Macapat


A. Dari Buku Penataran Seni Karawitan Guru SD Se Jawa Tengah tanggal 6 sampai dengan 9 Mei tahun 1996 di Semarang yang memuat pengertian “ Macapat dipandang dari nama, arti dan makna “ sebagaimana di bawah ini :
1. Dari Buku Baoesastra (Bausastra ejaan sekarang )
2. “ Macapat “ berarti kiblat papat ( empat kiblat )
3. “ Macapat “ ( gatek ) rekaan dari kata “ Moco – Mat “ ( membaca nikmat ) enak didengar saat dilantunkan ( ditembangkan )
4. “ Macapat “ ( pigeaud ) yang berarti membaca dengan irama, netrum.
5. “ Macapat “ ( etimologi ) “ ma + capat, ada kaitannya dengan lupa-lupa ingat, karena kadang hafal kadang tidak, sehingga “ capat berarti cepat “
6. Buku Poezie in Indonesia ( Slamet Mulyana ), “ Macapat “ itu perobahan dari kata “ Macakepan “ yang artinya membaca lontar, kejelasan ini dapat dilihat dalam buku “ Kalangwan “ ( Zoct Mulder ), lontar itu disebut cakepan ( Bali )
“ Macapat “ identik dengan kata ma – capak, “ capak “ jadi cakep, sehingga “macakepan “ adalah “ membaca rontal “

B. Buku S. Padmo Sukotjo, telah banyak mengupas dan menjelaskan budaya jawa sebagai “ Kagunan Adi Luhung “ ( manfaat perbuatan baik ). Dari masalah kesastraan maupun bentuk kebudayaan jawa yang menyangkut ‘ lahir batin “

Pada buku S. Padmo Sukotjo, yang menjelaskan tentang tembang “ Macapat ‘ yang memuat pengertian tembang dengan irama, netrum. Dengan perbedaan-perbedaan “ tembang cilik ( kecil ), tembang tengahan, tembang humor “

Sedangkan pada watak tembang-tembang “ Macapat “ banyak dikaitkan dengan perasaan saat tembang “ Macapat “ dilantunkan serta pada urutan “ nama-nama Macapat “ yang menyangkut nama seperti nama “ Mijil, sinom, dan seterusnya dari tembang Macapat berbeda dengan penafsiran penulis, karena penulis lebih tertarik nama-nama tembang Macapat” pada sifat filosofinya.

Dari jumlah 15 ( lima belas ) tembang yang dilahirkan pujangga R. Ng. Ronggo Warsito maupun R. Harjo Wirogo peulis mengamati 11 ( sebelas ) nama tembang Macapat dan 1 ( satu ) nama tembang yang tidak masuk sebagai katagori tembang mocopat yaitu yang namanya tembang “ Wirangrong “

Sedangkan secara berurutan dari 11 tembang Macapat dan 1 tembang wirangrong mempunyai pengertian secara filosofi kalau diurutkan sebagai berikut :
1. Nama tembang “ mijil “ artinya = lahir
2. Nama tembang “ Maskumambang “ = emas yang mengapung diatas air mengandung penafsiran sebagai ‘ air mata “. Air mata keluar karena suka ataupun duka, maka bisa dibilang irama tembang maskumambang itu mengharukan, jika seseorang merasa “ terharu ‘ akan keluar air mata baik karena sedih atau senang.
3. Nama tembang “ Kinanti “ pengertian kinanti dari kinanten yang artinya di gandeng ( di tuntun )
4. Nama tembang “ Sinom “ asal kata si + enom yaitu berarti muda atau remaja
5. Nama tembang “ Dandanggula “ berasal dari dandang + gula . danfang artinya angan-angan, gula artinya manis. Jadi danfanggula = angan-angan yang manis
6. Nama tembang “ Asmaradana “ asal kata , asmara + dahana, asmara = cinta, dahono = api. Jadi asmorodono = api cinta
7. Nama tembang “ Durma “ dari kata “ Nundur toto kromo “ ( tidak beretika, kurang mengenal sopan santun )
8. Nama tembang “ Gambuh “ dari kata “ gampang nambuh “ ( mempunyai pengertian cuek, atau acuh tak acuh )
9. Nama tembang ‘ Pangkur ” dari pengertian “ ngepange pikir arep mangkur “ ( pikiran yang bercabang karena usia tua )
10. Nama tembang “ Megatruh “ dari pengertian megat + ruh. Megat ( misah, perpisahan ) ruh ( sukma, roch ) jadi megatruh = misahnya sukma raga ( meninggal )
11. Nama tembang “ Pucung “ dapat diartikan “ pocong “ ( orang meninggal di bungkus kain putih )
12. Nama tembang “ Wirangrong “ pengertian sederhana. Wirang + rong. Wirang = malu, rong = goa di tanah. Rong dapat diartikan “ lobang di tanah “. Jadi wirongrong mengandung pengertian ‘ bila hidup tidak berperilaku baik, maka rasa malu terbawa sampai ke liang lahat apabila telah meninggal dunia “

Maka jika dipahami dari nama-nama temvang “ mijil “ diurut sebagaimana tersebut diatas sampai pada tembang wirangrong itu merupakan gambaran manusia dari lahir, hidup dan mati.

Disamping itu ada gambaran watak ( sifat ) di masing-masing nama-nama dari 12 ( dua belas ) tembang tersebut yang terbagi pada 3 ( tiga ) proses : lahir, hidup dan mati. Dimana pada tiap-tiap masa, lahir, hidup dan mati mempunyai persamaan sifat, baik bagaimana, sifat lahir ( sifat bayi ) sifat hidup ( rata-rata sifat manusia dengan cara hidupnya ) dan sifat mati ( proses, upacara, cara menangani masa akhir hayat hidupnya manusia ).

Disamping itu masing-masing manusia juga mempunyai sifat khusus yang biasa disebut “ watak “, watak manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda, sampai-sampai ada pengertian watak orang itu disebut “ ciri wanci, cuplak andeng-andeng ginowo mati “ ( sifat watak manusia dari lahir yang tidak dapat atau jarang dapat dirubah ) seperti watak mudah marah, mudah mutung (ngambek) atau watak lembut penuh kasih sangat berbeda pengertiannya dengan watak sifat yang kami maksud, contoh : yang namanya bayi rata-rata mempunyai kesamaan, cara cara menyusu ibunya, sifat remaja rata-rata mempunyai kesamaan mudah emosi, pukul dulu main belakang ( tidak pakai unggah-ungguh atau tata krama ). Maka sifat pemuda banyak dimanfaatkan sebagai kaum pendobrak, pembaharuan reformis. Sedangkan sifat orang-orang tua rata-rata juga mempunyai persamaan, kedewasaan berpikir, gerakan fisik yang lamban, mudah lupa.

Pengertian-pengertian sifat manusia yang tergambarkan pada nama-nama 12 ( dua belas ) tembang yang telah penulis sampaikan diatas tercermin sebagai berikut :
1. Proses kelahiran bayi dari sejak lahir sampai menjelang remaja, tergambarkan pada nama tembang
– Mijil
– Maskumambang
– Kinanti
2. Proses kehidupan remaja tergambarkan pada nama tembang
– Sinom
– Dandanggula
– Asmaradana
– Durmo
– Gambuh
3. Sedangkan proses kehidupan orang-orang tua sampai dengan saatnya meninggal dunia, tergambarkan pada tembang
– Pangkur
– Megatruh
– Pucung
– Wirangrong

Maka jika diamati nama tembang “ macapat “ secara filosofi berarti maca + sifat ( membaca sifat ) sebagai mana di depan.
“ Macapat “ = membaca sifat oleh penulis merupakan tembang ( kidung ) kehidupan manusia dari lahir, hidup dan mati.
Kidung penguripan = gambaran kehidupan manusia yang dilantunkan melalui “ tembang ‘

Agar kaum muda di era global sekarang ini tertarik untuk membaca potensi budaya “ adi luhung “ maka penulis menceritakan sifat-sifat 12 ( dua belas ) tembang mocopat dalam bentuk puisi ( geguritan ) dan dalam tembang yang oleh penulis sukai ( pupuh dandanggula ).

Penulis sungguh tertarik untuk menggali Potensi Kasanah Sastra Jawa dan kebudayaanya yang cukup unik, enak didengar saat dilantunkanmenjadi tembang dan dapat memberi panduan filosofi dan relegi dalam mengarungi bahtera kehidupan dalam proses perubahan jaman. Apa itu jaman kolo bendu, pancaroba, atau jaman kencana rukmi ( keemasan ).

Jaman kalo benda, penulis menganggap sebagai “ jaman edan “ karena pengatur lalu lintas kehidupan di dominasi orang yang mempunyai sifat, watak yang tidak baik pada jaman edan, manusia di uji moral, iman dan kekuatan batin untuk tetap berperilaku baik, meski sulit sekali implementasinya sebagaimana digambarkan pada “ amenangi jaman edan “ oleh R. Ng. Ronggo Warsito.

Amenangi jaman edan
Ewuh oyo ing pambudi

Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersane Allah
Begjo-begjone kanglali
Luwih begja kang eling lan waspodo
Hidup di jaman edan
Betapa sulit berupaya dengan segenap cara

Ikut edan tidak tahan
Jika tidak ikut edan ( gila )
Berarti tidak punya keinginan
Akhirnya tidak dapat makan / lapar

Untung karena kehendak Tuhan
Untung, untungnya orang yang lupa
Lebih untung yang ingat Tuhan dan dari godaan iblis

Jaman edan sebuah gambaran-gambaran yang menyangkut situasi dan kondisi yang sangat paradox, meski logika, ajaran Agama, tuntunan orang tua telah ditanamkan sejak dini ( sejak lahir ). Betapa kuatnya pengaruh-pengaruh itu, sehingga sulit unuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, bajik dan santun. Itulah sebabnya kami sangat tertarik untuk menghubungkan mocopat membaca sifat, dengan pengertian, sifat yang perlu di baca yaitu sifat baik dan sifat buruk. Dimana sifat baik dan sifat buruk, tergambarkan pada huruf jawa. Hana caraka data sawala, pada jayanya ma ga bha tha nga.

Dari sejarah huruf jawa yang konon di ciptakan oleh seseorang yang bernama “ Aji Saka “ yang mempunyai pengertian.
Aji : sangat berguna
Saka : cagak ( tiang dalam Bahasa Indonesia )
Contoh : rumah perlu cagak / tiang penyangga
Jika rumah perlu tiang penyangga ( cagak ) maka “ Aji Saka “ dapat diartikan penyangga kehidupan.
Sedang terjemahan secara bebas tentang huruf jawa sebagai berikut :
Hana caraka : ada utusan
Data sawala : dhat dan suwolo ( manusia tak bisa menolak utusan tersebut )
Pada jayanya : sama-sama kuat, apa ? dan siapa ? utusan tersebut adalah
sebuah sifat baik dan sifat buruk yang mempunyai kekuatan
yang sama ( betapa sulit kehidupan ini di jalani, namun juga
mudah jika kita amay paham sifat baik dan sifat buruk )
maga bhathanga : sukmo lungo rogo dadi batang ( pisahnya sukma dan raga )
berarti pisahnya pengaruh sifat baik dan buruk yang selama
hidup di dunia mendampingi dan kedua sifat itu tidak lagi
mencampuri / mempengaruhi sukma ( ruh ) itulah sebabnya
kita menjadi sulit berbuat sesuatu di jaman edan saat masih
hidup di dunia sebagaimana nada tembang ilir-ilir.

“ lunyu-lunyu penekna blimbing kuwi, kanggo mbasuh dodotira “ akan kami perjelas sebagai berikut :

Tapsir tembang ilir-ilir

Lir ilir lir ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar

Cah angon, cah angon

Penekno blimbing kuwi

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s