Sastra Jawa


PERKEMBANGAN sastra Jawa pada abad ke-18 dan ke-19 sering disebut sebagai “renaisans sastra klasik” (maksudnya: sastra Jawa Kuno). Sebutan “renaisans” dalam penelitian-penelitian mutakhir ditolak, jika yang dimaksudkan dengan “renaisans” itu adalah munculnya kegairahan dan kegiatan baru untuk mengkaji sastra Jawa Kuno. Yang terjadi adalah penggubahan karya-karya sastra Jawa Kuno yang bermatra kakawin menjadi karya-karya sastra Jawa yang bermatra macapat (tembang macapat).

 

 

Hal ini menjadi jelas dalam kasus Serat Wiwaha Jarwa (Serat Mintaraga), gubahan Paku Buwono III (memerintah: 1749-1788). Paku Buwono III tidak langsung bekerja dengan teks Kawi (Jawa Kuno), tetapi menggubah teks prosa yang sudah ada menjadi Serat Wiwaha Jarwa yang bertembang macapat.

Sumber-sumber sastra yang dimanfaatkan di Keraton Surakarta itu tampaknya berasal dari kegiatan sastra pada zaman Kartasura, khususnya kegiatan sastra yang justru dilakukan di luar keraton, yakni padepokan-padepokan di wilayah Merapi-Merbabu.

Khasanah sastra zaman Kartasura ini kemudian diwarisi oleh para pujangga dan literati Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta saat terjadinya pembagian kerajaan itu.

 

Abad baru

Serat Wiwaha Jarwa gubahan Paku Buwono III mulai ditulis pada tahun 1704 Jawa (1778 Masehi), atau pada awal “abad baru” menurut kalender Jawa.

Ada kepercayaan bahwa pada setiap abad baru akan muncul keraton baru. Jika demikian, dapatlah ditafsirkan bahwa penggubahan Serat Wiwaha Jarwa merupakan imbangan terhadap penciptaan Serat Suryaraja, yang ditulis oleh Putra Mahkota (kelak: Hamengku Buwono II) di Keraton Yogyakarta pada tahun 1700 Jawa (1774 Masehi). Di situ tampak adanya kompetisi legitimasi: Surakarta ataukah Yogyakarta yang merupakan “keraton baru” yang sah menggantikan Keraton Kartasura.

Dengan menggubah Serat Wiwaha Jarwa, Paku Buwono III menampilkan diri sebagai “raja” sekaligus “pendeta”, atau “raja” sekaligus “pujangga”. Tugas seorang pujangga adalah menulis dalam rangka legitimasi kedudukan sang raja.

Serat Wiwaha Jarwa memuat kisah Arjuna, yang bertapa, berhasil menaklukkan Niwatakawaca, dan memperoleh pahala di kahyangan. Di sini legitimasi kerajaan dihubungkan dengan Arjuna, yang dianggap sebagai leluhur raja-raja di Jawa.

Serat Suryaraja mengambil bentuk babad, yang memuat kisah Keraton Yogyakarta dengan menyamarkan tokoh-tokohnya menjadi tokoh-tokoh mistis. Di dalamnya dapat dilacak bagaimana Keraton Yogyakarta menghadapi masalah-masalahnya dalam menyongsong “abad baru”.

Putra Mahkota (kelak: Hamengku Buwono II) ini juga kiranya penulis Babad Mangkubumi, yang mengisahkan masa pemerintahan Mangkubumi (Hamengku Buwono I), sesudah pembagian kerajaan pada tahun 1755.

Bagian pertama, yang merupakan bagian terbesar dari babad ini, selesai ditulis pada tahun 1773. Bagian kedua ditambahkan sesudah wafatnya Sultan Mangkubumi pada tahun 1792. Tendensi babad ini: memihak Mangkubumi dan Putra Mahkotanya, sangat keras mengritik Mangkunegoro, tidak mengacuhkan Paku Buwono III, dan melawan Paku Buwono IV.

Penulisan babad yang penting juga di Keraton Yogyakarta adalah penulisan Babad Keraton oleh Raden Tumenggung Jayengrat pada tahun 1703 Jawa (1777 Masehi). Babad ini memuat kisah dari Adam sampai jatuhnya Keraton Kartasura. Semula babad ini berakhir dengan berdirinya Keraton Kartasura, kemudian dilanjutkan dengan jatuhnya Keraton itu.

Dengan jatuhnya Keraton Kartasura, maka Keraton Yogyakarta merupakan Keraton baru pada awal “abad baru”, yang merupakan pengganti langsung dan sah dari Keraton Kartasura.

Melihat dari kisahnya, bisa dikatakan Babad Keraton bersifat memandang ke belakang. Ini berbeda dengan Serat Suryaraja yang bersifat profetis dan memandang ke masa depan.

 

Yosodipuro

Beberapa waktu kemudian-pada pergantian abad ke-18-19-di lingkungan Keraton Surakarta, tampil pujangga Raden Ngabehi Yosodipuro I (1792-1803). Banyak karya sastra disebut-sebut sebagai gubahan atau tulisan Yosodipuro I. Namun, penelitian Ricklefs akhir-akhir ini menyimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada enam karya harus diragukan atau ditolak sebagai karya Yosodipuro I, yakni Tajusalatin, Menak, Iskandar, Sewaka, Arjunawiwaha Jarwa, dan Cebolek.

Yosodipuro I inilah yang menggubah kakawin-kakawin lama menjadi karya-karya bertembang macapat. Umpamanya: Serat Rama (dari Kakawin Ramayana), Serat Bratayuda (dari Kakawin Bharatayuddha), dan Serat Arjuna Sasrabahu (diperbarui oleh Yosodipuro II; dari Kakawin Arjunawijaya). Mengingat kasus Serat Wiwaha Jarwa gubahan Pakubuwono III, mungkin Yosodipuro I juga bekerja atas dasar terjemahan prosa yang telah ada, yang dibuat pada zaman Kartasura. Selain itu Yosodipuro I juga menggubah Serat Dewaruci.

Serat Rama memuat kisah Rama yang bertempur melawan Rahwana untuk memperoleh kembali Sinta. Ajaran penting yang terdapat dalam Serat Rama adalah ajaran Rama kepada Wibisana tentang sikap dan perilaku seorang raja dalam memerintah rakyat. Ajaran itu dikenal dengan sebutan Asthabrata, delapan sikap dan perilaku seorang raja sesuai dengan watak dan perilaku delapan dewa.

Ajaran Asthabrata banyak dikaji, dikutip, dan digubah kembali, sehingga menghasilkan banyak versi, baik dalam bentuk tembang maupun prosa. Dalam pentas wayang kulit, ajaran ini juga dituturkan dalam berbagai konteks cerita, antara lain dalam lakon Makutharama.

Serat Bratayuda memuat kisah pertempuran Pandawa-Korawa yang memperebutkan Kerajaan Hastina. Secara alegoris kisah ini membayangkan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Suksesi kerap kali melibatkan perang saudara. Dalam upacara bersih desa dan upacara nyadran (mengirim doa untuk para leluhur dan mereka yang sudah meninggal) kerap kali dipentaskan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Bratayuda. Pembersihan Bumi dan penyucian dosa bagi mereka yang telah meninggal, dikaitkan dengan gugurnya para pahlawan dalam Bratayuda.

Serat Arjunasasrabahu memuat kisah kelahiran Rahwana dan saudara-saudaranya, serta pertempuran Rahwana melawan Arjuna Sasrabahu. Berkat salah paham atas teks Jawa kuna, kisah pertemuan Wisrawa-Sukesi menimbulkan ngelmu sastra jendra, ilmu tentang hakikat terjadinya manusia yang dianggap rahasia.

Serat Dewaruci memuat kisah Bima, yang atas perintah Drona, mencari air suci (tirta perwita sari) dan akhirnya berjumpa dengan Dewaruci. Dalam wejangan Dewaruci kepada Bima termuat ajaran tentang hakikat diri manusia. Dalam pentas wayang kulit, Lakon Dewaruci kerap kali dianggap berpasangan dengan Lakon Mintaraga.

Lakon Dewaruci menampilkan pencarian manusia sampai menemukan dirinya yang sejati. Penemuan diri yang sejati ini merupakan modal untuk melaksanakan tugas di tengah masyarakat. Sedang Lakon Mintaraga menampilkan usaha manusia untuk mendisiplinkan diri sehingga sanggup melaksanakan tugas membina kesejahteraan dunia (mamayu hayuning buwana).

 

“Babad Giyanti”

Yosodipuro I juga menulis babad yang penting, yakni Babad Giyanti. Babad ini tidak mencantumkan tanggal penulisannya, tetapi diperkirakan paling lambat sekitar 1803 babad itu telah selesai ditulis.

Yang menarik perhatian, dalam babad itu tampak Yosodipuro I mengagumi Sultan Mangkubumi dan menjadikannya tokoh utama. Ini tentu sesuatu yang istimewa, karena Yosodipuro adalah pujangga Keraton Surakarta, sementara Sultan Mangkubumi adalah raja Keraton Yogyakarta.

Perhatian terhadap babad di lingkungan Keraton Surakarta tampak dari munculnya Babad Pakepung dan Babad Tanah Jawi. Babad Pakepung mengisahkan krisis tahun 1790 di Surakata. Babad ini tampaknya ditulis oleh Raden Ngabehi Yosodipuro II.

Babad Tanah Jawi mulai disusun pada pemerintahan Paku Buwono IV (1788-1820). Penyusunan babad ini mungkin berhubungan dengan usaha Paku Buwono IV untuk mengukuhkan kedudukan dan kekuasaannya sebagai raja.

Paku Buwono IV menuangkan ajarannya untuk anak-cucu, kerabat dan abdinya dalam Serat Wulangreh. Paku Buwono IV memang banyak menulis serat (ajaran), yang dapat ditafsirkan sebagai pedoman dan sarana kontrol perilaku di lingkungan istana.

 

“Serat Centhini”

Puncak dari perkembangan sastra Jawa ini mungkin berlangsung sekitar tahun 1815, saat Putra Mahkota (kelak: Paku Buwono V, memerintah 1820-1823), bersama sebuah tim redaksi menyusun Serat Centhini. Kitab ini biasa disebut “ensiklopedi Jawa”. Kisah yang merangkai beraneka-ragam ilmu itu ialah sebuah kisah perjalanan.

Perjalanan seseorang yang mengembara mencari ilmu di seluruh pelosok tanah Jawa ini dilaporkan dalam kisah perjalanan Bujangga Manik, yang termuat dalam sebuah naskah Sunda dari akhir abad XV.

Kisah perjalanan yang menjadi ciri genre sastra jenis ini, disebut juga santri lelana. Banyak serat (kitab) yang diserap ke dalam Serat Centhini dan dirangkaikan sebagai ajaran yang diperoleh para santri lelana di berbagai tempat pengembaraan mereka.

Kisah perjalanan ini juga memberi kesempatan memasukkan legenda, cerita tentang tempat-tempat dan peninggalan purbakala, lukisan alam, uraian berbagai upacara dan seni pertunjukan, dan sebagainya.

Dari hal-ihwal yang demikian itu dapat ditafsirkan bahwa dalam Serat Centhini hendak dikumpulkan berbagai kitab dan berbagai situasi tanah Jawa, seakan-akan ada kekhawatiran bahwa semuanya itu akan lenyap berhadapan dengan “dunia baru”, dengan arus Barat yang semakin kuat.

About these ads

2 responses to “Sastra Jawa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s