Perlunya Kaum Muda Mengenal Wayang


Negara kita dikenal dengan keberagaman yang ada di dalamnya. Baik itu keanekaragaman suku, adat istiadat, religi dan bahkan keberagaman dalam budaya yang diwariskan nenek moyang kita. Masing – masing daerah memiliki warisan budaya yang berbeda antara satu dengan yang lain sesuai dengan ciri khas dari masing – masing daerah.

Seperti di kita daerah Jawa khususnya, terdapat warisan budaya yang salah satunya adalah ” Wayang “. Wayang ini merupakan salah satu simbol akan perkembangan agama islam di tanah jawa. Ya, wayang merupakan salah satu media yang digunakan oleh tokoh – tokoh islam untuk menyebar luaskan agama islam di Jawa.

Namun sayagnya, para generasi muda bangsa ini agaknya enggan untuk tahu tentang wayang ini. Dan mungkin merasa asing dengan kebudayaan wayang itu sendiri. Padahal jika kita benar – benar memahami akan filosofi dari pewayangan itu sendiri, kita akan menemukan pembelajaran yang luar biasa yang coba disiratkan dalam tokoh – tokoh wayang.

Sebagai contoh, tokoh yang hampir di setiap pergelaran wayang dimunculkan oleh sang dalang yaitu kelompok yang sering disebut sebagai ” Punakawan “. Dalam dunia pewayangan Tokoh Punakawan adalah daya tarik tersendiri karena kelucuannnya. Namun ternyata dibalik itu semua, nama – nama mereka yaitu semar, Gareng, Petruk dan Bagong ternyata memiliki filosofi tersendiri. Mungkin hanya sebagian kecil masyarakat yang tahu bahwa sebenarnya nama – nama mereka berasal dari bahasa arab. Nama mereka berasal dari kata Syimar (=Semar), Khairan (=Gareng), Fatruki (=Petruk) dan Bagho (=Bagong). Jika kata-kata tersebut digabung jadilah “Syimar Khairan, Fatruki Bagho” yang berarti “Sebarkan kebaikan, jauhi kejelekan”. Selain itu salah satu semboyan yang dimiliki oleh Semar yaitu “Begegeg Ugeg Ugeg, Mel Mel Sadulito”. Jadi orang harus kokoh, jangan mudah goyah, harus tetap pendirian. Menuntut ilmu sedikit demi sedikit, tapi tanpa henti. Dari semboyan itu tentu kita sudah tahu apa maksud yang ingin disampaikan kepada kita.

Ternyata jika kita ingin mengkaji lebih dalam, wayang bukan hanya sekedar tontonan jaman kakek dan nenek kita. Banyak filosofi – filosofi yang tersirat di dalamnya. Sayang kan kalau warisan budaya ini tidak kita lestarikan. Jangan sampai budaya yang benuh nilai dan pesan kenormaan ini sampai punah di Generasi Muda ini.

Jika bukan para Kawula Muda, siapa yang akan meneruskan dan melestarikan warisan dari para pendahulu kita. Penting tidaknya kita untuk tahu tentang filosofi wayang, tergantung dari pemikiran kita masing – masing. Namun dari yang telah diuraikan di atas, tahu tentang wayang adalah penting. Selain dapat melestarikan kebudayaan, kita juga akan tahu tentang norma dan nilai – nilai budaya, dan tentunya untuk memperbaiki diri menjadi Kaum Muda yang tetap menghargai Bangsa menjadi bangsa yang bermartabat dan mengembalikan sifat luhur yang telah hilang.

sumber: http://remaja.suaramerdeka.com/2010/12/21/perlukah-kaum-muda-memahami-filosofi-wayang/