PUJANGGA


R. Ng. Ronggowarsito

________________________________________

KOLOTIDO

Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” bab.8, seperti di bawah ini:

• Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi

• melu edan ora tahan

• yen tan melu anglakoni boya kaduman melik

• kaliren wekasanipun

• Dillalah karsaning Allah

• Sakbeja-bejane wong kang lali

• luwih beja kang eling lan waspada..

Apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi :

• Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak,

• ikut gila tidak tahan

• jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik,

• akhirnya menjadi ketaparan.

• Namun dari kehendak Allah,

• seuntung untungnya orang yang lupa diri,

• masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada.

Kemudian gubahan ini diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma, berbunyi “bo-RONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya”. Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.

Masyarakat Jawa tidak akan gampang melupakan sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito. Tokoh yang hidup pada masa ke-emasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan ‘warisan tak terharga’ berupa puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta ditunjang bakat, mendudukkan ia sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta.

R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.

Sebagai putra bangsawan Burham mempunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko. Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan khayalannya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang, bahkan pada Serat Sabda Jati terdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri.

Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara., adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta.. Semasa kecil beliau diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, watak Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana.

Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.

Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan ‘klitikan’ (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham berjumpa dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi isterinya.

Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo/Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya. Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari.

Ketika kembali ke Pondok, kenakalan Bagus Burham tidak mereda. Karena kejengkelannya, maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya.

Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi kawan-kawannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara. Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang amat berguna baginya. Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu perbuatan jahat atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani.Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu :

Pertama: Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras.

Kedua: Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa. Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa.

Ketiga: Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman. Hal ini diperoleh dari Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman. Hal ini diperoleh dari Gusti Pangeran Harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jaya-kawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom.

Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.

Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas ngabehi Sarataka, pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi. Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur.Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani.

Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24. Inalilahi waina ilahi rojiun.*

__________

Kini KALIYUGA ??

M a n g k y a d a r a j a t i n g p r a j a

k a w u r y a n w u s s u n y a r u r i

r u r a h p a n g r e h i n g u k a r a

k a r a n a t a n p a p a l u p i

KERTANEGARA tahu bahwa dirinya hidup di zaman kaliyuga, suatu babak terakhir sejarah Bumi. Ditandai dengan kekacauan, kekalutan, gonjang-ganjing, bencana alam silih berganti. Kehidupan rakyat bagaikan gabah ditampi. Begitulah jagat memberikan titah, perintah kepastian.Kendati demikian, Raja Singasari yang mulai memerintah mulai tahun 1270 tidak menyerah. Entah karena optimisme atau karena kesombongannya. Kidung Panji Wijayakrama mencatat sifatnya yang angkuh, ahangkara (terlalu percaya pada kekuatan dan kekuasaannya). Ia menentang kekuasaan Tartar yang menjadi satu-satunya superpower dunia.Untuk menunjukkan kedigdayaannya, Kertanegara melakukan politik ekspansif. Ia menaklukkan kerajaan Melayu yang berpusat di Jambi. Kekuasaannya meluas sampai Selat Malaka. Sekalipun sukses melakukan politik ekspansif, tetapi kehidupan politik domestik kacau. Seperti yang dicatat Negarakretagama, yaitu terjadi pemberontakan Cayaraja, pemberontakan Mahisa Rangkah. Semua pemberontakan memang bisa dipatahkan, tetapi tak urung menyerap energi kerajaan. Ketidakpuasan rakyat semakin merebak akibat perubahan kebijakan politik domestik. Dengan gelar Siwa-Budha, Kertanegara meyakini bahwa raja sebagai penguasa tunggal itu selalu benar. Siapa yang berani berbeda, apalagi sampai membantah, sama dengan merongrong kewibawaan raja. Untuk itu aparat pemerintah yang berani berbeda pendapat disingkirkan seperti yang dialami Raganata yang terkenal sangat cerdas dan bijaksana. Raganata dipelorot dari jabatan Patih Amangkubumi menjadi Ramadyaksa di Tumapel. Raganata legowo (ikhlas) menerima keputusan itu.

Berbeda dengan Pujangga Santasemetri yang tidak legowo. Untuk menutupi kekecewaannya, ia memilih menyingkir ke hutan menjadi pertapa. Lain lagi dengan Wiraraja yang diturunkan dari jabatannya sebagai demung menjadi Adipati Sumenep (Madura), sangat tidak puas. Ia menyimpan dendam. Kemudian ia menjadi provokator utama untuk menumbangkan Kertanegara. Tataran puncak kaliyuga terjadi pada tahun 1292. Raja bawahan Singasari, Jayakatwang dari Gelang-gelang melakukan kudeta militer setelah diprovokasi Wiraraja. Kudeta dilakukan di saat kekuatan militer Singasari kosong karena melakukan ekspansi ke mancanegara. Kertanegara tewas mengenaskan dalam kudeta itu.

***

SEJARAH tidak selalu dipahami sebagai garis yang menghubungkan titik-titik kemajuan. Ada yang memahami sebagai cakra manggilingan (roda yang berputar). Jaman kaliyuga sesuai kehendak jagat pernah hadir sebelum Kertanegara.Empu Sedah dan Empu Panuluh dalam Kakawin Bharatayudha sudah menulis jauh sebelumnya. Setelah Raja Suyudana dari Astina meninggal dalam perang Baratayuda melawan Pendawa, tak ada lagi kekhawatiran ada yang akan bikin rusak. Untuk itu Wisnu yang menitis pada Sri Kresna kembali ke alam kadewatan (tempat dewa). Roda jaman berputar. Angkara murka kembali merebak. Tanah Jawa yang digambarkan sebagai mozaik dunia rusak. Rakyat dicekam ketakutan. Kejahatan merajalela karena tidak ada lagi yang menjaga. Untuk itulah Wisnu datang lagi menjelma pada diri Prabu Jayabaya di Daha. Berkat pemerintahan Jayabaya, tanah Jawa kembali aman tenteram rakyatnya hidup sejahtera. Keadaan itu tidak abadi. Jaman kaliyuga kembali datang dan membuat Daha terbelah menjadi Jenggala dan Kediri. Sampai akhirnya lahirlah Singasari.

Siklus kaliyuga memang selalu diwarnai dengan pergantian kekuasaan. Di akhir abad ke-15, kaliyuga datang dengan menghancurkan Majapahit. Kekuasan bergeser ke belahan tengah Jawa yaitu Demak, dan puncak kejayaannya terjadi pada jaman Sultan Agung di Mataram.

Pada jaman Amangkurat I yang memerintah Mataram mulai tahun 1646, datanglah jaman gelap. Ketika raja tidak lagi menjadi seperti air bagi yang kehausan, bagaikan obor bagi yang kegelapan, patung bagi yang kepanasan. Raja kehilangan watak ber budi bawa leksana, menepati janji dan memiliki akal budi. Ketika penguasa lekang dari amanat keilahian sebagai sayidin panetep panata gama kalipatullah, pemimpin agama yang berpegang dan menata agama, wakil Tuhan di Bumi. HJ De Graaf, penulis sejarah tentang Mataram yang paling lengkap menggambarkan betapa rakyat hidup dalam teror kekuasaan. Amangkurat I melumuri tangannya dengan darah ribuan ulama, saudara-saudaranya, pejabat bawahannya, bahkan istri-istri dan anak-anak.

Dalam kaliyuga juga memperkenalkan balasan bagi angkara murka. Berlaku asas hukum ngunduh wohing pakerti, memetik hasil perbuatan sendiri. Sama seperti nasib Kertanegara, Amangkurat I mengakhiri hidupnya dengan tragis. Ia tewas pada tanggal 28 Juni 1677 sebagai pelarian setelah diserang Trunajaya.

Kehadiran kaliyuga digambarkan tidak selalu berkait dengan kekuasaan yang angkara murka. Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga tanah Jawa yang hidup di abad ke-19 lebih melihat sebagai siklus sejarah. Semacam pepesten, takdir. Ia memang meratapi jaman itu dengan karya puisinya, Serat Kalatida, puisi jaman gelap. Ia menulis: Mangkya darajating praja/kawuryan wus sunya ruri/rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi.Tatkala derajat kerajaan sudah senyap, aturan kacau, tiada kejernihan nalar, suasana seperti gila. Kegilaan bukan karena penguasanya tidak becus. Buktinya ia melanjutkan: Ratune ratu utama/patihe linuwih/pra nayaka tyas raharja/ panakare becik-becik, rajanya utama, menterinya ahli, kebijakan pejabatnya bagus.

Bisa jadi Ranggawarsita memang tidak mau terang-terangan mengkritisi penguasa. Ia lebih menggunakan sanepan (sindiran). Tatkala ia bicara darajating praja, sebenarnya menuding raja karena inti dari kerajaan adalah raja. Bisa dimaklumi karena dia adalah seorang pujangga istana. Dia orang Jawa priayi yang sangat eufemistis.

Gaya Ranggawarsita inilah barangkali yang diduplikasi Sri Sultan Hamengku Buwono X ketika pada tanggal 1 Juli 1993 mengungkap gejala gara-gara (kekacauan) dan jaman kalabendu, suatu jaman hukuman dan bencana. Gejalanya di jaman ini persepsi terhadap aspek kehidupan yang legalistik. Persepsi ini menciptakan suasana pendekatan yang kaku, dan kurang memberi tempat pada harkat dan martabat kemanusiaan. Merebaknya budaya kekerasan, kebrutalan dan budaya perang atau just war, yang kerap kali dipakai sebagai alasan untuk mempertahankan diri.

Sri Sultan memang tidak menuding munculnya jaman ini akibat kesalahan rezim Soeharto. Sebagai orang Jawa priayi, ia sangat eufemistik. Meskipun penggunaan istilah kalabendu lebih bermakna sebagai hukuman Tuhan akibat perbuatan dosa manusia. Dalam dosa kolektif, penguasa menempati urutan pertama karena sebagai penanggung jawab masyarakatnya.

Dr Djoko Suryo, pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengatakan, dilihat fenomena yang disebut dalam kaliyuga yang memandang sejarah secara spekulatif-sekarang ini kita hidup di jaman itu. “Lihat saja, kondisi negara kan seperti yang digambarkan Kalatida. Pemerintah tidak berwibawa. Para elite seperti tidak memiliki kejernihan berpikir. Kekacauan di mana-mana. Rakyat dalam kebingungan. Kehidupan bangsa tidak ada arah,” katanya.

***

KALIYUGA, bagi mereka yang memahami sejarah secara spekulatif, adalah siklus sejarah. Setelah itu akan hadir jaman kertayuga atau ada yang menyebut kalakerta. Bahkan boleh dibilang, kaliyuga adalah prasyarat hadirnya jaman kertayuga. Suatu jaman emas. Jaman gemilang. Jaman yang digambarkan dengan: loh jinawi gemah ripah tata tentrem kerta raharja. Gambaran keadaan negara ini pula yang ingin diwujudkan Presiden Abdurrahman Wahid.

Tidak ada pakem yang menyatakan berapa lama siklus itu berlangsung. Pada jaman Prabu Jayabaya, siklus terjadi begitu cepat. Kertayuga terwujud pada saat dia memerintah. Siklus dari jaman Kertanegara baru terjadi sekitar 60 tahun kemudian ketika Majapahit sebagai kelanjutan Singasari diperintah Prabu Hayam Wuruk. Hanya siklus tidak terjadi dengan sendirinya. Melainkan melalui tangan Sang Pembebas atau Ratu Adil. Paham ratu adil atau mesianisme begitu populer di kalangan rakyat. Sudah menjadi mitos yang sangat kuat. Dalam pertumbuhannya ada pertautan antara paham mesianisme Jawa dengan paham Imam Mahdi pada sebagian kelompok Islam.

Pertautan ini semakin kuat karena Islam yang berkembang di Jawa ini sebagian dari paham Syiah yang kental dengan ide mesianisme, yaitu hadirnya Imam ke-12. Maka simbol-simbol gerakan mesianisme di Indonesia, khususnya Jawa merupakan visualisasi perpaduan mesianisme Islam dengan tradisi Jawa. Misalnya, Jayabaya dalam teks tua menurut Dr J De Hollander (1848), diceritakan berguru kepada Maulana Rum yang kalau melihat istilah maulana berarti Muslim. Jayabaya juga diidentikkan dengan Ratu Sekti yang berasal dari Wali Allah. Banyak gerakan ratu adil yang menyatakan memiliki pasukan sirullah berupa malaikat, jin, lelembut.

Dalam tulisan Prof Dr Sartono Kartodirdjo (1984), terbaca jelas perpaduan itu dalam pelbagai gerakan keagamaan di Jawa abad ke-19 dan ke-20 yang bercorak mesianistik. Misalnya, gerakan Pangeran Diponegoro yang menyandang nama Panembahan Erucakra, gerakan Jasmani di Blitar, gerakan Amat Ngisa di Jateng, gerakan Pak Jebrak di Mojokerto, gerakan Kiai Kasan Mukmin di Sidoarjo, Nyi Aciah di Malangbong, gerakan Dulmajid di Yogyakarta, gerakan Pulung, Srikaton, Imam Sujono di Ponorogo. Gerakan mesianistik di akhir abad ke-20 diperkuat dengan ideologi milenaristik yaitu akan hadirnya jaman emas di abad ke-21 yang dimulai dengan kehadiran ratu adil atau Imam Mahdi di akhir abad ke-20. Seperti gerakan Muhammad Arif yang menyandang nama Romo Bung Karno alias Imam Mahdi di Malang tahun 1998, gerakan Samsuri di Banyuwangi tahun 1999.

Ramalan Alvin Toffler bahwa abad ke-21 adalah abad kebangkitan agama, dalam kasus Indonesia mendapat tuangan warna mesianistik dan milenaristik. Kebangkitan agama lantas divisualisasikan dengan kehadiran Sang Pembebas, corak gerakan berupa pengaduk-adukan emosi melalui massalisasi kegiatan ritual keagamaan. Gerakan ini sering kali bernuansa politis seperti show of force untuk menunjukkan dukungan atau menggertak lawan.

Lantaran kuatnya mitos ratu adil di hati rakyat, maka banyak tokoh yang memiliki visi populis menggunakan paham ini untuk memperoleh dukungan rakyat. Maka yang paling awal digarap menjadi pengikut adalah masyarakat yang frustasi dan tidak rasional, atau ada yang mengistilahkan masyarakat paranoid. Penyebab frustasi bisa macam-macam seperti kemiskinan yang menindih, ketakutan, konflik. Lapisan masyarakat bawah menjadi sasaran empuk karena rendahnya tingkat berpikir secara rasional.

Untuk itulah, tokoh mesianisme akan menjanjikan terwujudnya jaman kertayuga di mana keadaan negara benar-benar loh jinawi gemah ripah tata tentrem kerta raharja, tanamannya subur, harga-harga murah, perdagangan dan pelayaran berkembang, aman tenteram dan sejahtera. Tokoh itu akan mencari legitimasi secara supranatural seperti ke kuburan orang-orang suci, tempat-tempat yang dianggap keramat, benda-benda berkekuatan magis. Pinjam istilah ROG Anderson (1972), itulah pandangan Jawa tradisional terhadap konsep kekuasaan. Bahkan kekuasaan itu kongkret. Ada pada keris, kuburan, tombak, jubah, tongkat, cincin, kutang, pulung, yaitu seberkas sinar gaib.

Bung Karno, misalnya, seperti ditulis Dr Sindhunata (1999), datang ke petilasan Jayabaya di Menang, Kediri (Jatim). Disaksikan banyak orang, setelah berdiam di tempat itu selama sekitar tujuh menit mengaku telah menerima wahyu kedaton, wahyu kenegaraan. Bung Karno pun dimitoskan sebagai ratu adil dan memiliki kesaktian luas biasa seperti HOS Tjokroaminoto, guru politik Bung Karno. Bahkan di mata Samsuri, Bung Karno tidak mati melainkan masih hidup di Alas Purwo Banguwangi. Muhammad Arief mengaku titisan Bung Karno sehingga berganti nama Romo Bung Karno.

Sawito pada tahun 1970-an menobatkan diri menjadi ratu adil setelah mendapat wahyu di hutan Ketangga, Ngawi. Ketangga diramalkan akan menjadi pusat kerajaan Prabu Erucakra, ratu adil yang hidup di sekitar tahun 1900. Syamsuri mengaku mendapat mandat sebagai juru selamat pada saat kiamat pada tanggal 9 September tahun 1999 jam 09.09. Ramalan yang ternyata meleset dan ia dipenjara karena membikin keresahan masyarakat, sama nasibnya dengan Sawito dan Arif.

***

MESIANISME dalam kurun sekarang bisa jadi tidak hanya dipersepsi dalam diri seorang tokoh. Bisa dalam suatu gerakan atau institusi. Gerakan reformasi yang me-lengser-kan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, bisa bergeser secara substansial menjadi gerakan mesianisme bila tidak dikemas dalam suatu rasionalitas. Suatu konsep strategi dan penataan untuk mewujudkan agenda-agenda reformasi secara menyeluruh dan terpadu.

Kemungkinan terjadinya pergeseran itu sangat besar. Kita memiliki kultur mesianistik, milenaristik yang kuat. Pada saat reformasi berada di puncak dua tahun lalu, ada yang melihat sebagai goro-goro yang mengawali datangnya satria piningit yang dalam kata lain juga ratu adil.

Kultur mesianistik ini bisa dipakai oleh elite kekuasaan untuk menutupi ketidakmampuannya memecahkan persoalan secara rasional. Untuk jamu kebingungannya menghadapi kompleksitas permasalahan. Untuk itulah, tokoh yang memanfaatkan kultur ini, akan selalu membuat akrobat-akrobat politik yang meluruhkan emosi rakyat. Akan membawa rakyat semakin dalam ke alam mesianistik juga. Bahkan untuk itu, harus mengurbankan institusi yang bertumpu pada man power of reason. Misalnya, menggunakan perguruan tinggi untuk melakukan ruwatan.

Di samping itu, pergeseran juga karena lemahnya visi reformasi. Para mahasiswa yang menjadi tombak reformasi hampir seluruhnya telah kembali ke kampus. Padahal merekalah yang paling tahu visi reformasi. Maka pengendali reformasi seperti kosong. Yang muncul kemudian adalah reformis gadungan dan oportunis yang muncul kemudian, yang sebenarnya tidak punya visi reformasi. Kekuatan status-quo yang mengenakan topeng reformasi.

Kalau reformasi bersentuhan atau bahkan bergeser substansi menjadi gerakan ratu adilisme, pada dasarnya telah berada dalam siatuasi yang sangat gawat. Bahkan telah kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah luapan eforia yang dahsyat. Kekuasaan lantas dipersepsi sebagai tumpeng yang dibagi-bagi sebagai rejeki nomplok.

Kebebasan lantas diterjemahkan sebagai keleluasaan memaki-maki orang lain. Kebebasan lebih berdimensi keliaran dan sesuka hati. Hak asasi lantas bergeser menjadi egoisme tanpa mengindahkan sopan santun, tata susila, tata sosial, dan toleransi, bahkan sarat dengan balas dendam, kebencian serta menegatifkan pihak lain.

Pergeseran secara substansial ke mesianistik, menurut sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Hotman M Siahaan, menciptakan fatalisme baru. Menjadikan masyarakat tidak survive. “Ini jelas berlawanan dengan civil society yang akan kita bangun. Karena civil society itu dibangun atas dasar civic culture yang antara lain bertumpu pada rasionalitas, hukum,” katanya. “Yang pasti, kalau kita masih berpandangan mesianistik berarti kita kembali ke pramodern. Atau menunjukkan kita masih tradisional. Untuk mewujudkan cita-cita reformasi butuh pemimpin rasional yang bisa melihat masalah secara jernih. Memiliki konsep dan visi untuk membawa bangsa keluar dari krisis secara rasional,” tegas Djoko Suryo.

Mesianisme memang menjadi obat mujarab, tetapi hanya untuk sementara waktu. Tatkala janji-janji kertayuga hanyalah angin surga yang tanpa kenyataan, rakyat tetap terpuruk dalam kemiskinan, kenistaan, penderitaan lahir batin, maka merebaklah kekecewaan baru. L Stodard menganalogkan akhir gerakan mesianisme itu seperti padang ilalang yang terbakar dan musnah dalam sekejap. Setelah itu tinggalkan serpihan jelaga yang diterpa angin.

Kekecewaan baru akan membiakkan krisis kepercayaan yang lebih dahsyat. Rasa frustasi yang lebih berat. Hidup dalam sekarat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s