Melacak Santri Mojopahit


Menurut martin van bruinessen, pesantren tegalsari merupakan pesantren tertua di jawa pada abad ke 18. Sebab pada abad ke 17 bahkan ke 16 tdak di temukan data otentik adanya pondok pesantren. Bung karno berpendapat bahwa Gajah mada, “setelah perang bubat, gajah mada melarikan diri ke sumatera, tetapi tidak begitu lama kembali ke majapahit dan sebelum sampai majapahit tersangkut arus sungai hingga ke selatan”. Mungkin yang di maksud sungai itu adalah kali brantas dari kertosono ke selatan dan yang meneruskan ke pantai selatan adalah kali ngrowo di tulungagung.
Akhir perjalanan hidup gajah mada di sekitar wilayah Kediri bisa jadi mengandung kebenaran. Mengingat: pertama, kediri merupakan jalur lalu lintas perjalanannya sewaktu meloloskan diri {waktu itu jalur lalu lintas utama adalah sungai}. Kedua, masa kecil pendadarannya ada di sekitar kediri. Ketiga, Gajah mada pernah menjadi patih di Dhaha selama dua tahun. Keempat, adanya kemungkinan keberadaan gajah mada di kediri di sembunyikan dan di lindungi oleh Adipati Patih Demang Panoelar atau Pangeran Dfemang dan keluarganya.
Gajah mada setelah perang bubat pada 1357, coba di bunuh oleh para prajurit Majapahit atas perintah Raja Hayam Wuruk, karena di anggap bersalah memerangi raja dan pasukan sunda. Hingga calon permaisurinya Dyah pitaloka bunuh diri. Namun gajah mada berhasil kabur. Dalam kitab negarakertagama di sebutkan bahawa gajah mada meni nggal tahun 1364.
Cerita menarik lainnya adlah bahwa ketika menetap di kediri gajah mada telah masuk Islam, berita ini di perkuat dengan di temukannya situs beupa makam di kawasan pekuburan Islam di dusun Tukum, desa Mrican kecamatan Majarata kabupaten Kediri. Di makam itu di tuliskan nama Ki Ageng Tukum yang di nisbatkan nama muslimnya Gajah Mada. Namun setelah tahun 1920, makam ki Ageng Tukum tersebut di pindahkan di Desa Badal, Ngadiluwih, Kediri.

Komentar ditutup.