SINOPSIS KAKAWIN RAMAYANA


Pupuh 1 (1-62) : Atas perintah raja Dasaratha, raja Ayodhya, dipersembahkanlah sebuah korban agar dia dikaruniai seorang anak. Alhasil ketiga permaisurinya melahirkan empat orang putra. Kausalnya melahirkan Rama, Kaikeyi melahirkan Bharata, Sumitra melahirkan Laksmana dan Satrughna. Sesudah mereka dewasa rsi Wiswamitra mohon bantuan Rama untuk mengalahkan para raksasa yang mengacaukan pertapaanya. Dasaratra mengijinkanya dan akhirnya Rama serta adiknya Laksmana berangkat.

Pupuh 2 (1-76) : Dilukiskan perjalan kepegunungan menjelang musim dingin dan bagaimana mereka diterima di pertapan. Seorang raksasa wanita mampu dikalahkan,lalu menyusul serangan dari para raksasa pimpinan Marica tapi semuanya mampu dipukul mundur. Atas saran Wisma kakak adik tersebut menuju ke Mithila tempat raja Janaka mengadakan swayambara untuk putrinya yang bernama Sita. Tak seorangpun mampu melenturkan sebuah busur yang muncul saat hari Sita dilahirkan. Tapi saat Rama mengangkat busur tersebut dan coba untuk melenturkanya busur tersebut patah menjadi 2. Dari swayambara tersebut Rama akhirnya yang berhak mempersunting Sita, Dasaratrapun diundang untuk menghadiri pesta pernikahan tersebut.setelah semuanya selesai mereka kembali ke Ayodya diiringi kedua mempelai.saat perjalanan dihadang oleh Rama Barghawa yang suka berperang dan menantang Rama untuk adu kekuatan melenturkan busur panahnya. Dengan mudah sekali dilakukan oleh Rama, dan akhirnya Bhargawa mengundurkan diri dengan penuh rasa malu.

Pupuh 3 (1-89) : Diayodya diadakan persiapan untuk Rama yang akan dinobatkan sebagai raja, tetapi Dasaratha diingatkan oleh Kaikeyi bahwa dalam suatu perjanjian sebelumnya raja pernah berjanji pada Kaikeyi, Bharatalah yang akan mewarisi tahtanya. Kemudian Bharatalah yang menjadi raja Ayodya, Dasaratha akhirnya meninggal dunia. Setelah memakamkan Dasaratha Rama, Sita, Laksmana meninggalkan keraton. Dalam perjalananya disusul oleh Bharata untuk Rama agar kembali ke Ayodya dan memimpin Ayodya. Tetapi Rama tidak mau dan meminta agar Bharatalah yang memimpin Ayodya dengan memberikan kasutnya sebagai simbol kekuasaanya. Setelah menerima suatu wawasan dari Rama mengenai kewajiban-kewajiban selaku seorang raja maka Bharata mohon diri.

Pupuh 4 (1-76) : Menceritakan Rama, Sita dan Laksmana melanjutkan pengembaraanya dihutan dandaka. Mereka menetap di pertapaan sutiksna dan meneruskan kehidupan mereka sebagai pertapa. Surpanakha adik perempuan raja para raksasa mengembara kehutan dan bertemu dengan Laksmana. Suparnakha catuh cinta dan menyamar menjadi wanita yang cantik jelita dan menawarkan diri untuk dipersunting. Laksmana ingin menghindari perempuan tersebut dengan memuji-muji Rama, Raksasi tersebut kemudian mendekati Rama dengan usul yang sama. Tetapi Rama menerangkan bahwa Sita merupakan satu-satunya baginya dan menyarankan untuk mendekati Laksmana yang masih bujang. Usaha yang kedua yang dilakukan Raksasi tersebut lebih kasar sehingga Laksmana mengetahui watak aslinya dan akhirnya memotong ujung hidung raksasi tersebut. Suparnakha berteriak-teriak kesakitan melarikan diri dan meminta bala bantuan kepada tiga raksasa lainya. Namun semuanya mampu ditumpas.

Pupuh 5 (1-89) :Surpanakha mengadu kepada kakaknya Rawana dan membujuknya dengan melukiskan kecantikan Sita agar berangkat dan menculiknya. Rawana minta bantuan Marica dan mengatur siasat agar mampu membujuk Rama dan Laksmana agar menjauhkan dari Sita dan kemudian menjadi mangsa Rawana. Marica menyamar menjadi kidang emas dan lewat didepan mereka. Akhirnya Sita terpesona dan meminta Rama menangkap kidang tersebut untuk Sita. Ramapun akhirnya mengejar kidang tersebut dan memanahnya, saat Rama melepaskan busur panahnya dan mengenai kidang tersebut terdengar suara jeritan kidang tersebut sampai ketelinga Sita bersamaan kidang tersebut lenyap. Dengan penuh khawatir Sita mengira jeritan tersebut adalah jeritan Rama, dengan alasan tersebut Sita memohon pada Laksmana agar mengejar Rama dan meninggalkanya sendiri. Saat itupula Rawana menyamar menjadi pertapa yang akhirnya mendekati Sita dan mehasil membawa Sita kabur lewat udara.

Pupuh 6 (1-203) : Terdengar jeritan Rama oleh burung Jatayu yang pernah menjadi sahabat ayah Rama saat dibawa kabur oleh Rawana. Jatayu menghancuran kereta Rawana dan menopang tubuh Sita saat jatuh, dengan beban seberat itu dia akhirnya dikalahkan oleh Rawana dengan dipotong salah satu sayap Jatayu. Laksmana yang datang kepada Rama menjelaskan kepada Rama bahwa Sita telah hilang. Rama marah besar dan akhirnya mereka mencari Sita dan menemukan Jatayu yang mengatakan apa yang telah terjadi sebelum nafas terakhirnya dihembuskan. Setelah pemakaman Jatayu mereka melanjutkan perjalananya dan dipertengahan jalan mereka bertemu dengan salah satu anak dewi Sri dan juga Rama membebaskan seorang pertapa karena kutukan atas perbuatan sebelumnya. Mereka berdua memberi nasihat kepada Rama agar mencari Sugriwa raja para kera dan minta bantuanya yang sangat sakit hati karena Tara istri Sugriwa direbut dan dibawa kabur oleh adiknya yang bernama Bali. Setelah mereka bersatu maka mereka datang ketempat persinggahan Subali dan mereka berhasil mengalahkan dan membunuh Subali.

Pupuh 7 (1-113) : Rama meminta Laksmana untuk ketempat Sugriwa karena tidak ada kabar lagi dan akhirnya Sugriwa minta maaf dengan mengirim dan menyebar pasukan kera kesegala penjuru. Ketika pasukan kera yang dipimpin oleh Hanuman merasa lelah dan letih mereka menemukan sebuah gua dan berniat untuk istirahat sejenak di gua tersebut. Ternyata gua tersebut istana Swayampraba putri raja para raksasa dan mereka menerima rombongan Hanoman dengan ramah sekali. Hanoman dan rombonganya istirahat sejenak dan akhirnya mereka terlelap terkena ilmu sihir danawa dan bangun satu bulan kemudian. Hanoman dan pasukanya merasa bersalah dan merasa ingin mati saja tetapi mereka dihibur oleh Simpati, adik dari Jatayu dan selanjutnya memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana untuk sampai ke Alengka dan istana Rawana tersebut. Setelah sampai dikaki gunung, Hanoman berangkat sendiri ke alengka untuk menyelidiki situasi keadaan dalam benteng pihak musuh sementara para pasukanya menikmati pemandangan indah itu.

Pupuh 8 (1-214) : Dalam perjalanan di udara Hanoman berhadapan dengan beberapa raksasa dan raksasi namun semuanya sanggup dikalahkan hingga akhirnya Hanoman sampai pada kota Lengka dan menyamar menjadi seekor kelinci. Disebelah timur kota Alengka Hanoman menemukan Sita dan melihatnya yang amat gugup dan bingung. Beberapa waktu kemudian datanglah Rawana yang membujuk dan merayunya agar mau untuk dijadikan istrinya dengan di iming-imingi akan diberikan apapun yang Sita mau. Sita menolak semua rayuan dan janji yang diberikan Rawan hingga akhirnya Rawana geram dan mengancam Sita dengan pisau belatinya. Rawana pergi dari kamar Sita kemudian meminta para Raksasa untuk menggoda dan mengganggu Sita tetapi Sita selalu dilindungi oleh trijata anak dari Wibhisana yang merupakan adik dari Rawana. Setelah semua raksasa tersebut pergi Hanuman datang untuk mendekati Sita dan menceritakan apa yang telah terjadi bahwa dia adalah utusan dari Rama dan memberikan cincin Rama sebagai bukti dalam melenyapkan rasa curiga Sita. Sita menitipkan sebuah surat kepada Hanoman untuk diberikan kepada Rama bersama sebuah manikam. Setelah tugas Hanoman selesai dia menghancunkan pepohonan di Alengka.

Pupuh 9 (1-93) : Setelah tau apa yang telah terjadi Rawana meminta para raksasa untuk menangkap dan membunuh Hanoman, tetapi sumuanya mampu dikalahkan oleh anoman. Setelah mandi dilaut Hanoman meneruskan pengrusakanya dan sekarang dia kini berhadapan dengan Indrajit dan membiarkan dirinya terlilit oleh panahnya yang berbentuk ular. Hanoman dibawa kehadapan Rawana dan dia meminta para raksasa untuk membunuhnya tetapi dibantah dengan tegas oleh Wibhisana bahwa seorang duta adalah kebal.

Pupuh 10 (1-72) : Hanuman memuji-muji keutamaan rama hingga dia meminta permintaan terkhir agar Sita dikembalikan kepada Rama. Rawana akhirnya memberikan perintah kepada para raksasa agar membakar Hanoman dan membungkus ekornya dengan bahan yang mudah terbakar.

Pupuh 11 (1-96) : Dengan ekornya yang menyala-nyala Hanoman kabur dengan berlarian serta meloncat kesana kemari hingga menyebabkan kraton dan seluruh kota terbakar. Hanoman melanjutkan perjalananya ketempat Rama dan menyerahkan surat dari Sita untuk Rama. Rama beserta pasukanya menuju kota Alengka dan mengepungnya, begitu juga Hanoman menyiapkan pasukanya hingga turun kelaut.

Pupuh 12 (1-65) : Deskripsi tentang kota Lengka yang sedang bangun dari tidurnya dan para raksasa yang berkumpul untuk menghadap sang raja yang kemudian tampil.

Pupuh 13 (1-97) : yang terakhir masuk adalah Wibhisana dan sebelumnya berdoa kepada siwa dan menjenguk ibunya yang mendukung usahanya untuk menasehati raja. Rawanapun akhirnya menanyakan kepada semua yang hadir jalan mana seyogyanya yang harus ditempuh. Patihnya menganjurkan untuk tetap melanjutkan perang dan Wibhisana memberikan uraian panjang lebar mengenai kaidah seorang raja dan meminta Rawana agar mengembalikan Sita kepada Rama.

Pupuh 14 (1-70) : Kumbakarna membela Rawana, Wibhisana memperingatkan Rawana akhirnya Rawana marah sekali dan Wibhisanapun mengundurkan diri.

Pupuh 15 (1-69) : Wibhisana menggabungkan diri dengan Rama dan ditrima dengan baik.  Rama mengangakat busurnya dan melepaskanya kelaut dan membuat para ikan dan naga jadi bingung. Baruna raja laut memberi saran pada Rama untuk membuat bendungan. Para kera mulai mengumpulkan bahan.

Pupuh 16 (1-47) : nala membuat bendungan dan para kera melintasinya dan mencapai gunung sumela.

Pupuh 17 (1-138) : Rawana menipu daya sita dengan membuat tiruan kepala Rama dan menunjukkan pada Sita. Rawana merayu Sita dengan menunjukkan kepalanya rama tetapi Sita memilih untuk mati seperti Rama. Trijata menemui ayahnya Wibhisana disana dia melihat Rama masih segar bugar bersama bala pasukanya. Dia kembali dan menghibur Sita dengan memberi tahu Sita bahwa Rama masih hidup.

Pupuh 18 (1-52) : Sukasarana diminta Rawana ke gunung untuk mengintai gerak gerik musuh. Dia dipergoki dan dikembalikan ke Lengka dan melaporkan pada Rawana agar menempuh jalan damai tetapi hal tersebut membuat Rawana semakin marah.

Pupuh 19 (1-131) : deskripsi tentang persiapan perang para pasukan kera dan persiapan perang pasukan raksasa.

Pupuh 20 (1-80) : Para kera dan raksasa perang satu lawan satu akhirnya apsukan kera menang, Indrajit dipukul mundur tetapi dengan yoga dia mendapatkan kekuatan istimewa dan mendapatkan panah sakti. Panah yang bisa melilit seperti ular tersebut melilit tubuh Rama dan Laksmana. Ia dilempar kembali oleh Wibhisana ke alengka dan melaporkan bahwa Rama telah mati. Dialengka pesta pora.

Pupuh 21 (1-248) : Sita jatuh pingsan melihat tubuh Rama terkapar. Trijatapun putus asa, dipagi hari datanglah rsi dari surga dan melantunkan puji pujian untuk Rama, dan putuslah semua lilitan tersebut. Kesehatan merekapun kembali dipulihkan oleh garuda.

Pupuh 22 (1-89) : Kumbakarna dibangunkan dari tidurnya, setelah makan dengan lahab Rawana mendapatkan jawaban yang menusuk hati karena kesalahanya sendiri tetapi Kumbakarna tetap berangkat ke medan pertempuran dan melawan Sugriwa yang dibantu oleh Hanuman. Sugriwa tertimpa bebatuan gunung dan diangkat oleh Kumbakarna tetapi dikejar oleh Hanuman, saat Sugriwa terbangun langsung menggigit hidung Kumbakarna hingga putus.

Pupuh 23 (1-85) : Rama dan Laksmana terjun dalam pertempuran, baju besi Kumbakarna di hancurkan dengan panah Laksmana dan kemudian di tewaskan dengan panah Rama. Rawanapun menyesal dan meminta Indrajit untuk terjun kembali dan memanah dengan panah biusanya sehingga para pasukan kera, Rama dan Laksmana tertidur pulas dalam pertempuran. Hanya Wibhisana yang kebal terhadap racun tersebut dan meminta panglima kera untuk ke gunung Himalaya mencari daun ramuan. Setelah mendapatkanya semua dapat dibangunkan dan peperangan besarpun terjadi. Rawana berdoa kepada dewa Siwa dan berangkat dengan kereta emasnya.

Pupuh 24 (1-260) : Rama menggunakan panah pemberian dewa Indra dan langsung memanah kesepuluh leher dan kepala Rawana. Terjadi pertempuran yang hebat hingga alam semesta goncang. Rawana mati dan wibhisana bersedih tetapi Rama mencoba untuk menghibur Wibhisana.

Pupuh 25 (1-117) : isi pupuh ini menceritakan tentang perjalanan yang dilalui selama perang.

Pupuh 26 (1-52) : Kembali ke Ayodya dan diadakan pesta meriah.

sumber asli : Kalangwan karya P.J. Zoetmulder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s