FUNFSI SESAJI DAN MAKNA SIMBOLIK dlm TARIAN EMBLEG GENTAN, WONOSOBO


A. LATAR BELAKANG
Tarian sebagai sarana upacara memiliki beberapa fungsi, antara lain berfungsi sebagai upacara adat yang berkaitan dengan peristiwa kehidupan manusia. Seorang ahli sejarah tarian dan muzik Jerman bernama C.Sachs telah memberikan definisi seni tari sebagai gerakan yang berirama. Seni tari adalah pengucapan jiwa manusia melalui gerak-geri berirama yang indah. Dalam kebudayaan melayu terdapat berbagai-bagai jenis tarian, sama ada tarian asli ataupun tarian yang telah dipengaruhi oleh unsur-unsur modern. Sedangkan dalam kebudayaan yang ada di Negara kita tarian masih banyak yang orisinil, belum terpengaruh oleh unsure-unsur modern.
Di era globalisasi seperti pada jaman sekarang ini masyarakat telah sedikit mengalami pergeseran dalam berbagai aspek kehidupannya tidak terkecuali pada fungsi tari dan maknanya bagi hidup mereka. Tidak dapat dipungkiri, dampak globalisasi dan kemajuan teknologi telah masuk hingga pelosok desa. Tidak terkecuali modernisasi telah dirasakan pula oleh masyarakat Dusun Gentan kecamatan Kalikajar kabupaten wonosobo.Dari sekian banyak pengaruh budaya modern dan perkembangan teknologi yang mengalir di Dusun Gentan,ternyata eksistensi tarian tradisional embleg masih bisa dipertahankan. Terbukti dengan masih cukup tingginya frekuensinya pementasan tarian tradisional embleg ini.
Kenyataan yang terlihat pada masyarakat Dusun Gentan Kecamatan kalikajar Kabupaten Wonosobo, pementasan tarian tradisional embleg masih cukup digemari karena menampilkan tontonan yang menonjolkan tindakan-tindakan yang terkadang sangat berbahaya dan sulit diterima nalar. Hal ini sesungguhnya tidak masuk akal tetapi nyata adanya. Sesaji sebagai unsur utama pada tarian embleg masih sangat berpengaruh dalam masyarakat Dusun Gentan dan mempunyai fungsi yang penting dalam setiap pementasan tarian embleg. Kenyataan ini sangat menarik untuk diteliti.
B. FOKUS PERMASALAHAN
Ada beberapa fokus penelitian yang akan dibahas tentang bentuk sesaji dan makna simbolik sesaji yang digunakan dalam tarian embleg di desa Gentan diantaranya yaitu;
1) Bentuk sesaji dan makna simbolik sesaji yang digunakan dalam tarian embleg di DusunGentan, Desa Kalikajar, Kecamatan kalikajar ,Kabupaten Wonosobo
2) Fungsi dan pandangan masyarakat tentang penggunaannya dalam tarian tradisional embleg beserta tujuan dipentaskannya tarian tradisional ini
3) Pandangan masyarakat tentang eksistensi tarian ini di tengah era globalisasi dan kemajuan teknologi
Penelitian juga difokuskan pada fungsi sesaji dan pandangan masyarakat tentang eksistensi tarian ditengah era globalisasi dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
C. TJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang bentuk dan makna sesaji serta fungsi tarian tradisional Embleg di desa gentan kecamatan Kalikajar.
Juga untuk mengetahui fungsi sesaji dan pandangan masyarakat tentang penggunaannya dalam kehidupan di masa sekarang.
D. MANFAAT PENELITIAN
Secara teoritis penelitian ini memberikan manfaat berupa sumbangan teori tentang deskripsi bentuk dan fungsi sesaji pada tarian tradisional embleg di desa Gentan kecamatan Kalikajar.
Adapun manfaat secara praktis diharapkan dapat memberikan informasi kepada peneliti tentang bagaimana bentuk dan fungsi sesaji dalam tarian embleg di desa Gentan kecamatan Kalikajar.

E. DESKRIPSI TEORI
Tari tradisional adalah tari yang telah mengalami perjalanan cukup lama dan selalu berpijak pada pola tradisi yang sudah ada. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedarsono (1976 : 10), yang menyatakan bahwa tarian rakyat merupakan jenis tari yang berpijak pada budaya tradisional dan masih bertumpu pada unsur primitif, tari tradisional kerakyatan adalah tari yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, kemudian diturunkan dan diwariskan secara terus-menerus dari generasi ke generasi (Jazuli, 1994 : 70 ). Proses pewarisan tarian kerakyatan ini pada umumnya dilakukan secara otodidak dan tidak terprogram secara sistematis. Tari tradisional kerakyatan adalah tari yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat atau rakyat yang masih sangat sederhana baik dalam hal gerak, kostum, rias, serta bentuk penyajiannya. Hal ini disebabkan penciptaan tari rakyat ditujukan hanya untuk masyarakat setempat. Kesenian rakyat lebih didasari adanya kebutuhan rohani menyangkut kepercayaan adat dan sebagainya (Soedarsono, 1976 : 3). Hal tersebut mendasari fungsi tari rakyat yang pada waktu itu sebagai tari yang di dalamnya memiliki nilai sakral dan magis.
Tarian embleg adalah tarian tradisional khas daerah Wonosobo yang merupakan tarian rakyat yang menggambarkan pria menunggang kuda yang sedang berlatih perang. Adapun kuda yang ditunggangi adalah jaran kepang yang terbuat dari anyaman bambu. Pada dasarnya cerita yang diangkat dalam tarian embleg adalah cerita Panji.
Sejak kehidupan manusia purba, tarian mempunyai peranan yang sangat penting. Selain sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, tarian juga sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan gembira yang diabdikan untuk keselamatan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Tarian itu sendiri mempunyai beberapa tujuan, yang antara lain adalah :
a. Sebagai tari upacara yang berfungsi untuk mengungkapkan rasa terima kasih, permohonan keselamatan dan memperoleh perlindungan.
b. Sebagai tari hiburan yang merupakan tari pergaulan antara pria dan wanita yang bertemakan percintaan (Sedyawati, 1984 : 40)
Hal tersebut di atas rupanya terdapat juga pada tarian tradisional embleg yang dipentaskan oleh kelompok seni Taruna Budaya di Dusun Somobumi.
Tarian juga mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Adapun fungsi tari dalam kehidupan manusia antara lain adalah :
1. untuk kepentingan upacara,
2. untuk hiburan,
3. sebagai seni pertunjukan, dan
4. media pendidikan (M. Jazuli, 1987 : 43)

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan daur hidup seseorang masih sangat banyak dilakukan oleh masyarakat pemangkunya. Pengaruh agama Hindu dalam masyarakat Jawa dirasakan masih sangat kental melingkupi kehidupan budaya Jawa. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan sesaji dalam setiap upacara adat dan upacara-upacara ritual yang dilakukan.
Sesaji diartikan sebagai persembahan sajian dalm upacara keagamaan yang dilakukan secara simbolis dengan tujuan berkomunikasi dengan kekuatan gaib (Kamajaya, 1992 : 48).
Menurut J. Van Ball dalam Koentjaraningrat (1984 : 365) bahwa fungsi sesaji adalah :
1. sebagai alat sedekah,
2. sebagai fungsi simbolik komunikasi dengan makhuk halus.
Adapun maknanya untuk mempertebal keyakinan bahwa upacara ritual merupakan sarana yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang hakiki. Jadi fungsi sesaji yang dipergunakan dalam tarian embleg ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai refleksi diri baik dari segi jasmaniah maupun segi rohaniah.
F.PENELITIAN YANG RELEVAN
Ada beberapa penelitian yang dianggap relevan dan dapat dijadikan acuan untuk penelitian berjudul fungsi sesaji dan makna simboliknya dalam tarian embleg di dusun Gentan desa Kalikajar kecamatan kalikajar kabupaten Wonosobo.
Penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan sesaji adalah skripsi yang berjudul ”Makna Simbolik dan Fungsi Sajen Pendirian Rumah Bagi Masyarakat Jawa, studi kasus terhadap masyarakat kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman Yogyakarta”. Penelitian tersebut ditulis oleh Suryadi, NIM 92254002. Dalam penelitian tersebut terfokus pada penggunaan sajen dalam prosesi pendirian rumah dari persiapan hingga proses pendirian rumah tersebut lengkap dengan makna simbolik dari sesaji yang digunakan, fungsi disediakannya sajen, dan yang hendak dicapai oleh orang yang akan mendirikan rumah.
Penelitian yang berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap tarian tradisional Jathilan yang ditulis oleh Cornelia Tri Tukur Anindianingsih, NIM 90294030 dalam skripsinya yang berjudul ”Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Tradisional Kerakyatan Jathilan dii Dusun Kradenan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Megelang”, terfokus pada deskripsi secara mendalam tentang persepsi masyarakat terhadap tarian tradisional jathilan serta menguras bentuk tarian jathilan dan perkembangannya di dusun Srumbung. Fokus penelitian tersebut memberikan tambahan pengetahuan tentang bentuk tarian tradisional jathilan yang serupa dengan tarian embleg sehingga dapat dijadikan acuan dan membantu penelitian ini.
Studi foklor yang memaparkan pandangan masyarakat mengenai upacara adat adalah skripsi dengan judul ”Fungsi Foklor Ki Ageng Wanalela dalam Penyajian Upacara Tradisis Saparan di Dusun Pondik Wanalela, Desa Windadamartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta”. Ditulis olae Purwanti, NIM 94254007. Penelitian ini memaparkan fungsi dan pandangan masyarakat Dusun Pondok Wanalela, Desa Windadamartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta mengenai pelaksanaan Upacara tradisi Saparan. Dari penelitian yang dihasilkan , memberikan masukan dan landasan bagi penulis untuk mengetahui pandangan masyarakat Gentan, Kecamatan kalikajar, Kabupaten Wonosobo mengenai penggunaan sesaji pada tarian tradisional embleg.
Penelitian yang ditulis dalam buku ”Gaya Hidup masyarakat jawa di Pedesaan : Pola Kehidupan Sosial Ekonomi dan Budaya” oleh Djoko Surjo dkk : 1985. Yang didalamnya antara lain mengulas perkembangan tarian jathilan yang sejenis dengan tarian embleg.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya didapatkan informasi tentang kesenian masyarakat Jawa, penggunaan sesaji dalam upacara-upacara tradisi masyarakat jawa dan pandangan masyarakat tentang upacara-upacara tersebut dalam kehidupan sehari-hari serta perkembangannya dalam waktu sekarang. Informasi tersebut sangat mendukung dan sesuai dengan penelitian yang berhubungan dengan bentuk dan fungsi sesaji dalam tarian embleg di dusun Gentan, sehingga dapat dijadikan sebagai kajian pustaka dan masukan dalam pembatasan masalah yang jelas dalam penelitian ini.
G.PARADIGMA PENELITIAN
Penelitian mengenai fungsi sesaji pada tarian embleg Dusun Gentan, desa Kalikajar, kecamatan Kalikajar, kabupaten Wonosobo ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Bagdan dan tailor (Moleong 2000 : 3) metode penelitian ini menghasilakn data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari oarang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penggunaan metode kualitatif dalam penelitian ini dikarenakan peneliti bisa memperoleh penemuan-penemuan yang tidak terduga sebelumnya dan bisa mewakili fenomena budaya yang tampak pada pementasan tarian embleg di Dusun Gentan.
Peneliti juga lebih fleksibel dan reflektif dalam malakukan penelitian tetapi tetap mengambil jarak. Penelitian menggunakan metode ini ini menitik beratkan pada keutuhan sebuah fenomena budaya sehingga peneliti bisa lebih leluasa dan bisa mendapatkan data yang lengkap untuk mengetahui bentuk dan fungsi sesaji yang digunakan dalam tarian embleg.
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma alamiah atau disebut juga naturalism paradigma. Yaitu paradigma yang dapat mengikuti kenyataan di lapangan. Endraswara (2003 : 39) menyatakan bahwa ciri penelitian naturalistik adalah peneliti berusaha menafsirkan fenomena budaya yang ditemuinya, tidak memanipulasi atau mengontrol dan lebih menekankan logig in action. Paradigma ini bersumber pada pandangan fenomenologis yaitu penelitian yang diungkapkan realitas dari masyarakat yang diteliti berdasarkan fenomena yang benar-benar terjadi di lapangan.
H. DATA PENELITIAN
Penelitian mengenai fungsi sesaji pada Tarian Embleg Dusun Gentan Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo menggunakan data yang berasal dari berbagai sumber. Adapun sumber yang digunakan antara lain :
1. Kata-kata dan Tindakan
2. Foto
I.SUMBER DATA
Informan yang dituju adalah informan yang paham betul terhadap tarian tradisional embleg sehingga dapat memberikan informasi yang diperlukan. Informan dalam penelitian ini adalah ketua dan anggota perkumpulan kesenian tradisional embleg Taruna Budaya, tokoh masyarakat, para sesepuh dan masyarakat Dusun Somobumi, Desa Bumitirta, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Dari beberapa informan yang dituju tersebut, penulis berharap dapat memperoleh data yang akurat.
Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik snowballing (Endraswara, 2003 : 239) yaitu berdasarkan informasi informan sebelumnya untuk mendapatkan informan berikutnya sampai mendapatkan data jenuh (tidak terdapat informasi baru lagi), yang lain dilakukan atas rekomendasi dari subjek sebelumnya. Dari mereka pula akan ada penambahan informasi, atas rekomendasinya itu, peneliti segera meneruskan ke subjek lain. Apabila data yang diperoleh sudah berada dalam data jenuh, atau tidak ditemukan lagi informasi dari subjek penelitian maka tidak diadakan penambahan informan lagi.
 Penentuan latar/setting
Penelitian ini dilakukan dengan memilih setting pementasan tarian tradisional embleg Taruna Budaya di Dusun Somobumi, Desa Bumitirta, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.
Jarak Dusun Somobumi dengan pusat pemerintahan kecamatan cukup dekat dan didukung dengan sarana dan prasarana transportasi yang mudah. Dusun ini juga mempunyai berbagai sarana sosial yang cukup banyak.
Sedangkan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Dusun Somobumi, adalah Islam, Kristen, dan sebagian kecil beragama Buddha.
Untuk memasuki setting ditempuh dengan cara sebagai berikut :
1. Membina hubungan baik dengan informan penelitian dengan cara mengadakan pendekatan persuasif.
2. Berbaur dengan masyarakat sebagai penonton dan mendokumentasikan pementasan tarian tradisional embleg secara langsung.
3. Tidak menjaga jarak terlalu berlebihan dengan informan, sehingga tercipta suasana hubungan persaudaraan yang baik dan wajar.
 Instrumen penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat yang berupa kamera foto, tape recorder dan catatan harian.
J. PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengamatan berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi
1. Pengamatan berperan serta
Yang dimaksudkan pengamatan berperan serta menurut Endraswara (2003 : 209) adalah pengamat (peneliti) budaya ikut terlibat baik aktif maupun pasif ke dalam tindakan budaya. Dalam hal ini peneliti peneliti dengan sengaja masuk ke dalam wilayah penelitian sehingga seakan-akan seperti masyarakat setempat.
2. Wawancara mendalam
Wawancara mendalam (indepth interview) dalam Endraswara (2003 : 214) biasa juga disebut wawancara baku etnografi atau wawancara kualitatif. Wawancara dilakukan dengan santai, informal, dan masing-masing pihak seakan tidak ada beban psikologis.
3. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data mengenai bentuk sesaji, sarana prasarana dan pementasan tarian tradisional embleg.

K. PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA
Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah triangulasi metode. Metode triangulasi ini adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2000 : 178)
L. ANALISIS DATA
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola ; kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. (Moleong, 2000 : 103)
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, foto, dan sebagainya.

About these ads

7 responses to “FUNFSI SESAJI DAN MAKNA SIMBOLIK dlm TARIAN EMBLEG GENTAN, WONOSOBO

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s