Upacara Bersih Desa Parang Tritis (kreteg)


Update: Thursday, September 04, 2003
Parangtritis merupakan salah satu desa di Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Di desa Parangtritis terdapat upacara tradisional bersih dusun yang terkenal dengan sebutan Bhekti Pertiwi yang bertempat di Pendopo Joglo Pariwisata Mancingan.
Upacara bersih desa dilatar belakangi adanya sebuah cerita rakyat tentang asal usul dusun Mancingan. Konon dulu ada seorang bangsawan Majapahit Begawan Selopawening sampai Pantai Selatan dan mendirikan Padhepokan untuk menyebarluaskan ajaran Budha. Pada suatu ketika datang pula Syech Maulana Magkribi ke padhepokan Begawan Selopawening dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Syech Maulana Magkribi mengutarakan tujuannya tersebut kepada Begawan Selopawening dan bahkan memintanya untuk memeluk agama Islam. Permintaan tersebut ditolak, kecuali kesaktian Syech Maulana Magkribi mampu menandingi kesaktiannya. Salah satu adu kesaktian yang harus dimenangkan adalah memancing. Ternyata dalam pertandingan dimenangkan oleh Syech Maulana Magkribi. Dengan kekalahan ini, maka padhepokan diserahkan kepada Syech Maulana Magkribi yang kemudian dijadikan Pondok Pesantren. Tempat pertandingan ini diselenggarakan di muara sungai Opak di Pantai Selatan. Kemudian diberi nama Pemancingan yang dalam perkembangannya menjadi dusun Pemancingan atau Mancingan. Sampai sekarang makam Syech Maulana Magkribi dan Begawan Selopawening tetap dihormati dan dipelihara oleh masyarakat dusun Mancingan khususnya dan Parangtritis pada umumnya.

Upacara Bersih Dusun/Bhekti Pertiwi ini bertujuan :
– Sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rejeki kepada masyarakat dusun Mancingan.
– Melestarikan budaya luhur warisan nenek moyang bangsa Indonesia.
– Memperbanyakkhasanah budaya bangsa Indonesia.
– Menciptakan aset wisata baru yaitu wisata budaya untuk mendukung pembangunan obyek pariwisata Parangtritis.

Waktu dan Tempat Upacara.
Upacara bersih dusun/Bhekti Pertiwi diselenggarakan pada hari Selasa Wage setelah warga masyarakat memetik hasil panen pada kira-kira bulan Mei. Apabila bulan Mei bertepatan dengan bulan Suro maka ditunda lebih dahulu, sebab bulan Suro dusun Mancingan dikunjungi banyak orang. Pemilihan waktu upacara pada hari Selasa Wage sebab waktu itu dianggap baik dan membawa berkah bagi masyarakat dusun Mancingan. Adapun tempat upacara di Pendopo Joglo dusun Mancingan, Parangtritis.

Peralatan sesaji dalam upacara adalah :
a. Untuk ngguwangi antara lain berupa :

– Jadah : Makanan yang terbuat dari beras ketan dimasak bersama parutan kelapa, melambangkan persatuan diantara masyarakat.
– Wajik : Makanan yang terbuat dari beras ketan dimasak bersama dengan
parutan kelapa dan gula kelapa, wajik ini rasanya manis dan melambangkan persatuan dan kebahagiaan.
– Pisang Raja : Melambangkan suatu harapan agar masyarakat hidupnya selalu
bahagia seperti raja.
– Bunga Rasulan : Hanya yang terdiri dari mawar, melati, dan kenanga. Bunga ini
melambangkan keharuman doa yang keluar dari hati yang tulus.
– Jajan pasar : Sesaji yang terdiri dari bermacam-macam makanan yang dibeli di pasar. Melambangkan suatu harapan agar masyarakat selalu memperoleh berkah dari tuhan.

– Jenang merah : Bubur yang terbuat dari beras dan diberi garam dan gula kelapa,
Melambangkan sebuah harapan kepada kedua orangtuanya agar supaya memberi maaf kepada anaknya. Warna merah melambangkan keberanian.
– Jenang putih : Bubur yang terbuat dari beras dan diberi garam, jenang putih
melambangkan harapan seorang anak kepada kedua orangtua agar diberi doa restu, warna putih melambangkan kesucian.
– Tumpeng
Mancanegara : Tumpeng yang terdiri lima macam warna ( hitam, hijau, putih,
kuning dan merah muda ). tumpeng ini melambangkan sebagai sarana agar makhluk halus di sekitar tempat upacara tidak mengganggu.
– Ancak : Wadah yang terbuat dari batang pisang berbentuk segi empat
dengan diberi alas belahan bambu. Ancak ini berisi jadah, wajik, pisang raja, bunga rasulan, jajan pasar, jenang merah, jenang putih, tumpeng poncowarno. Ancak beserta isinya disebut sesaji ngguwangi maksudnya adalah untuk memberi makan kepada makhluk halus di tempat itu agar mereka tidak mengganggu orang yang lewat.

b. Untuk kenduri .
– Ketan : Makanan yang terbuat dari beras ketan dimasak bersama
parutan kelapa. Ketan ini melambangkan sarana untuk mengirim arwah leluhur agar selalu dekat dengan Tuhan.
– Kolak : Makanan terbuat dari pisang, ketela rambat, kolang kaling
yang dimasak manis. Kolak melambangkan menolak segala perbuatan jahat dan agar selalu dekat dengan Tuhan .
– Nasi liwet ayam : nasi putih biasa dengan lauk daging ayam. Nasi liwet ini
melambangkan rasa terimakasih masyarakat terhadap roh leluhur.
– Nasi Wuduk : Nasi putih yang diberi santan, garam dan daun salam sehingga
rasanya gurih. Nasi wuduk ini melambangkan harapan keselamatan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya.
– Ingkung : Ayam yang dimasak secara utuh diberi bumbu tidak pedas dan
santan. Ingkung melambangkan manusia ketika masih bayi belum memiliki kesalahan atau masih suci. Disamping itu juga melambangkan kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan.
– Pisang Raja, jadah, wajik.
– Takir : Tempat untuk nasi wuduk dan lauk pauknya
– Jodhang : Tempat untuk menempatkan sesaji kenduri seperti liwet, nasi
wuduk, ingkung, pisang raja, takir berisi nasi wuduk, ketan, kolak dsb. Jodhang ini terbuat dari kayu dengan ukuran 1,5 m x 1 m dan tingginya kira – kira 15 cm. Adapun bentuk Jodhang bermacam – macam misalnya ada yang berbentuk kotak.
Prosesi Upacara.
Pada pukul 09.00 wib jodhang – jodhang yang berisi sesaji dari delapan RT di Mancingan dibawa ke pendopo Joglo Pariwisata untuk melaksanakan upacara kenduri sebagai wujud dari upacara Bhekti Pertiwi.
Pada pukul 10.00 wib upacara Bhekti Pertiwi dimulai dengan diawali sambutan ketua panitia yang berisi maksud dan tujuan dari upacara sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunianya dilanjutkan sambutan – sambutan dari pejabat Kecamatan dan kabupaten . kemudian memasuki inti upacara yaitu mengikrarkan sesaji kenduri . Ikrar diucapkan oleh tokoh masyarakat dusun Mancingan . Upacara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh tokoh masyarakat juga . Setelah ikrar dan doa dilanjutkan makan bersama dari sesaji kenduri tersebut.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s