Upacara Grebeg Kraton


Update: Saturday, May 01, 2004
Berasal dari kata Gerebeg / gerbeg bermakna suara angin, Garebeg merupakan salah satu adat Keraton Kasultanan Yogyakarta pertamakalinya diadakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Garebeg merupakan suatu upacara kerajaan melibatkan seisi keraton, segenap aparat kerajaan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Garebeg secara formal bersifat keagamaan yang dikaitkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam ( Idul Fitri dan Idhul Adha ). Garebeg secara politik juga menjabarkan gelr Sulrtan yang bersifat Kemuslimatan = Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah. Upacara ini diselenggarakan tiga kali selama  satu tahun sejak masa Sultan hamengku Buwono I sampai dengan Sultan Hamengku Buwono IX yaitu :

Garebeg Mulud, Garebeg Besar, Garebeg Sawal.

Pada penyelenggaraan garebeg biasanya disemarakkan dengan tradisi sekaten di alun – alun lor ( utara ).

Upacara Garebeg mempunyai tiga arti penting :

a.       Religius, sebab penyelenggaraan upacara garebeg  berkenaan dengan kewajiban Sultan untuk menyebarkan dan melindungi agama Islam. Hal ini sesuai dengan peranannya sebagai Sayidin Panatagama Kalifatullah.

b.      Historis berkaitan dengan keabsahan Sultan dan kerajaannya sebagai ahli waris syah dari Panembahan Senapati dan kerajaan Mataram Islam .

c.       Kultural karena penyelenggaraan upacara ini menyangkut kedudukan Sultan sebagai pemimpin suku bangsa jawa yang mewarisi kebudayaan para leluhur yang diwarisi oleh kepercayaan lama.

Pada upacara garebeg Sultan mengeluarkan hajad dalem berupa Gunungan. Gunungan yang biasa dikeluarkan dalam upacara Garebeg yaitu :

a.       Gunungan Lanang

b.      Gunungan wadon

c.       Gunungan Gepak

d.      Gunungan Pawuhan

e.       Gunungan Dharat

Sedangkan jenis gunungan Kutug / Bromo hanya dikeluarkan pada upacara Garebeg Mulud Dal.

 

Tempat – tempat yang dipakai untuk upacara Garebeg dibagi menjadi 2 ( dua ) yaitu :

a.       Tratrag Sitihinggil.

Merupakan tempat khusus untuk melakukan upacara pasowanan garebeg, Sultan berada di bangsal Manguntur Tangkil duduk  di Singgasana kemasan yang diletakkan diatas selo gilang yaitu batu yang ditinggikan.

 

b.      Kompleks Masjid Besar

Tempat yang digunakan yaitu pelataran depan serambi  Masjid Besar disebelah utara dan selatan dipergunakan untuk mendengarkan gamelan Sekaten ( Kyai Guntur madu dan Kyai Nogowilogo ). Setelah berada di bangsal pagongan gamelan Kyai sekati ini dimainkan setiap hari kecuali hari kamis petang sampai Jum’at siang selama 6 hari 6 malam dari sesudah sholat Al Isya ( sembahyang malam ) samapai tengah malam dan sesudah sembahyang pagi ( sholat Subuh ) sampai petang lagi. Sebagai permulaan setiap lagu mesti didahului oleh gendhing wirangrong.

 

Pusaka – pusakaKeraton yang  selalu  ditampilkan dalam setiap Garebeg ialah : Gamelan Kyai Kodok Ngorek dan Kyai Monggang serta kereta kerajaan Kyai Garudayaksa. Pada Garebeg Mulud ditampilkan pula gamelan sekatenyang terdiri dari 2  ( dua ) unit yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu

 

  1. Garebeg Pasa/Sawal/Bakda

Maksud diadakannya garebeg ini untuk menghormati bulan suci Ramadhan dan menghormati malam kemuliaan ( lailatul Wqadar ) sering disebut dengan maleman atau selikuran . Keraton merayakan maleman / selikuran sebagai suatu upacara kerajaan yang khusus diselenggarakan menjelang pelaksanaan garebeg pasa / sawal dengan mengadakan pasowanan selikuran pada tanggal 21 bulan Ramadhan dan dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh para sultan penggantinya . Pada masa sri Sultan HB VIII ( 1921 – 1939 ) dilakukan penyederhanan dan perubahan pasowanan selikuran dan sejak Sri Sultan HB IX meniadakan tradisi pasowanan selikuran ini .

Ngabekten dilakukan setiap tanggal 1 Sawal ( Idul Fitri ) dan pada masa Sultan HB IX dilakukan secara sederhana , Sultan tak lagi duduk di Singgasana emas ( dhampar kencana ) dan tidak mengenakan busana kebesaran ( busana keprabon ).

 

  1. Garebeg  Besar

Maksudnya untuk merayakan Idhul Adha , hari raya Islam yang kedua , terjadi dalam bulan Zulhijah yang dalam kalender jawa disebut bulan Besar sehingga Garebeg yang diselenggarakan untuk merayakan Idhul Adha disebut Garebeg Besar . Dahulu Garebeg besar juga disertai dengan pasowanan Garebeg di Sitihinggil dengan maksud mengadakan selamatan negara di masjid besar berupa gunungan dll.  Sesuai dengan tata cara yang berlaku dalam garebneg besar Sultan tidak melakukan kunjungan ke Msjid Besar tetapi Sultan menyerahkan sejumlah hewan kurban dan menyerahkan sejumlah hean kurban.

 

  1. Garebeg Maulud

Garebeg ini diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal.

Tahap – tahap penyelenggaraan untuk Garebeg Maulud :

– Upacara  gladi resik untuk mengadakan evaluasi kesiapan prajurit Kraton,yang diserahi tugas Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit.

– Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan  pembuatan gunungan

– Upacara Miyosipun Hajad Dalem yang merupakan puncak upacara. Upacara ini adalah mengantar / mengiring keluarnya hajad dalem yang berujud gunungan dari dalam Keraton ke masjid Besar yang diserahi tugas ialah Kyai Pengulu Keraton Yogyakarta.

 

  1. Garebeg Maulud  Dal

Merupakan Garebeg yang diselengarakan setiap delapn tahunsekali. Kehadiran Sultan di Masjid Besar untuk melakukan kegiatan religius yang bersifat ke Islaman yakni untuk menendang tumpukan batubata yang ditempatkan disebelah pintu terbuka di pagar tembok bagian selatan masjid Besar. Hal ini sebagai tindakan simbolik yang melambangkan rakyat pada zaman Kasultanan Demak secara resmi telah meninggalkan agama Hindu – Budha untuk memeluk agama Islam. Upacara ini dilakukan hanya setiap delapan tahunsekali atau dalam sewindu.

 

 

GUNUNGAN

Gunugan adalah salah satu wujud sesajian selamatan ( dalam bahasa jawa disebut sajen wilujengan ) yang khusus dibuat untuk disajikan dalam selamatan negara (dalam bahasa jawa wilujengan negari ) setiap garebeg dan maleman / selikuran.

Sesajian gunungan adalah sesajian sakral yang sudah disucikan dengan doa mantra oleh karenanya gunungan dianggap mengandung kekuatan magis yang mampu menolak bala . Anggapan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa sesajian gunungan dilandasi kain banguntulak.

Bangunan khusus untuk pembuatan gunungan dinamakan omah.  Gunungan ( omah = rumah ) Ada 6 ( enam )  jenis gunungan yaitu gunungan Lanang, Wadon, Gepak, pawuhan. Dharat, Kutug / Bromo.

Gunungan Kutug / Bromo hanya dibuat setiap delapan tahunsekali bertepatan dengan tahun Dal, untuk disajikan dalam selamatan negara Garebeg Maulud Dal.

 

a.          Gunungan Dharat.

Gunungan ini pada bagian puncaknya berhamparkan kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam dan disekelilingnya ditancapi dengan sejumlah besar kue ketan berbentuk lidah yang disebut ilat – latan ( lidah ) . Gunungan ini diletakkan tegak diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dan diberi alas kain bangun tulak dibawah nampan dipasang dua batang kayu / bambu panjang sebagai alat pemikul.

 

b.      Gunungan Gepak

Gunungan ini  bukan sebagai gunungan yang berdiri sendiri tetapi merupakan deretan tonjolan – tonjolan tumpul ( gepak ) yang terdiri dari empat puluh buah keranjang berisi beraneka macam kue kecil – kecil yang terdiri atas lima macam warna yaitu merah, biru, kuning, hijau dan hitam. Diatas tumpukan kue – kue tersebut dalam setiap keranjang diberi buah – buahan. Semua keranjang diletakkan diatas nampan raksasa berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 meter dan diselimuti dengan kain bangun tulak serta keempat penjurunya dihiasi dengan potongan kain berwarna kuning.

 

c.           Gunungan Kutug / Bromo

Merupakan Gunungan yang dibuat delapan tahun sekali yakni setiap tahun Dal pada saat upacara garebeg maulud Dal. tetapi di bagian puncaknya diberi lubang untuk menampakkan sebuah anglo berisi bara yang membakar segumpal besar kemenyan, sehingga secara terus menerus mengepulkan asap tebal jika dihembus angin. Pajangannya berupa beraneka macam kue berwarna warni hampir sama dengan pajangan gunungan lanang, bervariasi dengan gunungan wadon. Dibagian bawah beralaskan kain banung tulak dan diletakkan tegak  diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu berukuran 2 x 1,5 m.

 

d.         Gunungan Lanang

Gunungan ini pada bagian puncak disebut mustaka ( kepala ) ditancapi kue terbuat dari tepung beras yang disebut Badheran  karena bentuknya seperti ikan badher. Badheran dihias dengan lima kalungan bunga melati yang diujungnya beruntaikan bunga kanthil. Bagian mustaka dipasang melingkar bola – bola kecil disebut bendul, dibawahnya dipasang melingkar rapat satu rangkaian telur asin, diseluruh bagian batang tubuh dipasangi ratusan kacang panjang, bagian puncaknya diberi sebuah kue berbentuk cincin. Kue tersebut terbuat dari ketan yang disebut  Kucu  dan ketiap kucu digantungi sebuah kue berbentuk segitiga kecil yang disebut upil – upil. Seluruh batang tubuh gunungan lanag selain dipasangi ratusan kacang panjang juga diberi sejumlah besar rangkian lombok / cabe merah yang besar – besar dan diberi sembilan buah telur rebus dan sembilan telur asin. Setap gunungan lanang diletakkan tegak lurus diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 m. nampan ini selain dipasangi sebuah  gunungan juga masih diberi hiasan berupa dua belas nasi tumpeng dengan lauk pauknya yang diberi wadah  empat bungkusan daun pisang. Disamping itu masih diberi empat buah kelapa muda dan sepasang daun muda serta alas kain bangun tulak , keempat penjuru digantung empat kalung rangkaian bunga melati.

 

e.       Gunungan Pawuhan

Bentuk Gunungan ini sangat mirip dengan gunungan wadon . Bagian puncaknya ditancapi bendera kecil berwarna putih dibagian bawah puncak ditancapi  sejumlah lidi bambu yang setiap ujungnya diberi bulatan kecil berwarna hitam yang disebut picisan . gunungan ini dialasi dengan kain banguntulak dn diletakkan tegak diatas nampan raksasa berkerangka kayu.

 

  1. Gunungan Wadon

Bentuknya seperti gunung dengan bagian puncak yang terlalu lancip, juga mirip dengan payung terbuka, bagian mustaka dihampiri kue besr berbentuk lempengan dengan warna hitam yang sekelilingnya ditancapi lidi – lidi bambu panjang, diberi kue ketan berbentuk seperti paruh burung betet yang disebut betetan. Bagian bawh batang tubuh berupa penyangga berbentuk kerucut terbalik yang dibuat dari sejumlah besar pelepah daun pisang . selain itu diberi kue berbentuk lengkaran besar terbuat dari ketan berwarna coklat yang disebut wajik, dan diberi aneka macam kue kecil – kecil serta buah – buahan. Gunungan wadon diletakkan tegak diatas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 m dengan diberi alas kain bangun tulak, dikeempat penjuru nampan digunakan potongan kain kuning.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s