Pembukaan cupu Panjala


Desa Girisekar terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta , merupakan dataran tinggi yang bergunung dan berbukit – bukit ,kondisi alam yang demikian menyebabkan daerah ini lebih dikenal sebagai daerah kering dan miskin air . Berbagai upaya telah dilakukan oleh penduduk untuk menjaga kelangsungan hidupnya baik berupa fisik maupun non fisik yaitu lewat kepercayaan pada hal – hal atau benda tertentu yang mempunyai kekuatan . Pada kenyataannya bentuk kepercayaan pada kekuatan benda yang mampu memberi perlambang atau ramalan dapat mempengaruhi sikap masyarakat ketika menghadapi tantangan alam yang sangat keras . Sebagian penduduk bahkan percaya terdapat benda yang diyakini mempunyai kekuatan yang dapat dipergunakan sebagai penunjuk musim bertanam atau pranata mangsa , bahkan benda tersebut dapat dimintai berkah supaya kehidupannya lebih baik , benda tersebut berujud sebuah cupu yaitu Cupu Panjala.

Menurut cerita yang dikisahkan oleh Bapak Dwijo Sumarto , tempat Cupu Panjala itu berada

Bahwa usia Cupu tersebut kurang lebih 600 tahun dan merupakan peninggalan para leluhur secara turun temurun, dikisahkan seorang Kyai bernama Panjala keturunan prajurit Majapahit melarikan diri dan mengungsi ke daerah Gunung Kidul. Pada suatu hari Kyai Panjala mengembara hingga sampai di pantai Gesing di daerah Gunung Kidul. Ketika ia menjala di laut bukan ikan yang ia dapat melainkan tiga buah cupu yang kemudian dibawa kerumah. Hingga saat ini oleh masyarakat setempat Cupu tersebut dipercaya bisa memberikan tanda – tanda alam atau perlambang dan ramalan tentang masa depan desa tersebut sehingga Cupu tersebut dikeramatkan dan bertuah yang bisa meramal kejadian – kejadian alam dimasa datang atau memberi pertanda bagi kelangsungan kehidupan pertanian. Cupu Panjala yang dipercaya mempunyai tuah berjumlah tiga buah , ketiga buah Cupu tersebut diletakkan dalam sebuah kotak atau peti dan dibungkus dengan beratus – ratus kain mori dan diletakkan di ruangan khusus dimana tidak sembarangan orang bisa masuk atau membukanya . Cupu tersebut hanya dibuka setahun sekali ketika musim hujan akan tiba bertepatan dengan hari pasaran Kliwon. Ketiga Cupu yang bertuah itu masing – masing memiliki nama Cupu yang paling besar bernama Semar Kinandhu , Cupu yang kedua yaitu Cupu tengahan bernama Kalang Kinanthang , sedang Cupu yang terakhir yang paling kecil disebut Kenthi Wiri.

Menurut sejarahnya Cupu tersebut sudah mengalami perpindahan tempat sebanyak tiga kali dan diturunkan secara bergantian menurut trah tertua dari generasi ke generasi . Sejak tahun 1957 hingga saat ini Cupu tersebut berada di Dusun Colo Rejo , di rumah Bapak Dwijo Sumarto yang merupakan menantu generasi ke 7 dari Trah Kyai Panjala.

Pada perkembangan selanjutnya upacara Pembukaan Cupu Panjala menjadi tempat keramat , sakral dan ajang masyarakat dari berbagai lapisan untuk meminta berkat dan berbagai keinginan dari masyarakat. Tidak heran jika banyak artis , pejabat dan masyarakat luas dari berbagai daerah berbondong – bondong datang ke upacara tersebut dengan berbagai macam kepentingan dan permintaan ada yang mohon penglarisan bagi mereka yang pedagang , pengasihan , naik pangkat , sukses dalam berusaha dll. Dari tahun ke tahun upacara tersebut semakin banyak dihadiri pengunjung sebab bagi mereka yang merasa terkabul permintaannya akan membayar nazar di tahun mendatang.

 

Pelaksanaan Upacara :

Sebelum pelaksanaan upacara pembukaan Cupu Panjala ibu – ibu warga dusun tersebut mulai mempersiapkan rangkaian hidangan untuk kenduri , sudah menjadi tradisi turun temurun sebelum upacara pembukaan Cupu Panjala biasanya diawali dengan upacara kenduri . Nasi kenduri yang dimasak berasal dari para tamu yang datang baik dari tamu yang sudah terkabul permintaannya pada tahun sebelumnya maupun para tamu yang ingin minta berkat saat pembukaan tahun ini. Banyak sedikitnya nasi kenduri yang dimasak oleh warga dusun ini tergantung pada banyaknya orang yang ingin memberi nazar karena keberhasilannya dalam berusaha berkat Cupu Panjala.

Dari tahun ke tahun jumlah orang yang memberi kenduri semakin banyak. Nasi tersebut nantinya akan dibagikan dan menjadi hidangan untuk tamu yang hadir.

Setelah uba rampe atau keperluan sesaji yang terdiri dari Nasi gurih ,Entho – entho , Ayam Ingkung dsb telah siap kemudian dibawa masuk untuk didoakan , setelah selesai nasi tersebut kemudian dibagikan kepada pengunjung dan diletakkan dalam piring. Sementara itu wakil keluarga trah Panjala mengumumkan acara kenduri wilujengan atau syukuran segera dimulai. Tak lama kemudian piring – piring yang berisi nasi gurih dan kelengkapannya dibagikan ke semua orang yang hadir di tempat tersebut. Mesti jumlah yang hadir tersebut ratusan orang , namun semuanya tetap mendapat sepiring nasi kenduri hasil dari sumbangan tamu yang telah berhasil dalam permohonanya kepada Kyai Cupu Panjala. Setelah makan bersama nasi kenduri selesai para tamu dan masyarakat yang hadir kembali menunggu acara puncak yaitu pembukaan Cupu Panjala.

Menurut wakil keluarga acara pembukaan Cupu Panjala tidak bisa ditentukan waktunya semua tergantung kesiapan sesaji yang sedang dipersiapkan .

Sementara itu di dapur warga dusun masih tetap sibuk memasak kali ini yang dimasak adalah sesaji untuk upacara Pembukaan Cupu Panjala berupa nasi gurih , srundeng dan segala uba rampenya.

Kira – kira pukul dua dini hari salah satu Trah Ki Panjala mengumumkan bahwa upacara membuka Cupu segera dimulai. Sebelumnya nasi gurih dan srundeng beserta uba rampenya dibawa masuk untuk didoakan bersama sesaji yang lain, setelah selesai nasi tersebut ditempatkan dalam piring dan dibagikan pada para tamu yang datang, namun karena nasi tersebut terbatas dianjurkan satu piring untuk dua orang atau istilah jawa makan secara kembulan ( sepiring berdua ) , ini merupakan berkat dari Cupu Panjala yang harus disyukuri.

Setelah acara sesaji dan makan nasi kembulan selesai upacara pembukaan Cupu dimulai disaksikan para tamu yang mengelilinginya , bagi para wanita tidak diperkenankan untuk mendekat ke Cupu tersebut, yang membuka adalah trah Kyai Panjala.

 

Setelah Cupu dalam kotak itu dibuka dan kain mori yang membungkusnya diteliti satu persatu, gambar atau tanda yang terdapat dalam mori tersebut kemudian segera diumumkan oleh kerabat trah kepada para pengunjung yang ada diluar dengan menggunakan pengeras suara. Biasanya gambar – gambar yang terpampang dalam mori tersebut mempunyai perlambang atau ramalan pada peristiwa yang akan terjadi. Pada pembukaan Cupu yang sudah berlangsung sejak dulu beberapa gambar atau tanda yang terdapat di kain mori yang menjadi perlambang akan peristiwa yang terjadi sudah menjadi kenyataan. Biasanya masyarakat yang hadir di tempat itu kemudian menginterprestasikan sendiri makna yng terkandung dalam lambang atau tanda dalam kain mori yang disampaikan oleh wakil keluarga trah Panjala. Percaya atau tidak yang pasti perlambang atau ramalan itu telah mampu membuktikan lewat peristiwa – peristiwa besar yang telah terjadi yang kadang menyebabkan perubahan cara pandang bagi orang yang mempercayainya.

Setelah semua kain mori yang berjumlah ratusan lembar itu dibuka dan diumumkan kepada masyarakat pada pagi harinya Cupu Panjla di bungkus kembali dengan mori – mori tersebut dan kembali disimpan untuk dibuka setahun lagi , maka selesailah rangkaian upacara Pembukaan Cupu Panjala.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s