  Masjid Besar disebelah utara dan selatan dipergunakan untuk mendengarkan gamelan Sekaten ( Kyai Guntur madu dan Kyai Nogowilogo ). Setelah berada di bangsal pagongan gamelan Kyai sekati ini dimainkan setiap hari kecuali hari kamis petang sampai Jum’at siang selama 6 hari 6 malam dari sesudah sholat Al Isya ( sembahyang malam ) samapai tengah malam dan sesudah sembahyang pagi ( sholat Subuh ) sampai petang lagi. Sebagai permulaan setiap lagu mesti didahului oleh gendhing wirangrong.

 

Pusaka – pusakaKeraton yang  selalu  ditampilkan dalam setiap Garebeg ialah : Gamelan Kyai Kodok Ngorek dan Kyai Monggang serta kereta kerajaan Kyai Garudayaksa. Pada Garebeg Mulud ditampilkan pula gamelan sekatenyang terdiri dari 2  ( dua ) unit yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu

 

  1. Garebeg Pasa/Sawal/Bakda

Maksud diadakannya garebeg ini untuk menghormati bulan suci Ramadhan dan menghormati malam kemuliaan ( lailatul Wqadar ) sering disebut dengan maleman atau selikuran . Keraton merayakan maleman / selikuran sebagai suatu upacara kerajaan yang khusus diselenggarakan menjelang pelaksanaan garebeg pasa / sawal dengan mengadakan pasowanan selikuran pada tanggal 21 bulan Ramadhan dan dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh para sultan penggantinya . Pada masa sri Sultan HB VIII ( 1921 – 1939 ) dilakukan penyederhanan dan perubahan pasowanan selikuran dan sejak Sri Sultan HB IX meniadakan tradisi pasowanan selikuran ini .

Ngabekten dilakukan setiap tanggal 1 Sawal ( Idul Fitri ) dan pada masa Sultan HB IX dilakukan secara sederhana , Sultan tak lagi duduk di Singgasana emas ( dhampar kencana ) dan tidak mengenakan busana kebesaran ( busana keprabon ).

 

  1. Garebeg  Besar

Maksudnya untuk merayakan Idhul Adha , hari raya Islam yang kedua , terjadi dalam bulan Zulhijah yang dalam kalender jawa disebut bulan Besar sehingga Garebeg yang diselenggarakan untuk merayakan Idhul Adha disebut Garebeg Besar . Dahulu Garebeg besar juga disertai dengan pasowanan Garebeg di Sitihinggil dengan maksud mengadakan selamatan negara di masjid besar berupa gunungan dll.  Sesuai dengan tata cara yang berlaku dalam garebneg besar Sultan tidak melakukan kunjungan ke Msjid Besar tetapi Sultan menyerahkan sejumlah hewan kurban dan menyerahkan sejumlah hean kurban.

 

  1. Garebeg Maulud

Garebeg ini diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal.

Tahap – tahap penyelenggaraan untuk Garebeg Maulud :

- Upacara  gladi resik untuk mengadakan evaluasi kesiapan prajurit Kraton,yang diserahi tugas Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit.

- Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan  pembuatan gunungan

- Upacara Miyosipun Hajad Dalem yang merupakan puncak upacara. Upacara ini adalah mengantar / mengiring keluarnya hajad dalem yang berujud gunungan dari dalam Keraton ke masjid Besar yang diserahi tugas ialah Kyai Pengulu Keraton Yogyakarta.

 

  1. Garebeg Maulud  Dal

Merupakan Garebeg yang diselengarakan setiap delapn tahunsekali. Kehadiran Sultan di Masjid Besar untuk melakukan kegiatan religius yang bersifat ke Islaman yakni untuk menendang tumpukan batubata yang ditempatkan disebelah pintu terbuka di pagar tembok bagian selatan masjid Besar. Hal ini sebagai tindakan simbolik yang melambangkan rakyat pada zaman Kasultanan Demak secara resmi telah meninggalkan agama Hindu – Budha untuk memeluk agama Islam. Upacara ini dilakukan hanya setiap delapan tahunsekali atau dalam sewindu.

 

 

GUNUNGAN

Gunugan adalah salah satu wujud sesajian selamatan ( dalam bahasa jawa disebut sajen wilujengan ) yang khusus dibuat untuk disajikan dalam selamatan negara (dalam bahasa jawa wilujengan negari ) setiap garebeg dan maleman / selikuran.

Sesajian gunungan adalah sesajian sakral yang sudah disucikan dengan doa mantra oleh karenanya gunungan dianggap mengandung kekuatan magis yang mampu menolak bala . Anggapan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa sesajian gunungan dilandasi kain banguntulak.

Bangunan khusus untuk pembuatan gunungan dinamakan omah.  Gunungan ( omah = rumah ) Ada 6 ( enam )  jenis gunungan yaitu gunungan Lanang, Wadon, Gepak, pawuhan. Dharat, Kutug / Bromo.

Gunungan Kutug / Bromo hanya dibuat setiap delapan tahunsekali bertepatan dengan tahun Dal, untuk disajikan dalam selamatan negara Garebeg Maulud Dal.

 

a.          Gunungan Dharat.

Gunungan ini pada bagian puncaknya berhamparkan kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam dan disekelilingnya ditancapi dengan sejumlah besar kue ketan berbentuk lidah yang disebut ilat – latan ( lidah ) . Gunungan ini diletakkan tegak diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dan diberi alas kain bangun tulak dibawah nampan dipasang dua batang kayu / bambu panjang sebagai alat pemikul.

 

b.      Gunungan Gepak

Gunungan ini  bukan sebagai gunungan yang berdiri sendiri tetapi merupakan deretan tonjolan – tonjolan tumpul ( gepak ) yang terdiri dari empat puluh buah keranjang berisi beraneka macam kue kecil – kecil yang terdiri atas lima macam warna yaitu merah, biru, kuning, hijau dan hitam. Diatas tumpukan kue – kue tersebut dalam setiap keranjang diberi buah – buahan. Semua keranjang diletakkan diatas nampan raksasa berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 meter dan diselimuti dengan kain bangun tulak serta keempat penjurunya dihiasi dengan potongan kain berwarna kuning.

 

c.           Gunungan Kutug / Bromo

Merupakan Gunungan yang dibuat delapan tahun sekali yakni setiap tahun Dal pada saat upacara garebeg maulud Dal. tetapi di bagian puncaknya diberi lubang untuk menampakkan sebuah anglo berisi bara yang membakar segumpal besar kemenyan, sehingga secara terus menerus mengepulkan asap tebal jika dihembus angin. Pajangannya berupa beraneka macam kue berwarna warni hampir sama dengan pajangan gunungan lanang, bervariasi dengan gunungan wadon. Dibagian bawah beralaskan kain banung tulak dan diletakkan tegak  diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu berukuran 2 x 1,5 m.

 

d.         Gunungan Lanang

Gunungan ini pada bagian puncak disebut mustaka ( kepala ) ditancapi kue terbuat dari tepung beras yang disebut Badheran  karena bentuknya seperti ikan badher. Badheran dihias dengan lima kalungan bunga melati yang diujungnya beruntaikan bunga kanthil. Bagian mustaka dipasang melingkar bola – bola kecil disebut bendul, dibawahnya dipasang melingkar rapat satu rangkaian telur asin, diseluruh bagian batang tubuh dipasangi ratusan kacang panjang, bagian puncaknya diberi sebuah kue berbentuk cincin. Kue tersebut terbuat dari ketan yang disebut  Kucu  dan ketiap kucu digantungi sebuah kue berbentuk segitiga kecil yang disebut upil – upil. Seluruh batang tubuh gunungan lanag selain dipasangi ratusan kacang panjang juga diberi sejumlah besar rangkian lombok / cabe merah yang besar – besar dan diberi sembilan buah telur rebus dan sembilan telur asin. Setap gunungan lanang diletakkan tegak lurus diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 m. nampan ini selain dipasangi sebuah  gunungan juga masih diberi hiasan berupa dua belas nasi tumpeng dengan lauk pauknya yang diberi wadah  empat bungkusan daun pisang. Disamping itu masih diberi empat buah kelapa muda dan sepasang daun muda serta alas kain bangun tulak , keempat penjuru digantung empat kalung rangkaian bunga melati.

 

e.       Gunungan Pawuhan

Bentuk Gunungan ini sangat mirip dengan gunungan wadon . Bagian puncaknya ditancapi bendera kecil berwarna putih dibagian bawah puncak ditancapi  sejumlah lidi bambu yang setiap ujungnya diberi bulatan kecil berwarna hitam yang disebut picisan . gunungan ini dialasi dengan kain banguntulak dn diletakkan tegak diatas nampan raksasa berkerangka kayu.

 

  1. Gunungan Wadon

Bentuknya seperti gunung dengan bagian puncak yang terlalu lancip, juga mirip dengan payung terbuka, bagian mustaka dihampiri kue besr berbentuk lempengan dengan warna hitam yang sekelilingnya ditancapi lidi – lidi bambu panjang, diberi kue ketan berbentuk seperti paruh burung betet yang disebut betetan. Bagian bawh batang tubuh berupa penyangga berbentuk kerucut terbalik yang dibuat dari sejumlah besar pelepah daun pisang . selain itu diberi kue berbentuk lengkaran besar terbuat dari ketan berwarna coklat yang disebut wajik, dan diberi aneka macam kue kecil – kecil serta buah – buahan. Gunungan wadon diletakkan tegak diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 m dengan diberi alas kain bangun tulak, dikeempat penjuru nampan digunakan potongan kain kuning.

 

 

 

Upacara Bersih Desa Parang Tritis (kreteg)


Update: Thursday, September 04, 2003
Parangtritis merupakan salah satu desa di Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Di desa Parangtritis terdapat upacara tradisional bersih dusun yang terkenal dengan sebutan Bhekti Pertiwi yang bertempat di Pendopo Joglo Pariwisata Mancingan.
Upacara bersih desa dilatar belakangi adanya sebuah cerita rakyat tentang asal usul dusun Mancingan. Konon dulu ada seorang bangsawan Majapahit Begawan Selopawening sampai Pantai Selatan dan mendirikan Padhepokan untuk menyebarluaskan ajaran Budha. Pada suatu ketika datang pula Syech Maulana Magkribi ke padhepokan Begawan Selopawening dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Syech Maulana Magkribi mengutarakan tujuannya tersebut kepada Begawan Selopawening dan bahkan memintanya untuk memeluk agama Islam. Permintaan tersebut ditolak, kecuali kesaktian Syech Maulana Magkribi mampu menandingi kesaktiannya. Salah satu adu kesaktian yang harus dimenangkan adalah memancing. Ternyata dalam pertandingan dimenangkan oleh Syech Maulana Magkribi. Dengan kekalahan ini, maka padhepokan diserahkan kepada Syech Maulana Magkribi yang kemudian dijadikan Pondok Pesantren. Tempat pertandingan ini diselenggarakan di muara sungai Opak di Pantai Selatan. Kemudian diberi nama Pemancingan yang dalam perkembangannya menjadi dusun Pemancingan atau Mancingan. Sampai sekarang makam Syech Maulana Magkribi dan Begawan Selopawening tetap dihormati dan dipelihara oleh masyarakat dusun Mancingan khususnya dan Parangtritis pada umumnya.

Upacara Bersih Dusun/Bhekti Pertiwi ini bertujuan :
- Sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rejeki kepada masyarakat dusun Mancingan.
- Melestarikan budaya luhur warisan nenek moyang bangsa Indonesia.
- Memperbanyakkhasanah budaya bangsa Indonesia.
- Menciptakan aset wisata baru yaitu wisata budaya untuk mendukung pembangunan obyek pariwisata Parangtritis.

Waktu dan Tempat Upacara.
Upacara bersih dusun/Bhekti Pertiwi diselenggarakan pada hari Selasa Wage setelah warga masyarakat memetik hasil panen pada kira-kira bulan Mei. Apabila bulan Mei bertepatan dengan bulan Suro maka ditunda lebih dahulu, sebab bulan Suro dusun Mancingan dikunjungi banyak orang. Pemilihan waktu upacara pada hari Selasa Wage sebab waktu itu dianggap baik dan membawa berkah bagi masyarakat dusun Mancingan. Adapun tempat upacara di Pendopo Joglo dusun Mancingan, Parangtritis.

Peralatan sesaji dalam upacara adalah :
a. Untuk ngguwangi antara lain berupa :

- Jadah : Makanan yang terbuat dari beras ketan dimasak bersama parutan kelapa, melambangkan persatuan diantara masyarakat.
- Wajik : Makanan yang terbuat dari beras ketan dimasak bersama dengan
parutan kelapa dan gula kelapa, wajik ini rasanya manis dan melambangkan persatuan dan kebahagiaan.
- Pisang Raja : Melambangkan suatu harapan agar masyarakat hidupnya selalu
bahagia seperti raja.
- Bunga Rasulan : Hanya yang terdiri dari mawar, melati, dan kenanga. Bunga ini
melambangkan keharuman doa yang keluar dari hati yang tulus.
- Jajan pasar : Sesaji yang terdiri dari bermacam-macam makanan yang dibeli di pasar. Melambangkan suatu harapan agar masyarakat selalu memperoleh berkah dari tuhan.

- Jenang merah : Bubur yang terbuat dari beras dan diberi garam dan gula kelapa,
Melambangkan sebuah harapan kepada kedua orangtuanya agar supaya memberi maaf kepada anaknya. Warna merah melambangkan keberanian.
- Jenang putih : Bubur yang terbuat dari beras dan diberi garam, jenang putih
melambangkan harapan seorang anak kepada kedua orangtua agar diberi doa restu, warna putih melambangkan kesucian.
- Tumpeng
Mancanegara : Tumpeng yang terdiri lima macam warna ( hitam, hijau, putih,
kuning dan merah muda ). tumpeng ini melambangkan sebagai sarana agar makhluk halus di sekitar tempat upacara tidak mengganggu.
- Ancak : Wadah yang terbuat dari batang pisang berbentuk segi empat
dengan diberi alas belahan bambu. Ancak ini berisi jadah, wajik, pisang raja, bunga rasulan, jajan pasar, jenang merah, jenang putih, tumpeng poncowarno. Ancak beserta isinya disebut sesaji ngguwangi maksudnya adalah untuk memberi makan kepada makhluk halus di tempat itu agar mereka tidak mengganggu orang yang lewat.

b. Untuk kenduri .
- Ketan : Makanan yang terbuat dari beras ketan dimasak bersama
parutan kelapa. Ketan ini melambangkan sarana untuk mengirim arwah leluhur agar selalu dekat dengan Tuhan.
- Kolak : Makanan terbuat dari pisang, ketela rambat, kolang kaling
yang dimasak manis. Kolak melambangkan menolak segala perbuatan jahat dan agar selalu dekat dengan Tuhan .
- Nasi liwet ayam : nasi putih biasa dengan lauk daging ayam. Nasi liwet ini
melambangkan rasa terimakasih masyarakat terhadap roh leluhur.
- Nasi Wuduk : Nasi putih yang diberi santan, garam dan daun salam sehingga
rasanya gurih. Nasi wuduk ini melambangkan harapan keselamatan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya.
- Ingkung : Ayam yang dimasak secara utuh diberi bumbu tidak pedas dan
santan. Ingkung melambangkan manusia ketika masih bayi belum memiliki kesalahan atau masih suci. Disamping itu juga melambangkan kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan.
- Pisang Raja, jadah, wajik.
- Takir : Tempat untuk nasi wuduk dan lauk pauknya
- Jodhang : Tempat untuk menempatkan sesaji kenduri seperti liwet, nasi
wuduk, ingkung, pisang raja, takir berisi nasi wuduk, ketan, kolak dsb. Jodhang ini terbuat dari kayu dengan ukuran 1,5 m x 1 m dan tingginya kira – kira 15 cm. Adapun bentuk Jodhang bermacam – macam misalnya ada yang berbentuk kotak.
Prosesi Upacara.
Pada pukul 09.00 wib jodhang – jodhang yang berisi sesaji dari delapan RT di Mancingan dibawa ke pendopo Joglo Pariwisata untuk melaksanakan upacara kenduri sebagai wujud dari upacara Bhekti Pertiwi.
Pada pukul 10.00 wib upacara Bhekti Pertiwi dimulai dengan diawali sambutan ketua panitia yang berisi maksud dan tujuan dari upacara sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunianya dilanjutkan sambutan – sambutan dari pejabat Kecamatan dan kabupaten . kemudian memasuki inti upacara yaitu mengikrarkan sesaji kenduri . Ikrar diucapkan oleh tokoh masyarakat dusun Mancingan . Upacara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh tokoh masyarakat juga . Setelah ikrar dan doa dilanjutkan makan bersama dari sesaji kenduri tersebut.

 

 

 

UPACARA LABUHAN MERAPI


Sebelum acara labuhan dimulai di rumah juru kunci diadakan selamatan/kenduri. Sebagian dari makanan untuk selamatan itu kemudian dibawa bersama-sama dengan benda-benda labuhan ke tempat labuhan dengan berjalan kaki. Di tempat labuhan diadakan selamatan sekali lagi. Ujud tempat labuhan letaknya di kendhit (lereng tengah) hunung merapi bagian selatan. Benda-benda labuhan diletakkan di dalam peti, juru kunci lebih dahulu mengambil peti lama (dalam labuhan tahun sebelumnya) yang sudah kosong dan kemudian diganti dengan yang baru berisi benda-benda labuhan tahun ini. Labuhan di Gunung Merapi ditujukan kepada : a. Empu Romo b. Empu Ramadi c. Gusti Panembahan Prabu jagad (Sapu Jagad) d. Krincing Wesi e. Branjang Kawat f. Sapu angin g. Mbok Ageng Lambang Sari h. Mbok Nyai Gadhung Mlalti i. Kyai Megantoro Benda-Benda Yang Dilabuh : a. Sinjang Limar 1 lembar b. Sinjang Camgkring 1 lembar c. Sumekan Bangun Tulak 1 lembar d. Sumekan Gadhung 1 lembar e. Destar (kain penutup kepala) 1 lembar f. Peningset (ikat pinggang)udaraga 1 lembar g. Peningset jingga 1 lembar h. Kambil watangan 1 lembar i. Kampuh poleng 1 lembar j. Ses (rokok) wangen 1 contong k. Sela (kemenyan) ratus dan konyoh 1 kanthong l. Yatra (uang) tindih Rp. 8,33 1 amplop m. Pelana kuda (khusus untuk tahun dal) 1 buah Setelah pembacaan doa oleh juru kunci maka selesailah upacara labuhan itu.

BEDAH SERAT KALATIDHA


PAMBUKA

  1. A. Dhasaring Pirembagan

Tanah jawi kalebet salah satunggalipun tlatah ingkang sampun kawentar nggadhahi meneka warna asil basa, satra, lan budaya. Bab sastra minangka wujud asil akal lan pikiran manungsa ingkang endah, menapa warnawujud tulisan utawi lisan ugi kathah wujudipun. Salah satunggaltuladha asil kasusastran Jawi ingkang wujudipun sastra tulis inggih menika naskah utawi manuskrip, ingkang tegesipun asil tulisan tiyang-tiyang jaman rumiyin ingkang racakipun ngemot bab piwulang, sejarah, agami, lsp.

Wonten pirembagan, ing samangke badhe kaandharaken analisis ngengingi bab naskah utawi manuskrip ingkang sampun dipun sebut wonten nginggil. Dene perangan ingkang badhe dipun analisis inggih menika teks awujud perangan 10 pada saking menika pethikan serat Kalatidha igkang cacahipun wonten 13 pada. 13 pada menika dipun serat wonten dhapukan sekar macapat metrum sinom, ingkang dipun anggit dening R. Ng. Ranggawarsita.

  1. B. Andharan Prekawis

Kangge ngampilaken anggenipun nganalisis teks awujud perangan 10 pada saking petikan serat Kalatidha menika, katemtokaken seperangan prekawis ingkang badhe dipun rembag, inggih menika:

  1. Transliterasi ortografi
  2. Transkripsi ortografi
  3. Etimologi
  4. Parafrase
  5. Terjemahan
  6. Mbedah Naskah
    1. C. Ancasipun Nyerat Makalah

Ancasipun dipun serat makalah analisis serat Kalatidha menika, kajawi kangge nyekapi kabetahan tugas meta kuliah Membaca Manuskrip Lanjut,dosen pangampu ibu Hesti Mulyani M. Hum,ugi kangge mangertosi wosipun serat Kalatidha.

Makalah menika dipun serat supados samangke seged dipun dadosaken salah satunggaling referensi utawi sumber kangge sok-sintena kemawon igkang kepingen mangertosi bab serat Kalatidha. Ingkang salajengipun saged dipun dadosaken usaha pambuka kangge nanemaken lan nuwuhaken raos remen tiang sanes supados saged kepengin nganalisis serat Kalatidha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WOSING PIREMBAG

Kados ingkang sampun dipunandharaken wonten perangan pambuka, menawi analisis serat Kalatidha menika dipunbagi dados perangan-perangan utama ingkang ngewrat pirembagan kasebat.

  1. A. Andharan Analisis Serat Kalatidha Babagan Transliterasi

Transliterasi inggih menika nggantos sarta ngewahi seratan teks saking abjad satunggal dhateng abjad sanesipun. Tuladhanipun, mewahi huruf mawi aksara Latin. Metode transkripsi ugi dipunbagi dados metodetrnskripsi diplomatik kaliyan metodetranskripsi ortografi. Metode trnsliterasi diplomatic inggih menika mewahi aksara teks utawi naskah tanpa nggantosejaan utawi kalepatan sanes. Dene metode transliterasiortografi iggih menikamewahi aksara teks utawi naskah, ejaan ingkang dipunginakaken kedah jumbuh kaliyan ejaan teks asil trnsliterasi, ugi dipunkeparengaken nglaeresaken tembung utawi ukara ingkang dipunanggep lepat.

Wonten andharan transliterasi teks manggala menika, kanca-kanca penulis ngginakaken transliterasi ortografi. Katamtokaken metode transliterasi menika amargi pirembagan ingkang kaandharaken imggih mbedhah isinipun, pramila menawi ngginakaken metode ortografi ingkang ngetingalaken asil transliterasi ingkang ngginakaken pedoman EYD aksara latin, kadosipun langkung gampil dipun mangertosi tegesipun.

Kangge njangkepi bahan-bahan analisis, ing ngandhap menika badhe dipun andharaken asil transliterasi ortografi serat Kalatidha ingkang cacahipun wonten 10 pada menika.

 

Transliterasi Ortografi Teks Serat Kalatidha :

B. Andharan Analisis Serat Kalatidha Babagan Transkripsi Teks

Transkripsi inggih menika nyerat seratan taks ingkang badhe dipun analisis. Racakipun, metode transkripsi dipun bagi dados metode traskripsi diplomatic kaliyan metode transkripsi ortogrfi. Metode transripsi diplomatic inggih menika jinis transkripsi ingkang dipunginakaken kanthi boten mewahi sedaya ingkang gegayutan kaliyan teks, kalebet ejaan, kedah menapa wontenipun. Dene metode trnskripsi ortografi inggih menika jinis transkripsi ingkang saged mewahi ejaan lan dipunjumbuhaken kaliyan ejaan teks asil transkripsi.

Wonten analisis menika kanca-kanca penulis ngginakaken metode transkripsi ortografi, inggih menika kanthi mujudaken teks seratan ingkang dipunanalisis.

Transkripsi Ortografi Teks Serat Kalatidha:

Bebuka-wahyaning arda rubeda/ Ki Pujangga amengeti/ mesu cipta mati-raga/ mudhar warananing gaib/ sasmitaning sakalir/ ruweding sarwa pakewuh/ wiwaling kang arana/ dadi badaling hyang widdhi/ amedharken paribawaning bawana//

Mangkya darajating praja/ kawuryan wus sunya ruri/ rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi/ ponang parameng kawi/ kawileting tyas malatkung/ kongas kasudiranira/ tidhem tandaning dumadi/ ardayeng rat dening karoban rubeda// retune ratu utama/ patihe patih linuwih/ pra nayaka tyas raharja/ panekare becik-becik/ parandene tan dadi/ paliyasing kalabendu/ malah makin andadra/ rubeda kang ngreribeti/ beda-beda ardane wong sanagara// katatangi tangisira/ sira sang paramengkawi/ kawileting tyas duhkita/ kataman ing reh wirangi/ dening upaya sandi/ samaruna anarawung/ pangimur manuhara/met pamrih melik pakolih/ temah suha ing karsa tanpa weweka// dhasarkaroban pawarta/ bebaratan ujar lamis/ pinudya dadya pangarsa/ wekasan malah kawuri/ yen pinikir sayekti/ pedah apa aneng ngayun/ andhedher kaluputan/ sisniraman banyulali/ lamun tuwuh dadi kakembanging beka// ujaring panitisastra/ awawarah asung peling/ ing jaman keneng musibat/ wong ambek jatmika kontit/ mengkono yen niteni/ pedah apa amituhu/ pawarta lalaworan/ mundhak angreranta ati/ angurbaya ngiketa cariteng kuna// keni kinarya darsana/ panglimbang ala lan becik/ sayekti akeh kewala/ lelakon kang dadi tamsil/ masalahing ngaurip/ wahanira tinemu/ temahan anarima/ mupus pepasthening takdir/ puluih-puluh anglakoni kaelokan// amenangi jaman edan/ ewuh-aya ing pambudi/ melu edan nora tahan/ yen tan melu anglakoni/ boya kaduman melik/ kaliren wekasanipun/ dilalah karsa Allah/begja-begjaning kang lali/ luwih begja kang eling lawan waspada// samaono iku bebasan/ padu-padune kepengin/ enggih mekoten man Dhoplang/ bener ingkang angarani/ nanging sajroning batin/ sajatine nyamut-nyamut/wis tuwa are papa/ muhung mahas ing asepi/ supayantuk parimarwaning Hyang Suksma// beda lan kang wus santosa/ kinarilan ing Hyang Widdhi/ satiba malanganeya/ tan susah ngupaya kasil/ saking mangunah prapti/ pangeran paring pitulung/ marga samaning titah/ rupa sabarag pakolih/ parandenemaksih taberi ihtiyar//

C. Andharan Analisis Serat Kalatidha Babagan Etimologi Tembung.

Pirembagan etimologi tembung menika wosipun inggih ngrembag tembung-tembung ingkang awis-awis dipunginakaken ing padintenan, pramila tegesing tembung ing nggil sawau dereng dipun mangertosi. Kanthi mekaten tembumbung-tembung sawau badhe dipun padosi asal saha wujudipun.

Etimologi tembung ing perangan serat kalatida :

Wahyaning wahya + ing

Wahya (S) kw : wetu, wedar, kelair (BDJ,1933:653 A)

 

Arda (S) kw =          1. Pangangsa-angsa, ngangsa, murka, hawa nepsu

2. banget, keluwih-luwih (BDJ,1933:18B)

 

Rubeda Amengeti        : penget, kn : peling sing eling marang (BDJ,1933:481 A)

 

Mesu pesu, diudi (dietog) kalawan temen-temen (tmr. Badan, budi,lsp)

(BDJ,1933:488A)

 

Mudhar udhar,kn : ucul tmr. Tali, lsp, dijlentrehke, dijereng (BDJ,1933:435 B)

 

Warananing warana,kw, kelir, slintru, aling-aling (BDJ;1933:656 B)

 

Sasmita kw, polataning praen,nglamat,pratandha (BDJ,1933:547B)

 

Sakalir kw; kabeh sakabehe, sakehe (BDJ,1933:539B)

 

Ruweding kn :      1. Bundet tmr.bolah (BDJ,1933:634B)

2.kisruh

3. egg. Bingung, kuwur, tmr ati

 

Sarwa (sarwiengg. K) kn :     1. Kabeh, sakabehe, sakehe

2. wutuh tanpa gotong, babar pisan (BDJ,1933:634B)

 

Pakewuh K :       1. Reribed, alangan

2. apa-apa sing njalari rekasa (kangelan)

3. nandang kangelan (rekasa) (BDJ, 1933:458B)

 

Wiwaling :  wiwal + ing

Wiwal kkn : uwal, pisan oncat (BDJ , 1933:666B)

 

Warana kw : kelir slintru, aling-aling ktj.wrana (BDJ, 1933:656B)

 

Badaling (A) kn :            1. Sesulih (kang dikon munggah kaji)

2. engg. Wewakil (ing pakaran babagan agama) (BDJ, 1933:24B)

 

Amedharken wedar kn : wetu, wudar (BDJ, 1933: 659B)

 

Paribawaning . Kw : panjamah, pangapesan (BDJ, 133:473B)

 

Bawana (S) kw :           1.amal, panganan

2. jagat (BDJ, 1933:34B)

 

Praja kw, 1. Kraton, 2. Krajan, 3. Negara, 4. Ak : kedhaton (BDJ, 1933:509A)
Kawuryan kw :1. Ak : keri, 2. Katon (BDJ,1933:195A)

 

Sunya kw, suwung, sepi (BDJ,1933:575A)
Rurah kw, rusak, bubrah (BDJ,1933:534A)

 

Pangrehing pangreh, kn : 1. Cara, lsp. Enggone ngerehake ; 2. Kang reh, kang mangarepi

pakumpulan, lsp. (BDJ,1933:471A)

 

Karana kn, ak : sebab, jalaran, ktj. Krana (BDJ,1933:189A)

 

Palupi kw, 1. Pola,tuladha, 2. Laying, tulisan (BDJ,1933:460A)

 

Ponang kw, kang ; ktj. Ponang (BDJ,1933:506B)

Parameng kawi : kw, ktj : parama kawi (BDJ,1933:472A)

 

Parama kawi, S, kw. 1. Pujangga linuwih, 2. Putus ing kawruh basa

(kekarangan)

 

Kawileting kawilet + ing ; kawilet, kw : katut, kapicut dening tembung manis, lsp : ktj.

Wilet (BDJ,1933:194B)

 

Kongas kw ,1. Sumerbak ambune; 2. Misuwur banget (BDJ,1933: 245A)

 

Kasudiranira kasudiran + ira ; kasudiran : kw, kekendelan, kawanen, ktj. Sudira

(BDJ,1933:191A)

 

Tidhem kw : surem, sirep (BDJ,1933:605A)
Ardayeng ardaya + ing ; ardaya, S, kw : ati, dununging pangrasa (BDJ,1933:18B)

 

Karoban kw, kebanjiran, keleban ; ktj. Rob (BDJ,1933:190A)
Ratu raja, pangarep tmr. Dolanan (BDJ,1933:522B)
Utama s. 1. Kw, becik, linuwih
Patih kn.       1. Priyagung kang nindakake paprentahaning Nagara (embaning ratu)

2. ar. Pangkat sangisore bupati (BDJ,1933:476B)

 

Linuwih luwih + in-

Luwih : langkung

Torah (punjul) saka ing mesthine

Ngungkuli yen tinimbang

Karo, lan

Banget, keladuk

 

Nayaka s,          1. Kw. Panuduh, ppanuntun, pangarep

2. kn. Juru rembug (pangkat sanduwuring bupati)

3. kn ak. Minister (BDJ,1933:335B)

 

Raharja kw. Rahayu, reja (BDJ,1933:516B)
Panekare panekar kn. Ak : gebayan, pulisi ngiras kepala kampong (BDJ,1933:464B)

 

Becik : n. sae k :        1. Ora ana cacate

2. utama (tmr. Bebuden, kalakuan)

3. ora ana owahe , slamet

4. ora pasulayan (tmr. Bebojoan, memitran)

5. Endah (bagus, ayu)

6. Asri, njerengake (tmr. Pasawangan)

7. Kukuh 9tmr. Gegawean) (BDJ,1933:43B)

 

Andadra Dadra n. kn: saya banget  (BDJ, 1933:63 B)
Ngreribedi Ribed kn:  1. Apa-apa sing njalari ora sempuluring laku (pagawean, lsp)

2. kena ing ribed

3. susah marga kena ketaman sing angel.

Ardane (S) kw. 1. Pangangsa-angsa, angsa, murka, hawa nepsu.

2. banget, keluwih-luwih

Katatangi Tangi, kn: wungu, ki. Gumelar, njebak (BDJ, 1933: 591 B)
Duhkita S, kw: susah, sedih (BDJ, 1933: 71 B)
Wirangi Wiring+- I ; wiring: kn, isin kang kaweruh ing akeh (BDJ, 1933:664 B)
Sandi Engg: kn, rada; 2 kw: wadi ,disaman, disamun (BDJ 1933:543 B)
Samanura Saru+-um-+-na; saru: kn, ora pantes (tmr. gunem, tindak-tinduk (BDJ: 547 A)
Pangimur Pan-+ imur; dilepur, dirimuk, direrapu (BDJ, 1933: 170B)
Manuhara Kw: ktj. Manohara: S, Kw: endang, nengsemake, 2 . Memalad sih, ngarih (BDJ, 1933: 291 A)
Met Kw, golek, njupuk, ngepek (BDJ, 1933: 303 A)
Weweka Kn: ngati-ati, prayitna; ktj. Weka (BDJ, 1933: 659 B)
Benaratan Barat, engg. Kn, angin gedhe (BDJ, 1933:31 B)
Pinudya Pudya+in;
Sayekti, Kw; sanyata, temenan; ktj. Yekti (BDJ, 1933: 31 B)
Pedah Kn. ak: paedah (BDJ, 1933:479 B)

Paedah: kn; piguna (BDJ, 1933: 456 B)

Beka Engg. Kn: 1. Ak. Kangelan, reribed (BDJ, 1933: 34 B)
Ujaring Ujar+ing; ujar: kn: 1. Gunem, wetuning tembung

Niyat kang kawetu (kauk, nadir) (BDJ,1933:435)

Panitisastra Paniti-sastra

Paniti, 1. (priksa)enggone niti-priksa (BDJ, 1933:465 A)

Panitisastra: enggone niti-priksa sastra

Awarah (oet. Wewarah) kn: pitutur, pituduh bab pratikele nindakake (BDJ, 1933:244 B)
Asung Kw, aweh (BDJ,1933: B)
Kontit Kn, kalah, ora tandhing (timbang karo jodhone), kari banget (BDJ, 1933:244 B)
Kinarya Karya+-in-;

Karya, 1. Kw: pagawean

2 gawe, nindakake,

3 engg.ak: pagawean tukang (BDJ,1933:)

Darsana S, kw, conto, tuladha (BDJ,1933: 65 B)
Tamsi I, A, kn: tuladha becik (BDJ,1933:589 A)
Wahananera Wahana+near

Wahana, S, kw: tutunggangan, katrangan, tegesing impen ngalamat, lsp (BDJ,1933:345 B)

Nera, kw: -e,-ne (BDJ,1933:345 B)

Wahananera:tunggangane

Tinemu Temu+-in-; temu, I,n. panggih, kn, 1. Panganten lanang wadon digantungake, 2. Kepethuk, gathuk karo (BDJ,1933: 601 A)
Temahan Temah+-an, 1. Kadadeane, pungkasane, 2. Ingg wasana dadi, 3. Merga saka, jalaran saka (BDJ,1933: 339 B)
Anarima Narima,n, narimah, k.ak. nrima (BDJ,1933:339 A) nrima, n, nrima, K: 1. Nampa kalawan panuwun, 2 . wis marem, ktj. Trima (BDJ,1933: 351 B)
Mupus Kn: ngurut  jala ; pupus , 2. Kn: wis nrima marang kaanane lelakone , ktj. Pupus (BDJ,1933:327 A)
Takdir A, kn: papesthen (saka karsaning Allah) (BDJ,1933:586 A)
Puluh-puluh: Puluh-puluh, kn: kepriye meneh, wis kapeksa nrima lah wong…….(BDJ,1933:501 B A)
Ewuh-aya Kn, ak: pakewuh banget (BDJ,1933:660 A)
Baya Engg. Kn: ora (BDJ,1933:56 A)
Man Ptj: wtj. Paman (BDJ,1933:289 A)
Nyamut-nyamut Ptj: 1 (isih) adoh utawa dhuwur banget, akeh banget antarane (bedane)

During paja-paja;

Isih during nyakuptemenan (tmr .kawruh lsp) (BDJ,1933:353 B)

Mulung I kw: munung; ktj piwung. II  kw: mung (BDJ,1933: 323 B)
Mahas Kw: dolan-dolan; mahas ing asepi kw: dedunung ing papan kang sepi (ninggal kadonyan)(BDJ,1933:286 A)
Mangunah Kn. ak: duwe kaluwihan bisa ngayuh marga saka imane (BDJ,1933:294)
Prapti Br: prapta
Maksih Engg. K: isih (BDJ,1933:287 B)
Taberi Kn: sregep sarta tlaten (BDJ,1933:584 A)
Ihtiyar Kn: Golak srana (tetamba lsp); ktj. Setyar (BDJ,1933:168 A)
Reh Kn: 1: br. Pratingkah

Bab panyeking praja , lsp

Prakara, tatanan, pranatan

Wewengkon kang kabawahing

Munggahing bab oet. Prakara (BDJ,1933: 522 B)

Tuwuh Kn 1. Thukul, mundhak-mundhak gedhe tmrp tetuwuhan, lsp.

2 timbul, mencungul tmrp, gagasan, nalar, lsp

3 turun (BDJ,1933:617 B)

Tindhem Tindem kw: surem, sirep, (BDJ,1933:605 B)

 

D. Andharan Analisis Serat Kalatidha Babagan Parafrase

Miturut ngelmu basa, parafrase inggih menika ngewahi dhapukan teks wujud sekar dados dhapukan teks wujud gancaran (prosa). Ancasipun inggih menika kangge nggampilaken sarta nyetakaken isi ingkang wonten ingg dhapukan teks menika. Rancakipun teks ingkang dhapukan gancaran menika langkung gampil dipunmangertosi tinimbang ingkang dhapukan sekar, awit ukara-ukara saha tetembungan ingkang wonten ing dhapukan gancaran sampun nyata lan cetha, boten wonten teges ingkang entar (kias), kados wonten ing dhapukan sekar .

Asil parafrase teks serat kalathidha menika ngginakaken basa Ngoko lugu. Awit kanca-kanca penulis teks serat kalathida menika nginakaken basa Ngoko Lugu.  Awit kanca-kanca penulis ngadahi pemanggih menawi basa ragam ngoko menika langkung gampil dipun mangertosi dening para pamaos tinimbang basa ragam karma.

Parafrase teks Serat Kalathida

Bebuka : Ki Pujangga ngelingake yen wetune hawa nepsu lan alangan bisa katambani kanthi ngudi piker lan aja nurut pepenginane awak, supaya ucul aling-alinging gaib, iku mau pratandha yen kabeh bundhet lan alangan wis oncat saka eling-elingane, dadi sesulihe Hyang  Widdi ngetokake pangapesane  jagad.

Kahanan Negara saiki wis saya bubrah, tatanan bab unggah-ungguh basa wus ora dinut, merga tanpa tuladha bab kawruh basa, bakal kathut dening kaendhahan kang sayekti kleru, pungkasane ndadekake alangan.

Satenane rajane wus apik/becik, patihe lantip, kabeh padoming Negara uga masyarakat becik, ananging kabeh kuwi ora nuwuhake kabecikan. Merga dayane jaman Kalabendu , kabeh rubeda sarta alangan malah saya ngambra-ambra. Kabeh mau dijalari pepinginane  saben wong ing Negara kuwi ora nyawiji.

Wektu kuwi atine sang pujangga lagi sedih, amarga diasorake wong . sang pujangga isin merga tumindake wong mau. Wong kuwi mau kaya-kaya menehi pangarep sik apik, kang njalari sang pujangga bungah atine, banjur pungkasane ora waspada.

perkarane mung merga kabar sing during mesthi benere, arep didadekake pemimpin ananging kasunyatane ora bener, malah ora digatekake babarpisan, sejatine wis dipikirake, apa ta gunane dadi pemimpin ? Mung arep gawe kaluputan wae, luwih-luwih lali karo awake  dhewe, mung ndadekake repot.

Miturut buku panentukti sastra, sejatine wis ana pratandha. Ing jaman kang akeh rubeda iki eong kang nduweni budi kang luhur ora kanggo. Samoro uga yen awake dhewe nliti, apa gunane precaya kabar kang durung genah dununge, mung bakal nyusahake ati wae. Luwih becik gawe karya –karya bab crita ing jaman dhisik wae.

Gawe karya bab crita ing jaman dhisik kuwi bisa dadi tuladha-tuladha saka crita jaman dhisik, crita kuwi nengenake bab panguripan kang bisa ngedemake ati, pungkasane bisa nrima marang kuwasaning Gusti, kabeh mau dijalari amarga nandhang kadadean ala kang ora ana rampunge.

Urip ing jaman edan, pancen abot, arep melu ora tegel , ananging yen ora melu ora entuk apa-apa, pungkasane bisa nrima marang kuwasaning Gusti, kabeh mau dijalari marga nandhang kadadean ala kang ora rampunge.

Urip ing jaman edan, pancen abot, arep melu ora tegel, ananging yen ora melu ora entuk apa-apa,  pungkasane mung ndadekake kaliren. Nanging iku kabeh wis dadi kersane Gusti , sabegja-sabegja wong lali , isih luwih begja wong kang eling lan waspada marang gusti

Kabeh kuwi sejatine amarga kepinginane ati, bener ta, pancen bener yen ana sing  ngarani kaya ngene, nanging sadjroning batin morat-marit. Wis tuwa are papa, apa meneh sing digoleki, luwih becik nyedak marang Gusti  wis pikantsti.

Beda maneh kanggo wong sing wis santosa, kang  rahmat saika Gusti , kepiye wae nasibe bakal apik, ora perlu angel-angel ngupaya. Saka kaluwihan pangeran bisa menehi pitulung, merga prentahe, wujud apa wae kang didhawuhake , mesthi kudu dibarengi ikhtar.

 

E. Andharaning Analisis Serat Kalatidha Babagan  Terjemahan

Terjemahan inggih menika nggantos basa satunggal dados basa sanesipun, utawi menawi basa sumber dhateng basa sasaran. Ancasipun inggih menika supados masarakat ingkang boten mangertosi basa naskah utawi basa teks asli, lajeng saged kathah ingkang mangertos. Terjemahan teks manggala menika nginakaken terjemahan ingkang wujudipun paragraf, menawi saking asli parafrase.

Terjemahan teks serat kalatidha :

Sang Pujangga mengingatkan bahwa keluarganya hawa nafsu dan halangan bisa dinobati dengan mengasah pikiran dan jangan hanya menuruti keinginan diri, supaya lepas dari pengaruh gaib, semua itu pertanda bahwa sudah ruwet dan halangan itu sudah muncul, jadi sang Hyang Widdi sudah mengeluarkan kekuasannya, sehingga dunia menjadi hancur.

Keadaan Negara waktu sekarang ,  sudah semakin rusak. Tatanan mengenai sopan santun dalam bertindak sudah tidak dianut lagi, karena  sudah tidak ada lagi yang dijadikan contoh tentang tatacara berbahasa. Semua terpengaruh akan keindahan yang sebenarnya menyesatkan. Pada akhirnya semua itu akan menjadikan halangan.

Sebenarnya raja termasuk raja yang baik, patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menyiptakan kebaikan, oleh karena adanya jaman kalla bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan semakin  menjadi-jadi . setiap orang memiliki pikiran dan penemuanya masing-masing.

Waktu itulah perasaan sang pujangga menangis , penuh kesedihan, mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang. Tampak orang tersebut member harapan menghibur Sang Pujangga menjadi gembira. Akan tetapi kegembiraan itu membuat sang pujangga menjadi kurang waspada.

Persoalanya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, bahkan tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Sebenarnya bila direnungkan kalah, apa sih gunanya menjadi pemimpin/pemuka??. Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. Lebih-lebih bila lupa diri, yang hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan .

Menurut buku Panitisan (Ahli Sastra ), sebenarnya sudah ad peringatan. Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan  ini, orang yang berbudi tidak terpakai. Demikian jika kita teliti . apakah gunanya menyakini kabar angin  yang akibatnya  hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya  kisah jaman dahulu.

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, yang berfungsi unruk membendingkan perbuatan yang salah dan benar. Sebenarnya banyak sekali contoh-contoh dalam kisah lama, mengenahi kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya menerima dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Segalanya  itu menghalangi kejadian yang aneh-aneh.

Hidup dijaman yang edan, memang repot. Akan tetapi  mau mengikuti   tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti tidak akan mandapatkan apapun. Akhirnya dapat derita kelaparan . namun lebih bahagia lagi senantiasa ingan waspada,

Segalanya itu sebenarnya  dikarenakan keinginan hati. Benar bukan ?  Memang benar kalaau ada yang mengatakan demikian. Namun sebenarnya didalam hati repot juga . sekarang sudah tua apalagi yang dicari. Lebih baik mendekatkan diri agar mendapatkan ampunan dari tuhan.

Lain lagi bagi yang imanya sudah kuat. Mereka sudah mendapat rahmat dari Tuhan. Bagaimanapun nasibya  selalu baik tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugrah. Namun deikian  mereka harus tetap berihktiyar.

 

F. Mbedah Isi Teks

Mbedah isi teks inggih menika analisis teks ingkang dipun gayutaken kaliyan babagan ilmu basa, sastra, lan budaya. Makalah menika badhe mbedah isining serat kalathidha.

Dhipun tingali saking basanipun, serat kalathidha ngginakaken basa jawa gagarak anyar. Serat menika kathah nginakaken tembung-tembung seserapan saking basa Arab lan Kawi. Tembung serapan saking basa Arab  tuladhanipun : Ihtiyar, Allah, Rasulullah, alam, awal akhir. Tembung serapan saking basa jawa kawi tuladanipun: ulun, tuwan, tarlen, sanitiyasa, tyas, sapu-dhendha, antuk, mesi.

Dipun tinngali saking babagan sastra, seret menika awujud sekar macapat inggih menika sinom. Titikanipun : 8a,8i,8a,8i,7i,8u,7a,8i,12a. pada sepisan ingkang makalah menika mboten trep kaliyan titikanipun sekar sinom, amargi gatra kaping 8 ingkang kedahipun guru wilangan kaliyan guru lagunipun 8i dipun serat 6i. tembung-tembung ingkang dipun ginakaken ugi tembung ingkang endah, antawisipun: aru-ara, sapu dhendha , mati sadjroning ngaurip, lan sapanunggalipun.

Dipun tingali saking babagan budaya, serat menika dipunserat ing lingkungan jawa-islam , amargi kathah nginakaken tembungserapan saking basa arab. Wosipun serat menika piwulang kangge gesang ingkang saestu, budi ingkang luhur, sarta emut marang Gusti ingkang maha kuwaos. Salajengipun tiyang  menika kedah pasrah dhateng panguwaosipun Gusti Ingkang Maha Kuwaos

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANUTUP

A. Dudutan

  • Serat kalathida menika awujud sekar macapat . serat kalathidha menika awujud sekar sinom
  • Serat menika ngrembag babagan piwulang kangge titianipun tiyang gesang.
  • Dipun tingali saking babagan sastra pada kapisan serat Kalathida ing makalah menika boten trep kaliyan titikan panyeratipun sekar macapat utaminipun sinom.

B. Pamrayogi

Sawijining karya sastra, mesthinipun gadhan ancas saking pangripta lajeng damel karyasastra menika . serat menika minangka salah satunggaling asil sastra ingg jamaipun ugi gadah  ancas  dipunripta serat  kasebat. Ranggawarsita minangka pangripta ngandharaken kahanan ing salebeting  jaman ingkang sinebat jaman edan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KAKAWIN AGUNG ARJUNA WIWAHA


 

Bagian Pertama: Penulisan Kakawin

Ini adalah Arjunawiwaha, yaitu kakawin yang suci dan indah, hasil karya Pujangga Kawi Empu Kanwa, yang telah mengikat cerita (sampun keketan ing katha), bagaikan menguntai permata, dan merangkai sajak (angiket bhasa rudita), seperti merangkai ikatan bunga (angiket sekar taji). Semuanya dituliskan pada papan, rapi, berupa goresan  (rinekaken munggw ing wiletanan aradin warna cacahan), sebagai hasil karya pujangga agung yang telah menyusun, dan menghasilkan kidung bersyair (tumatametu-metu kakawin), yang keluar dari puncak budi  (tungtung ing hidep), dan keluar dari batu-tulis (tungtung ing tanah). Maka kakawin ini adalah karya-sastra agung yang dipersembahkan bagi Sri Paduka Raja, yaitu sebagaimana disebutkan … “Sembah  kehadapan  Sri Airlangga. Dia yang dipuja sampai patah batu-tulis, memberi restu” (Sri Airlanggha namastu sang panikelanya tanah anumata).

Sang Pujangga Kawi menggalang  keindahan dengan  kiasaan  kata yang mengungkapan kiasan (alamkara), dan hiasan permainan kata dengan bunyi yang rumit (sabdalamkara), serta hiasan permainan arti yang menyarankan makna berganda (arthalamkara). Ia membukanya dengan pujaan (asir, manggala), diikuti rangkaian satuan kisah yang terdiri dari perundingan (mantra), utusan (duta), keberangkatan pasukan  (prayana), pertempuran (aji), dan kemenangan Sang Pahlawan (nayaka bhyudaya). Dibubuhkannya lukisan alam pegunungan (saila), laut (arnawa),  dan  kota (nagara), berikut gambaran musim (rtu), dan terbitnya bulan (candrodaya), ketika berlangsung permainan di taman  (udyanakrida) dan di air (salilakrida). Diungkapkannya pula ajaran tentang kewajiban hidup (dharmasastra) dan kesejahteraan hidup (arthasastra).  Kemudian diutarakannya adegan percintaan, yang dipenuhi dengan rasa asmara (srngararasa), ulah cinta penuh kesenangan (sambhogasrngara), dan kesedihan karena perpisahan atau penolakan (vipralambha), yang diakhiri dengan keadaan yang menyenangkan (rdhimat). Adapun di dalam menulis diramunya pembukaan (mukha), yang mengandung benih cerita (bija), diikuti dengan pembukaan kembali (pratimukha), perkembangan yang menjadi kandungan cerita (garbha),  pertimbangan  (vimarsa), untuk menyingkirkan halangan (avamarsa), dan kesimpulan cerita (nirvahana). Maka itulah yang disebut kelima sendi (panca-sandhi) dalam wiracarita berbentuk  kakawin.

Dibangunnya pula jalinan cita-rasa (rasa) dan perasaan (sthayibhava), yaitu asmara (srngara) dan cinta (rati), kelucuan (hasya), dan kejenakaan (hasa),  belas-kasihan (karuna) dan kesedihan (soka), keganasan (raudra), dan kemarahan (krodha),  kepahlawanan (vira) dan keteguhan (utsaha), kekuatiran (bhayanaka ) dan ketakutan (bhaya), kengerian (bibhatsa) dan kemuakan (jugupsa), serta  ketakjuban (adbhuta) dan keheranan (vismaya). Sehingga akhirnya tercapailah kedamaian (santa) dan ketenangan (sama), yang bergaya semesta, mengatasi ruang (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra), serta menjangkau kepada tingkat kesadaran tertinggi. Itulah rasa  damai-bahagia (santosa), yaitu kebahagiaan yang tertinggi (paramasukha), karena merupakan kebahagiaan yang tak mungkin kembali menjadi duka (sukha tan pabalik dukha).

Demikan pula Sang Pujangga Kawi kemudian memuja cahaya keindahan yang asali (istadewata), dalam rangka memohon pertolongan dan menyatu dengannya (dewasraya). Karena ia ingin menjadi tunas keindahan (alung-lango), yang akan menciptakan keindahan (kalangwan), sebagai tempat persemayaman, yaitu tempat yang dipuja (candi). Maka karyanya itulah pula yang akan menjadi bekal kematiannya (silunglung), dalam rangka mencapai kelepasan (moksa). Sumber keindahan itupun  turunlah, dari alam  niskala  memasuki alam sakala-niskala, bersemayam di atas padma (munggw ing sarasiya) di dalam hati dan jiwa Sang Pujangga Kawi (twas, jnana, hidep, tutur). Melalui kawi-yoga menyatulah sumber keindahan di alam niskala dengan kekaguman di lubuk-hati Sang Pujangga Kawi yang memancarkan keindahan. Di dalam keanekaan-ragaman kini ia melihat hakekat yang satu. Iapun mengembara untuk menyaksikan keindahan pada alam kehidupan seraya menjalankan tapa-brata (abrata).  Maka terbayanglah keindahan di mana-mana, yaitu keindahan yang akan dituangkan dalam karya sastra kakawin. Sang Pujangga Kawi pun tenggelam dalam keindahan alam, dan sekaligus menyatu dengan keindahan yang mutlak, di kala ia telah mampu untuk mengatasi berbagai godaan dan cobaan. Ditemukannya sumber kidung bersyair yang berada di dalam dirinya, yaitu pada ujung pemusatan pikiran (dhyana), yang menuju kepada tataran keheningan (samadhi). Maka ditulisnyalah Kakawin Arjunawiwaha, yang memuja kebajikan (yasa), sebagai buah-usaha pujangga yang berbuat jasa (yasa), dan menjadi sebuah tanda peringatan (yasa). Bagaikan sebuah candi dengan prasasti yang mengabadikan baik kebajikan dari yang dipuja maupun ke-bakti-an dari yang memuja.

Demikianlah Kakawin Arjunawiwaha kemudian menjadi jalan perenungan (sadhana), yang dapat dibaca (amaca) maupun dilagukan (angidung). Ketiga-puluh enam pupuh dalam kakawin menjadi tingkat-tingkat kesadaran yang sarat dengan gelombang rasa rokhani. Maka ketiga rasa yang utama, yaitu yang dijumpai dalam suasana pertapaan (santa), pertempuran (vira), dan percintaan (srngara), muncul secara bergantian untuk akhirnya bertemu dalam kesatuan rasa. Kesemuanya itu membawa pembaca dan pendengar kakawin, untuk beralih dari alam sakala kepada alam sakala-niskala. Maka haruslah semua yang membacanya menghadapi dan mengatasi tabir yang menyelubungi kesejatian makna (maya). Karena di dalam keindahan itupun terdapat godaan dan cobaan, yang membangkitkan gelora perasaan raga-jasmani, yaitu keadaan yang harus dilepaskan dalam rangka tercapainya hakekat rasa sejati. Selanjutnya dengan melakukan pembacaan berulang-kali akan terjadilah penggandaan buah-pikiran, yang bergerak menuju kepada satu pengertian. Sehingga pada saat alunan suara kidung berhenti terdengar, dan keheninganpun turun, tibalah jiwa pada keadaan yang mutlak. Sesungguhnya daya-cipta dalam diri Sang Pujangga Kawi menggambarkan kekuatan (sakti) yang berasal dari Hyang Batara Agung. Sedangkan kakawinnya melambangkan dunia yang telah tercipta (maya), yang penggubahannya itu menunjuk kepada kejadian penciptaan (lila). Karena itulah pembacanyapun diharapkan ikut bermain (lila), dengan menggumuli kakawin (maya), dalam rangka menemukan  makna dan daya yang sejati (sakti).

Maka barang siapa membaca Arjunawiwaha sebagai kakawin yang suci, ia akan dapat merasakan kebesaran Arjuna. Seperti Ksatria Pandawa itu ia akan dapat menghayati hukum semesta yang menjadi kewajiban hidupnya (dharma). Begitu pula ia akan terpanggil untuk ikut memulihkan ketertiban dunia dalam rangka memperjuangkan kesejahteraan hidup (artha). Sehingga iapun akan menerima pahala, yaitu kemuliaan dan kenikmatan hidup (kama).  Maka didalam segala-sesuatu yang diperbuatnya itu ia akan tetap berada pada jalan kelepasan hidup (moksa), karena itulah tujuan  jangka-panjang kehidupannya.  Sebagaimana tertulis … “Perihal dharma ksatria, jasa dan kebajikanlah yang dipentingkan. Namun demikian, dalam keyakinan berkesimpulan pula mencapai moksa …” (kunang yan dharma ksatria yasa wa lawan wirya linewih, yaya wwat ring gegwan makaputusa sanghyang kelepasan). Maka iapun akan menjadi seperti Arjuna yang  memperoleh  kejayaan di mana-mana.

[Back]

Bagian  kedua: Pembacaan Kakawin

(Mukha)/(1.4-1.5): Sebagai sebuah wiracarita yang telah disusun di atas pemahaman rasa dan yoga, Kakawin Arjunawiwaha adalah sebuah kidung bersyair tentang ke-jaya-an  Arjuna di Kahyangan (kawijayan partha ring kahyangan). Pada permulaan kakawin ia ditampilkan sebagai calon pahlawan (nayaka), yang akan menghadapi lawannya pahlawan (pratinayaka). Maka Arjuna itu adalah seorang ksatria yang perkasa dan  seorang yogi yang berbudi. Ia adalah seorang pahlawan (sang nayaka), yang telah mencapai hakekat yang tertinggi (sang paramarthapandita). Di dalam berbagai penampilan watak, sikap, dan tindakannya sebagai seorang ksatria, dapat ditemukan rasa keperwiraan (virarasa), yang sempurna dan utuh. Akan tetapi melalui yoga dan tapa yang dijalankan secara bertahap, munculah pula rasa kedamaian (santarasa), yang memancar dari seorang yogi. Keadaan itu sangatlah berbeda dengan pembawaan Sang Niwatakawaca, raksasa sakti, yang justru masih sangat terjajah oleh hawa napsu keangkara-murkaan. Dalam keangkuhan dan kesombongan dirinya Sang Pratinayaka berniat untuk menghancurkan kahyangan  Dewa Indra dan menundukkan para dewa.

(Pratimukha)/(1.6-VI.9): Karena  kesulitan yang dihadapinya Indra membutuhkan pertolongan Arjuna. Akan tetapi kemampuan dan niat ksatria penengah Pandawa itu masih diragukannya. Maka diutuslah ketujuh bidadari (widyadhari), yang kecantikannya tak tertandingi, untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun demikian oleh karena di dalam tapanya Arjuna telah berhasil mencapai  keteguhan-hati (dhira),  maka  tidaklah ia terganggu oleh godaan para apsari yang jelita itu. Bahkan akhirnya mereka terpaksa kembali ke kahyangan dewata dalam kesedihan dan kerinduan yang mendalam, meninggalkan Arjuna yang berdiam dalam keheningan batin yang sempurna. etika itulah para dewa di kahyangan bersuka-cita, bahkan ada yang menghaturkan sembah  penghormatan kearah Indrakila. Kini telah ditemukan seorang  ksatria pahlawan yang akan membela kelestarian kahyangan dewata. Akan tetapi  Arjuna masih harus diuji, apakah ia seorang ksatria yang menjalankan tapa, ataukah ia seorang resi yang ingin menanggalkan keduniawian. Maka datanglah Indra dengan menyamar sebagai seorang resi tua untuk memperolok-olokkan dan menggugah rasa ke-ksatria-an Arjuna. Menghadapi ujian Indra nampaklah keteguhan dan ketetapan hatinya untuk memegang dharma ksatria, yang mementingkan jasa dan kebajikan (yasa lawan wirya). Karena kebaktian dan cinta-kasihnya (bakti lawan asih), kepada kakanda Sang Dharmaputra (Yudhistira Shri Dharmaatmaja), Arjunapun bertapa dengan tekun. Karena cita-citanya adalah untuk menjadi jaya dan berkuasa di dunia (digjaya wijaya). Serta hendak berbuat jasa memelihara seluruh dunia dan berbuat baik kepada sesama (mahaywang rat lawan kaparahitan). Demi cita-citanya itu ia berani menghadapi apa saja, bahkan hingga mati sekalipun. Kini keraguan Indra menjadi sirna, karena telah ditemukannya seorang ksatria berbudi-luhur yang akan mampu untuk menghadapi Sang Niwatakawaca. Dipujinya Arjuna sebagai ksatria yang berjalan mantap dan teguh dalam membina kehormatan (manadhana) dirinya dengan tepat. Akan tetapi Arjuna masih harus bertapa dalam rangka meneruskan usahanya untuk memperoleh anugerah Hyang Batara Agung. Karena tidak lama lagi keindahan Tuhan (Sang Hyang Hayu) akan datang kepadanya. Maka Arjunapun meningkatkan usahanya (prih), dengan tidak berlengah-lengah  (tan upir-upir).

(Garbha)/(VII.1-XII.14): Kini tanda-tanda keberhasilan mulai terlihat. Arjuna yang selalu bersikap waspada, tampak penuh kesiap – siagaan (yatna), ketika menghadapi cobaan Sang Mamangmurka. Ditewaskannya raksasa utusan Niwatakawaca, yang telah menjelma sebagai babi-hutan yang ganas, dengan bidikan panahnya. Bersama dengan itu  panah Ksatria Kirata juga menghujam tubuh babi hutan itu. Karena ingin menunjukkan keperwiraannya Arjuna bersikap tak hendak mengalah kepada Sang Kirata. Dengan berani ia melayani tantangan ksatria asing yang merendahkannya dengan kata-kata yang menghina. Karena merasa kehormatan dirinya diganggu Arjunapun menjadi marah (krodha). Kata-kata Ksatria Pandawa itu tandas, tetapi tidak tergesa-gesa (sahuriratereh tar agya). Serangan  Sang Kirata dan  pengiringnya  ditangkis dengan  teguh (khadhiran), dengan dahsyat (katara) Arjuna melakukan perang-tanding, dan dengan penuh kewaspadaan (saprayatna) ia membalas serangan senjata Sang Kirata.Arjuna bergulat dengan Sang Kirata dengan amat tangguh, hingga ketopongnya pecah  dengan disertai  berhamburannya  ratna. Ia  berkelahi dengan penuh siasat  (cidra), erat dipeluknya kaki Ksatria Sang Kirata itu, yang telah memukulnya hingga tersungkur ketanah. Tiba-tiba sirnalah Sang Kirata, berganti rupa menjadi Sang Hyang Siwarudra. Maka Arjuna bersujud menyembah dan memuja Hakekat Tertinggi dalam penampakkanNya itu. Karena ketulusannya kemudian diterimanya anugerah keempat kesaktian (cadusakti). Juga busur, ketopong, dan baju zirah (laras makuta lawan kawaca). Diterimanya ajaran suci berupa ilmu keakhlian memanah (aji dhanurdharasastra). Setelah Sang Hyang Batara Agung berlalu, Arjuna Sang Dhananjaya merasa amat berbahagia, atas anugerah yang telah diterimanya. Disambutnya utusan Indra yang kemudian datang untuk mengundangnya ke kahyangan, supaya segera memberi pertolongan dalam rangka menghadapi ancaman Sang Niwatakawaca. Akan tetapi karena kerendahan hatinya Arjuna hanya terdiam ketika dianggap  berkeunggulan  dan  berkemampuan tinggi (mawirya lawan maguna).

(Vimarsa)/(XIII.1 – XXI.7): Sesungguhnya Indra memandang Arjuna sebagai penolong orang yang tak berpelindung (kshatriya), yang jaya di mana-mana (sarananing anatha digjaya). Maka dalam persidangan para dewa ditetapkanlah tugas bagi Arjuna dan Suprabha. Dalam rangka itulah Arjuna menerima latihan dari Sang Wrehaspati untuk menambah kemahirannya dalam mengambil kebijakan yang cermat dan melakukan daya upaya yang tepat. Kemudian berangkatlah Arjuna didampingi Suprabha sebagai penasihat dan pelindungnya menuju ke negeri Ima-Imantaka. Di sanalah Suprabha berpura-pura menyerahkan diri kepada Sang Niwatakawaca, dengan alasan ingin menghindari nasib buruk bilamana Kahyangan ditundukkan kelak. Dengan tipu muslihat (upaya) yang telah dirancangnya bersama Arjuna, penuh kelemah-lembutan yang manja Suprabha melancarkan bujuk-rayunya terhadap raksasa sakti yang sedang kegirangan itu. Sehingga akhirnya diketahuilah  rahasia kesaktian dan jalan kematiannya, yaitu yang berada pada bagian dalam mulutnya. Ketika itulah Arjuna menghancurkan gapura kota dan membuat keonaran di Ima-Imantaka. Sungguh Sang Niwatakawaca terkecoh (kasalib), karena Suprabha lalu melarikan diri bersama Arjuna di tengah kekacauan yang sedang berlangsung. Dalam kemarahan yang menggelora Sang Niwatakawaca segera menyiapkan pasukannya dan berangkat untuk menyerbu Kahyangan Indra. Menyadari hal itu dalam persidangan para dewa, Indrapun memutuskan untuk melawan serangan bala-tentara Ima-Imantaka.

(Nirvahana)/(XXIII.1-XXXVI.2): Indra berangkat bersama pasukan para dewa dan bertempur melawan bala raksasa di lereng gunung Semeru. Ketika barisan para dewa dikalahkan oleh golongan raksasa, Arjuna datang menyerang sebagai penopang- belakang (tulak balakang) bagi mereka yang mundur minta dikasihani. Pada puncak pertempuran itu Arjuna memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), yaitu kutuk balik yang mengakhiri kesaktian Prabu Niwatakawaca. Arjuna sengaja ikut lari dengan berpura-pura kebingungan, hingga membuat raja raksasa yang sakti itu tertawa terbahak-bahak oleh karena kesenangan. Ketika dibidik dengan tomaranya Arjuna sengaja menjepitnya dan berpura-pura terjatuh di keretanya. Niwatakawaca datang berteriak menantang perang sambil tertawa kegirangan. Saat itulah ia terkecoh, terjerat tipu-muslihat (kasalib kabancana), karena tampaklah lidah pada mulut yang terbuka lebar. Maka binasalah raja raksasa yang sakti itu terkena bidikan panah manusia yang sakti pula. Arjuna dan para dewapun kembali ke kahyangan untuk merayakan kemenangan mereka. Akan tetapi ketika para dewa sedang sibuk mempercakapkan tentang perang  yang telah mereka menangkan, Arjuna yang unggul jasanya (sang agunakaya) tidak banyak berbicara (tan jewah) dan tidak pula menunjukkan sikap kegirangan (tan wijah). Kemudian daripada itu Arjunapun menerima pahala kemuliaannya, yaitu ketika ia menjalani upacara penobatannya (abhiseka) sebagai Raja di Kahyangan Indraloka, dan  melaksanakan  pernikahannya (wiwaha)  dengan ketujuh bidadari (widyadhari)  yang  utama. Arjuna, yang telah menang perang (amenang ing rananggana), dan dahulu telah mengatasi godaan para apsari jelita, kini mengalah untuk melayani mereka, karena ingin membahagiakan sesamanya (parartha). Maka setelah berada di kahyangan dewata selama tujuh purnama, yaitu sesuai dengan batasan waktu yang telah ditetapkan baginya, kembalilah Arjuna ke alam marcapada untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya. Kemudian daripada itu Arjunapun mengalami kemenangan di mana-mana (digwijaya).

[Back]

Bagian Ketiga:  Pemahaman  Kakawin

Adapun tujuan penulisan Kakawin Arjunawiwaha itu adalah dalam rangka menghadapi karya perang (angharep samarakarya), yaitu persiapan perang Sri Airlangga yang sedang  berusaha mempersatukan Nusantara-Jawadwipa (1028-1035). Karena itu  bukanlah  dewata pilihan (istadewata) yang dipuja di dalam karya agung ini, melainkan Ksatria Arjuna sebagai gambaran Sang Prabu sendiri. Persatuannya dengan Sang Hyang Sakti diharapkan untuk dapat menjadi terwujud melalui gambaran Arjunawiwaha, yaitu pernikahan Sang Panduputra dengan ketujuh bidadari. Supaya diperolehnya kemenangan sebagaimana dilukiskan dalam kejayaan Arjuna di Kahyangan (kawijayan sang partha ring kahyangan). Maka dengan kakawin yang ditulisnya itulah Sang Pujangga Kawi mengiringkan Sang Raja (mangiring i haji), yaitu mengiringkannya dengan ilmu dan mantra  (mangiring ing aji), agar berjayalah ia di dalam perjuangannya yang luhur itu.

Adapun Arjuna itu adalah seorang ksatria pahlawan (sang nayaka), dan seorang yogi  yang tahu akan Hakekat Tertinggi (sang paramarthapandita), karena ia telah  menghayati kesuwungan (sunyata). Sebagai seorang ksatria ia mengusahakan sempurnanya jasa dan kebajikan (yasa lawan wirya), dan mengusahakan kebahagiaan seluruh dunia (sukhaningrat), dalam keunggulan dan kepahlawanannya. Sedangkan sebagai seorang yogi ia tidak dicemari oleh napsu kelima indera (tan sangkeng wisaya). Namun demikian sebagai seorang ksatria yang harus membina kesejahteraan dunia, seolah-olah saja ia menyambut yang duniawi (lwir sanggraheng lokika). Maka oleh karena kewajiban hidupnya (dharma), walaupun ia mengalami rasa damai dan bahagia dalam persatuan dengan Tuhan yang disembahnya (santosa), ia rela tetap tersekat tabir kemayaan (aheletan kelir), yang memisahkannya dari Sang Pencipta Dunia (sanghyang jagatkarana). Itulah sikap, pembawaan, dan tindakan (ambek) tokoh pahlawan                     (sang nayaka), yang telah memperoleh kejayaan di kahyangan (kawijayan ring kahyangan). Kemenangan ini berhubungan dengan pertolongan yang telah ia berikan kepada kahyangan dewata, yang sedang terancam oleh kejahatan  Sang Niwatakawaca. Maka pada benih cerita (bija) inilah tersirat semangat keperwiraan (virarasa) dan sekaligus suasana kedamaian (santarasa), yang memancar dari dalam kehidupannya.

Maka sebagai lawan dari sang pahlawan (pratinayaka) adalah Sang Prabu Niwatakawaca. Seorang raksasa (daitya) sakti yang berkuasa, bermegah, dan berjaya di mana-mana di seluruh dunia (akhyating jagad digjaya). Seorang pertapa (atapa) yang  dianugerahi  kesaktian dan keunggulan (warawirya). Berkat yoga dan tapanya iapun mencapai maksudnya (krta-krtya), yaitu tidak  akan  mati di tangan dewa, yaksa, asura, dan denawa. Karena pembatasnya hanyalah seorang manusia sakti (manusa sakti). Maka dari Sanghyang Siwarudra sendirilah Sang Niwatakawaca telah memperoleh anugerah berupa kekuasaan atas ketiga dunia (bhuh swargadi, jagad raya). Karena memuja Bhatara Bhirawa iapun mendapat kesaktian batin (siddhi), kebal tak dapat dicincang (achedya), tak apat dibunuh (amarana), dan memiliki delapan kemampuan (astaguna). Akan tetapi itu semua merupakan kesia-siaan (wiyartha), karena ia terbelenggu oleh napsu (raga), yang membawa kehancuran (hala ). Maka seperti utusannya, Sang Mamangmurka, yang menjelma menjadi babi hutan (wok, wraha), demikian pula Sang Niwatakawaca adalah makhluk (pasu) yang terikat (pasa) oleh kesemuan dunia (maya). Dalam keangkaraannya ia ingin menghancurkan kahyangan (swargaloka), menundukan Bhatara Indra (dewaraya), dan merebut Suprabha (sri sakti). Maka kegagalannya untuk memperoleh Suprabha itu diakibatkan oleh keangkaraan napsu (rajah) dan kegelapan batin (tamas) yang menyelimuti jiwanya. Karena gelora asmara yang membara ia tidak tahan terhadap bujuk rayu Suprabha, sehingga terpancinglah keluar (kahuwan) rahasia ke-sakti-annya, yaitu kelemahan yang terdapat  di ujung  lidahnya (jihwagra). Karena tidak waspada (yatna), terhadap manusia sakti, sehingga terkecoh dan tertipu (kasalib kabancana) oleh muslihat (upaya) Arjuna. Maka Sang Niwatakawaca, yang telah memojokkan Indra dalam kesulitan bahaya (durniti lawan bhaya), akhirnya mengalami kehancuran.

Kepada manusia sakti, yang akan dapat mengalahkan Sang Niwatakawaca, Indrapun berpaling. Ingin menjadikannya sekutu, teman, dan pembantu (sahaya), dalam rangka menghadapi musuh (satru). Dialah Arjuna, seorang yogi yang bertapa (atapa), dan ksatria yang bercita-cita untuk menang dalam perang (asadhyajaya ring rana). Akan tetapi hanyalah tapa seorang raja yogi (yogiswara) yang dapat memberikan karunia (wara) dan anugerah (krtanugraha). Bilamana tapanya masih dipengaruhi oleh  keinginan rendah (rajah) dan kebutaan akal (tamas), kesaktian yang diperolehnya  hanya akan menjadi sumber kehancuran bagi dirinya dan penderitaan bagi orang lain. Sesungguhnya manusia sakti yang dicari Indra adalah seorang ksatria yang tekun memuja Sang Hakekat Tertinggi (siwasmrti), sampai memperoleh anugerah (sraddha) daripadaNya. Seorang ksatria yang batinnya terbebas dari jaringan napsu kelima indera (nirwisaya), sehingga berada dalam keadaan   hening-jernih (alilang), bebas-lepas (huwa-huwa), dan bahagia-baka (sukha-dhyatmika). Maka Arjuna itulah manusia sakti (manusa sakti, wwang sakti), yang diminta bantuannya oleh Indra untuk  membela kahyangan dewata dari ancaman bahaya.

Karena sesungguhnya Arjuna telah mencapai keheningan batin yang sempurna (anasrayasamadhi), hingga mengalami keterlelapan diri (lina), yaitu memasuki suasana terlenyap dan terserap kedalam kekosongan (sunyata), yang kenikmatannya tak terlukiskan. Ketika itulah ia mengenakan keadaan yang bertubuh halus (ng sukmarira), berwujud baka (apinda niskala), dan berhakikat baka (asari niskala). Ia mengalami pencerahan rokhani (jnanawisesa), yang memberi kebahagiaan jauh melebihi kenikmatan bersenggama (sukhaning samagama). Sesungguhnya itulah kebahagiaan tertinggi yang mustahil untuk dibayangkan (ng paramasukha luput linaksana). Maka ketika berhadapan dengan para bidadari iapun tidak tergoda (niskalangka), tidak tergoyahkan (tan wikalpa), tidak terkeruh  kejernihannya (hening), karena telah mencapai tingkat keheningan batin yang cenderung tidak lagi memilah-milah di antara berbagai keadaan (nirwikalpa). Demikian pula ketika menghadapi cobaan jerat Sang Indra (bancana indrajala), yang membawa kegelapan batin (tamas), menimbulkan kebingungan akal (moha), dan melahirkan ketidak-tahuan (ajnana). Godaan ke-maya-an itupun  dihadapi dan diatasinya dengan berhasil.  Maka luluslah  Arjuna dalam ujian dewata, karena dalam keteguhannya untuk menemukan hakekat yang sejati,  ia tidaklah ragu untuk menjalankan kewajiban hidup (dharma)nya sebagai ksatria. Dijangkaunya keadaan yang mutlak tanpa melepaskan kejadian dunia yang semu (maya), yaitu permainan (lila) para  dewata. Bahkan di dalam ke-maya-an hidup itulah Arjuna menemukan kehidupan sejati. Maka bersabdalah Indra bahwa akan datang penampakan suci yang indah itu (sanghyang hayu).

Setelah masak yoganya (atasak yoganira), Arjunapun menjadi manusia berwatak dewata (manusa dibya). Ia telah mematahkan belenggu ke-maya-an, yaitu godaan bidadari, cobaan Indra, gangguan Mamangmurka, dan kemudian tantangan Sang Kirata. Melalui pergulatannya dengan Ksatria Kirata pahlawan Arjuna memasuki pergumulan batin di  alam keheningan. Dalam keteguhan hatinya Arjuna memuja Siwamurti sebagai Rudra, dan Aditya (suryasewana), serta Sang Hyang Hayu. Ia diliputi api yang menghanguskan (gumeseng), tetapi telah ditawarkan (kunda nisprabha), maka membawa keselamatan bagi dirinya. Api yang suci meresapi dirinya, sehingga iapun mengenakan cahaya (prabha) dan kecermerlangan (teja), bagaikan bulan purnama (sasangka purnama, sasiwimba). Ketujuh bidadari, yaitu daya-sakti yang bersemayam dalam ketujuh lidah  api, menyatu dengan dirinya. Di antaranya adalah dua yang utama (rwekang adi), yaitu Sang Kecermerlangan (Suprabha) berupa api, yang bernyala bersama  Sang Biji-bijian utama (Tilottama), yang  ditaburkan ke dalam api. Maka dalam samadhi-yoga, Suprabha itu adalah api yang naik di dalam tubuh untuk membakar semua racun (wisa) dan menghasilkan air kehidupan (tirta amrta), seperti halnya Sri Maha Nilakantha (siwamurti) mereguk racun yang menyertai keluarnya air kehidupan  pada pengadukan laut susu  (udadhimanthana). Api sakti  (suprabha) itu naik bersama naiknya daya biji-bijian utama (tilottama), dari ucapan mantra (bijaksara), hingga tembus di ujung kepala. Maka pecahnya ketopong Arjuna (rukuh ira remuk), yang disertai berhamburannya bunga permata (ratna), menunjukkan terjadinya pencerahan rokhani. Arjuna memeluk kaki Ksatria Kirata (jong sang hyang) melambangkan upacara untuk menurunkan dewata (dewapratistha), yang disertai dengan penerapan mantra pada setiap bagian tubuh (nyasa). Maka Sang Pencipta Dunia berkenan untuk hadir dalam rupa pria-wanita (ardhanariswara), yaitu kesatuan Siwa-Sakti, yang bersemayam di atas singgasana teratai manikam (padmasana mani).

Sungguh mahir Arjuna dalam memuja dewata (nipuna ring dewopacarana) dan benar ia tahu akan pujaan singkat untuk kemanunggalan rasa (sang siptapuja). Arjuna menyembah Sang Hyang Rudra dengan sikap tangan yang sempurna, mantra puncak yang selaras, dan pengheningan cipta tanpa bernoda (mudramwang kutamantra smrti wimala), yaitu mantra pemujaan (pujamantra), yang diucapkan dalam upacara penyembahan bunga (Puspanjali). Adapun ucapan sembahnya (uccarana) itu bermula dengan mantra suci triaksara (AUM), dan memuncak pada persatuan dengan Siwa Hakekat Tertinggi, yang kini tak berkelir tabir pemisah lagi (paramarthasiwatmanirawarana). Sesuai dengan paham Tantrayana dalam penyembahan itu disatukanlah ketiga sisi dari pengucapan mantra, yaitu suara keheningan (sabda), hembusan kehidupan (bayu), dan semangat kesadaran (hidep). Maka naiklah mantra yang suci (AUM), melalui kedua-belas tingkat keheningan diri (samadhi), yaitu kedua-belas tingkat kesadaran jiwa (ang, ung, mang, bindu, ardhacandra, nirodhika, nada, nadanta, sakti, vyapini, samana, unmana). Pada tingkat kesepuluh tercapailah daya yang meresapi (wyapi-wyapaka). Lalu pada tingkat kesebelas tercapailah keseimbangan sempurna dari segala daya (samana), di mana sang yogi mencapai ketenangan sempurna (sama). Akhirnya pada tingkat kedua-belas tercapailah keadaan yang mengatasi pikiran (unmana), di mana sang yogi menghayati ke-suwung-an (sunyata), dan masuk kealam yang mutlak (niskala). Maka pada peristiwa inilah Arjuna menerima anugerah berupa panah Pasupati (pasupatisastraka), yaitu keempat kesaktian (cadu sakti), yang keluar dari tangan Tuhan (sang iswara) dalam bentuk api. Setelah Hyang Batara sirna dari pemandangan (suksma), Arjuna merasa seolah-olah ia bukan dari dunia ini (rasa tan irat), karena seakan-seakan ia berganti tubuh, bahagia tak mungkin kembali duka (kadi maslin sarira, sukha tan pabalik prihati … sukha tan pabalik dukha).

Demikianlah Arjuna kemudian berlaga melawan Sang Niwatakawaca. Dalam suatu pertempuran ke-sakti-an di mana kekuatan kebajikan (dharma) berperang melawan kekuatan kejahatan (adharma). Arjuna berjuang untuk mengatasi kesaktian dan kekuatan gaib (siddhi). Digunakannya senjata-senjata Astramantra, yaitu Sanghyang Pasupatastramantra, Sanghyang Tripuranta Kagnisara, dan Sanghyang Naracasastra Sarirabandhana.  Maka itulah mantra (astramantra), yang dilepaskan dengan gerakan mudra (naracamudra), untuk membunuh musuh, sambil melindungi tubuh (sarira), dan mengikat  kekuatan  beragam pada alam-semesta (digbandhana). Arjuna berhasil membunuh Sang Niwatakawaca, setelah memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), dan mengenakan ilmu gaib perihal kutuk balik (suksmajnananing antasapa). Maka karena terjerat dan terkecoh oleh tipu-muslihat (kasalib kabancana), Prabu Niwatakawaca  akhirnya mati (pejah) oleh panah-api (agnisara). Dengan turunnya kutuk akhir, yaitu kutukan balik (antasapa pralina), melalui Arjuna, Bhatara Siwa bertindak untuk mengakhiri anugerah (wekas ingkang anugraha), berupa kesaktian yang telah diberi kepada Sang  Niwatakawaca, dan menyerapnya  kembali kedalam diriNya.

Dahulu Arjuna telah memenangkan Dewi Drupadi (Sri Drupadaatmaja), yang mejadi sakti  bagi kerajaan Amarta, yaitu penjelmaan Sri Laksmi, melalui pernikahannya dengan Pandawa (panca rajya).  Kini ia juga telah memenangkan Suprabha, yaitu sakti kerajaan Indra, sebagai kekuatan yang menyatu dengan dirinya. Maka dia yang masih terhitung sebagai putra Indra (sang masih atanaya) pun menjadi layak untuk menjadi raja  kehormatan di Kahyangan Indraloka. Adapun Dewi Suprabha (sri sakti) itu adalah  kekuatan (dayaguna), yang diperebutkan oleh Arjuna (manusa sakti) dan  Niwatakawaca (daitya sakti).  Arjuna adalah ksatria yang berhak untuk mempersunting Suprabha karena ia telah berhasil menyelamatkan kerajaan indra dan memulihkan kebenaran (dharma), sebagai sumber ketertiban alam-semesta. Maka dalam rangka samadhi-yoga penobatan (abhiseka) Arjuna adalah pentahbisan suci (diksa), yang  mempersatukan dirinya dengan Hakekat Tertinggi (Paramarthasiwatwa), dan pernikahan (wiwaha) Arjuna adalah persekutuan cinta (kama), yang mempersatukan dirinya dengan ketujuh daya kehidupan semesta (sri sapta apsari sakti). Karena itulah Arjuna memperoleh kemenangan di  mana-mana (digwijaya).

Demikianlah perjuangan Arjuna, Ksatria Pandawa, yang menjadi sumber keteladanan yang sempurna. Dengan penghayatan akan pencerahan rokhani, kejernihan pikiran, dan kebahagian batin itulah Arjuna mengemban kewajiban hidupnya (dharma) sebagai seorang ksatria. Dalam keyakinannya, walaupun ia tidak menanggalkan tanggung-jawab keduniawian, pada akhirnya ia juga bertujuan untuk mencapai moksa (sanghyang kalepasan), yaitu nirwana yang suwung (nirbanacintya). Sesungguhnya melaksanakan amanat ksatria-yogi itu adalah dengan memasuki alam kesemuan hidup (maya), yang merupakan sulapan permainan (lila) belaka, sebagai keadaan yang menyelubungi kesejatian yang hakiki. Bermain di dalammya tanpa terbawa hanyut dan sekaligus mengatasi segala sesuatu dalam ke-suwung-an. Dengan teguh menjalankan yoga seorang ksatria, yaitu membina kesejahteraan dunia (mahaywang rat). Maka disebutkan pula mengenai  Arjuna dalam kakawinnya  … “Pantaslah ditiru  keberhasilannya mencapai tujuan berkat  keteguhan” (satirun-tirun krtartha sira de ni kadhiran ira) … “Segala yang dikehendaki terlaksana dengan meneladani Sang Panduputra” (sakaharepen kasrada makadarsana pandusuta).

Sang Pujangga Kawi menggubah kakawin tentang Arjuna, yang unggul dalam yoga, dan di dalamnya Arjuna sendiripun menulis kakawin, yaitu seperti dikatakan oleh bidadari Tilottama … “Itulah kesetiaan namanya bagi orang seperti engkau, mengabdi seorang kawi, yang merupakan puncak kesetiaan suami” (yeka satya ngaranya ring kadi kitaniwi kawi wekas ing pati brata). Karena memang sesungguhnya mengabdi Sang Pujangga Kawi adalah sebuah jalan tapa brata, karena dia sendiri adalah puncak tapa-brata. Adalah tokoh Ksatria Arjuna, sebagai gambaran Sri Airlangga, yang kejayaannya layak untuk dituliskan. Dalam keheningan batinnya Sang Pujangga Kawi telah menerima petunjuk suci, yang kemudian diteguhnya di dalam kakawin melalui kata-kata Indra.  Ketika Arjuna berpamitan akan kembali kedunia, Indrapun memahami betapa besarnya rasa ke-bakti-an Arjuna kepada kakak dan ibunya, akan tetapi ia telah menahan Arjuna beberapa lama oleh karena adanya sebuah keinginan yang luhur. Dalam sabdanya Bhatara Indra menetapkan … “Agar indah dilukiskan kejayaanmu oleh Sang Pujangga Kawi di kemudian hari, itulah tujuanku” (rapwan ramya winarnana nikang anagatakawi wijayanta don mami). Demikianlah Arjunawiwaha kemudian digubah untuk menceritakan kebesaran Arjuna sebagai seorang ksatria yang mahir dalam yoga. Dialah Arjuna, Ksatria  Pandawa, yang diagungkan oleh dewata dan  manusia. (1996)

Catatan Pribadi – diambil dari  ARJUNAWIWAHA – transformasi teks jawa  kuna lewat tanggapan dan penciptaan di lingkungan sastra jawa – oleh I. Kuntara Wiryamartana – Duta Wacana University Press, 1990

 

 

Semantik Bahasa Jawa


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar belakang

Bahasa merupakan salah satu sarana manusia untuk berkomunikasi. Dengan bahasa, ntanusia lebih mudah dalam mengungkapkan gasan, ide, pendapat dan semuanya kepada orang lain. Melalui bahasa pula seseorang paham dengan apa yang dinginkan orang lain, sehingga orang tersebut tahu apa yang harus dilakukan atau direspon. Tidak dipungkiri lagi bahasa merupakan sarana penting dalam kehidupan sehari-hari manusia di bumi.

Bahasa sendiri wujudnya berupa simbol-simbol tulisan yang mempunyai makna. Terdapat ribuan bahasa yang tersebar di dunia, bahasa bahasa ini berfungsi selain sebagai alat komunikasi juga sebagai ciri penanda suatu daerah. Bahasa tidak hanya digunakan saja” akan tetapi banyak orang yang telah meneliti tentang bahasa dan ruang lingkupnya. Hingga saat ini bahasa masih dipelalari dan diteliti. Sedangkan ruang lingkup bahasa diantaranya adalah fonologi. sintaksis, semantik, sosiolinguistik” pragmatik, psikolinguistik, dll.

Dalam etika berbicara manusia tidak bisa seenaknya melontarkan kata-kata ketika berbicara dengan orang lain. Seseorang harus melihat situasi dan kondisi orang yang diajak berbicara. Harus melihat siapa lawan bicara, dimana, kapan pembicaraan dilakukan. Misalnya ketika seseorang akan membeli buku ditoko buku, tidak mungkin dia akan berkata, “Kulanuwunwun, pak! Buku menika menawi badhe kula tumbas, Piten rupiah reginipun? ” “Oh, kok awis, menapa kepareng kula nyang supados kula sage,t numbas.?” Walaupun konstruknya  benar, kalimat itu tidak sesuai dengan situasi. Kalirnat yang akan digunakannya mungkin seperli ini’. “Bukune pinten, pak? ” “angsal kirang?”, atau jika sudah langganan biasanya menggunakan bahasa yang lebih santai. ” lki pira pak? ” , ” pase pira?”.

Dengan melihat situasi dan kondisi, proses komunikasi dapat berjalan semestinya dan tidak salah tempat. Bahasa-bahasa yang digunakan diatas tersebut merpakan bagian dari variasi bahasa. Variasi bahasa dibagi menjadi empat yaitu ragam dialek, sosiolek, fungsiolek, dan kronolek. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai ragam fungsiolek disanping ragam-ragam lain sebagai pendamping.

 

 

B. Rumusan Masalah

1. Apakah variasi bahasa itu?

2, Apakah yang dimaksud dengan ragam Fungsiolek?

3, Apa saja macam Fungsiolek?

4, Bagairnana Ragam Fungsiolek Bahasa Jawa?

 

C. Tujnan

1. Menjelaskan ruang lingkup variasi bahasa.

2. Menjelaskan pengertian ragam Fungsiolek.

3. Menjelaskan macam Fungsiolek.

4. Meneielaskan ragam Fungsiolek Bahasa Jawa.

 

 

 

BAB II

ISI

Variasi Bahasa

Tanpa disadari bahasa yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat bervariasi. Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penutumya yang tidak homogen. Variasi bahasa sendiri adalah bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa. Anggota suatu masyarakat bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Chaer dalam Ardhi (2007:14).

Sedangkan menurut Paul dalam Natsir (2009:l), Variasi bahasa adalah suatu wujud perubahan atau perbedaan dari berbagai manivestasi kebahasaan namun tidak bertentangan dengan kaidah kebahasaan. Variasi bahasa dipengaruhi oleh banyak hal seperti budaya, alam, status sosial, waktu, keadaan, dan lain sebagainya, Oleh sebab itu bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda atau disebut ragam bahasa (language variety)’ Menurut Nababan (1987: 12) terdapat empat macam variasi bahasa berdasarkan faktor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam bahasa itu, yaitu sebagai berikut:

1. Faktor geografis, yaitu didaerah mana bahasa itu digunakan.

2. Faktor kemasyarakatan, yaitu golongar. sosiolek mana yang memakai bahasa itu.

3. Faktor situasi berbahasa, mencakup pemeran bahasa, tempat, topik, jalur bahasa itu.

4. Faktor waktu, yaitu dimana dan kapan bahasa itu dipakai.

 

 

Dari keempat faktor tersebut, maka variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya dibedakan nrenjadi empat ragam bahasa yaitu:

a. Ragam Dialek

Ragam Dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang stutii yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi. Ragam dialek berhubungan dengan daerah ternpat penutur didaerah tertentu. Misalnya bahasa Jawa mempunyai banyak dialek diantaranya dialek Banyumas, dialek Yogyakarta, dialek Surabaya.

b. Ragam Sosiolek

Adalah ragam bahasa yang berkaitan dengan golongan susial penuturnya. Misalnya bahasa golongan bangsawan, pertanian, mahasiswa mempunyai ciri-ciri bahasa masing-masing.

c. Ragam Fungsiolek

Adalah ragarn bahasa yang berkaitan dengan situasi berbahasa, siapa pemeran bahasa, serta topik dan jalur (tulisan, lisan dan sebagainya) bahasa tersebut. Akan dibahas lebih lengkap dalam subbab berikutnya.

d. Ragam Kronolek

Adalah ragam bahasa yang berhubungan dengan perubahan bahasa dalam berlalunya waktu. Bahasa yang digunakan dari waktu kewaktu tidak mesti sama, terkadang ada pergeseran atau perubahan penggulaan bahasa.

 

 

 

 

Pengertian Ragam Fungsiolek

Variasi bahasa berkenaan dengan pengguna, pemakai atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.

Fungsiolek adalah variasi bahasa yang berhubungan dengan situasi berbahasa dan tingkat formatalitasnya yang dalam penggunaan bahasanya ditentukan oleh fungsi bahasa itu. Siapa pemeran serta bahasa serta topi dan jalur (tulisan, lisar. dan sebagainya) berbahasa itu. Dari faktor-faktor tersebut dapat diketahui ragan bahasa apa yang digunakan seseorang untuk berbicara dalam suatu keadaan tertentu. Contohnya dalam bergaul dengan teman dekat biasanya akan muncul kata, ‘kowe’, ‘aku’, sedangkan Saat berbicara dalam pidato kata-kata yang digunakan bukan ‘kowe ‘tetapi ‘panjenengan sedaya’.

 

 

  1. Macam Ragam Fungsiolek

Menurut Martin Joos dalam Nababan (1987:12), ragam Fungsiolek dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam haku (frozen); ragam resmi (formal; ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (inlimate).

  1. Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi juga digunakan dalam buku-buku suci dan dokumen bersejarah. Misalnya, dalam undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb.

 

Contoh penggunaan dalam sumpah Dasadarma Pramuka:

Dasadarma Pramuka, pramuka itu:

l. Taqwa lerhadap tuhan yang Maha Esa

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia

Ciri lain dalam ragam beku ini adalah pengucapan dan pelafalan kata yang terdengar sangat kaku dan tegas.

b. Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, dsb. Bahasa dalam ragam resmi cenderung menggunakan bahasa-bahasa formal. Contoh ragam resmi yang terdapat dalanr pidato Bahasa Jawa,

“Puja hastuli syukur tansah kunjuk mring pangeran, awit sadaya kanugrahan ingkang sampun rumenthah, saingga kita sadaya saget kempal nyawiji wonten adicara menika kanthi nggayuh karaharjan… ”

Bahasa yang digunakan dalam pidato tersebut sangat resmi dan tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari.

c.  Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, perusahaan, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi dan dalam tingkat yang paling operasional. Contoh penggunaan ragam usaha ketika guru mengajar dalam kelas:

“Mangga kita wiwiti pepanggihan menika kanthi dedongan sesarengan, kala wingi sampun sinau babagan Aksara jawa, samenika. kita badhe sinau tembang Macapat.

Bahasa yang digunakan dalam ragam usaha merupakan gabungan antara fornal dengan informal atau santai, dengan tujuan agar apa yang ingin disampaikan dapat diserap, tetapi orang yang diberi informasi tetap santai dan tidak tegang.

d. Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan. Misalnya sesoorang bertanya tentang tugas kepada tentannya,

” He, wis garap Pragmatik?” teman yang diajak berbicara sudah paham bahwa temannya bertanya apakan dia sudah mengerjakan tugas matakuliah Pragmatik, maka dengan spontan ia akan menjawab, “wis” jika sudah dan “urung ” jika belum mengerjakan.

e. Ragam akrab adarah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas, cukup dengan ucapan-ucapan pendek. Hal ini disebabkan oleh adanya saling pengertian dan pengetahuan satu sama lain. Dalam ragam ini banyak dipergunakan bentuk dan istilah khas bagi suatu keluarga atau kelompok. Orang-orang yang menggunakan ragam akrab ini biasanya memilih bahasa-bahasa unik tertentu yang mereka ciptakan seperti misalnya bahasa Slang.

Slang adalah bahasa yang diciptakan suatu kelompok sebagai ciri penanda dan sebagai identitas mereka, slang menggunakan rumus-rumus tertentu sebagai patokan bahasa yang mereka gunakan. Misalnya bahasa slang yang sudah terkenal adalah penggunaan kata ‘dab’ yang berarti ‘mas’, rumus yang digunakan adalah aksara Jawa yang mempunyai empat baris, caranya dengan menukar huruf-huruf di baris pertama dengan baris ketiga dan baris kedua dengan baris keempat, begitu pula sebaliknya.

 

 

Ragam Fungsiolek Bahasa Jawa

Rahasa Jawa juga memiliki ragam fungsiolek. Dilihat dari ragarn bahasa yang ada, bahasa Jawa mempunyai ragam yang disebut undha usuk. udha usuk ini dibagi menjadi dua yaitu bahasa ngoko dan krama.

a. Bahasa Ngoko

Bahasa ngoko digunakan untuk berbicara dengan orang yang sebaya atau orang yang sudah akrab, bisa juga digunakan oleh orang yang kedudukannya lebih tinggi untuk berbicara kepada bawahnnya. Dalam ragam fungsiolek menurut Martin Joos, bahasa ngoko dapat diterapkan dalam ragam santai dan akrab. Misalnya berbicara dengan teman sebaya: “Sapa sik jupuk bukuku ning meja kae Bud?”

b. Bahasa Krama

Bahasa krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua (umur maupun kekerabatan) dan tinggi kedudukannya, juga ketika berhicara dengan orang yang belum kenal. Bahasa kromo berfungsi sebagai wujud menghargai dan menghormarti orang yang diajak berbicara. Bahasa krama dibagi menjadi dua yaitu krama madya dan krama inggil.

1 Krama madya

Madya artinya tengah, jadi bahasa ini terletak di tengah-tengah antara bahasa ngoko dan krama. Penggunaan bahasa ini terbatas untuk berbicara dengan orang tua atau yang dituakan akan tetapi sifat hubunganya sudah akrab. Dalam kalimat, krama madya bisanya bercampur dengan ngoko bisa juga dengan krama inggil. Misalnya adik berbicara dengan kakaknya: “Mas, mbok benjing aku diterke teng pasar tumbas sepatu”.

Kalimat tersebut merupakan gabungan dari kama yaitu ‘benjing’; krama madya yaitu ‘tumbas, ‘teng ‘; dan ngoko yaitu ‘aku’, ‘diterke’. Krama madya ini digunakan juga dalam ragam santai.

2. Krama inggil

Inggil yang berarti tinggi atau atas, digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tinggi usia ataupun kedudukannya, ataupun dalam keadaan dan situasi fomral. Jika dihubungkan dengan ragam bahasa menurut Martin Joos, krama inggil biasa digunakan dalam ragam beku, resmi, juga ragam usaha. Dalam pidato acara-acara resmi seperti pernikahan, khitanan, pengajian dll, masyarakat biasanya menggunakanbahasa krama inggil. Misalnya “lngkang kinurmatan bapak Paijo sakulawarga ingkang tansah bagyamulya, para pepundhen sesepuh miwah pinisepuh ingkang satuhu kinabekten, saha para tamu ingknng minulya…”

Selain digunakan dalam acara-acara resmi, bahasa krama inggil juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu untuk berbicara dengan orang yang lebih tua tau dituakan dan berkedudukan tinggi. Misal cucu berbicara dengan neneknya, “Simbah sampun dhahar? “ namun kalimat tersebu tidak boleh digunakan untuk menyebutkan dirinya sendiri “Kula sampun dhahar,” Kalimat tersebut benar menurut struktur bahasa, namun secara aturan tidak tepat karena telah mengkramakan dirinya sendiri, dalam artian telah menghormati dirinya sendiri. Sehingga kalimat yang tepat seharusnya“kula sampun maem.” Hal tersebut merupakan keunikan bahasa Jawa yang mempunyai aturan tertentu dalam ujaran sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang saat berbicara atau dikenal dengan istilah “mpan mapan” bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam.

2. Variasi bahasa dibagi menjadi empat yaitu ragam dialek, sosiolek, fungsiolek, dan kronolek.

3. Ragam Fungsiolek adalah ragilm bahasa yang berkaitan dengan situasi berbahasa, siapa pemeran bahasa, serta topik dan jalur (tulisan, lisan dan sebagainya) bahasa terscbut. Akan dibahas

4. Ragam Fungsiolek dibagi meniadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (flozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam saniai (casual); ragam akrab (intimate).

5. Ragam fungsiolek Bahasa Jawa dibagi menjadi dua yaitu bahasa ngoko dan krama.

 

Sasaran

Bahasa selain sebagai alat komunikasi juga merupakan cermin bangsa. Sebagai generasi muda penerus bangsa, alangkah baiknya diera globalisasi ini selain beklajar mengenal bahasa asing sebagai bahasa internasional juga mau menggunakan dan mempelajari bahasa nasional serta bahasa daerah, Jangan pernah malu menggunakan bahasa daerah sendiri, sebab bahasa tersebut merupakan hasil karya nenek moyang kita terdahulu. Gunakan bahasa sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat, harus bisa”mpan papen” menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita berada, sehingga kita akan dihargai oleh orang lain,