Analisis Teks dan Naskah


1.      Hasil Suntingan Teks:

//o// ‘Kasmaran èlinga kaki’, aja tungkul ²suka² wirya, wong suka duka têmahé, milané Jêng Susuhunan, {(ing)} Giri³ angandika, ing bénjang sapungkur (r) ingsun, poma ing wawêkasing wang //

Aparat Kritik:

A’ = I’ = I²   bait I, D tidak ada

1-1             A’        : éngêt-éngêt aywa lali

A’        : saka

A’        : Gir

A’        : Ringsun

I’         : ringsun

I²         : Ringsun

s           : ingsun

A’        : wekasing

2.      Suntingan teks merupakan salah satu dari sekian banyak hasil kerja penelitian filologi. Suntingan teks merupakan teks yang telah mengalami pembetulan-pembetulan dan perubahan-perubahan sehingga dianggap bersih dari segala kekeliruan (Darusuprapta, 1984: 5). Suntingan teks ini berupaya untuk menyajikan bacaan yang bersih terhindar dari tulisan yang rusak dengan mengadakan kritik dan alatnya berupa aparat kritik. Suntingan teks dilakukan dengan cara melakukan koreksi pada teks. Koreksi tersebut bisa berupa penambahan, pengurangan, maupun penggantian bacaan teks

3. Metode suntingan teks

Dalam penelitian ini metode yang dipakai dalam membuat suntingan teks adalah metode induk atau metode landasan dengan edisi standar. Metode landasan ini digunakan karena jumlah naskahnya lebih dari satu yaitu empat naskah. Selain itu diantara empat naskah yang ada ini ada yang mempunyai keunggulan dibandingkan dengan naskah yang lain, serta ada teks yang lebih unggul kualitasnya. Naskah dan teks unggul yang dipilih berdasarkan deskripsi, pemetaan keluarga naskah dan perbandingan teks.

4. Aparat kritik adalah bahan pembanding yang menyertai penyajian suatu naskah. Isi aparat kritik adalah segala perubahan (conjectura) pengurangan (eliminatio) atau penambahan (divination)yang dilakukan oleh peneliti sebagai pertanggungjawaban ilmiah dalam suatu penelitian terhadap suatu naskah. Aparat kritik memuat kelainan bacaan yang berupa variasi ejaan, kata dan gatra yang terdapat dalam teks-teks pembanding. Pembahasan koreksi bisa berupa pembetulan, penambahan bacaan, penghapusan maupun perubahan bacaan terhadap teks landasan.

5. Manfaat aparat kritik bagi suntingan naskah :

Aparat kritik digunakan apabila peneliti akan mengadakan perubahan, penambahn, ataupun pengurangan, semuanya dicatat dan ditempatkan pada aparat kritik.dengan aparat kritik memungkinkan bagi pembaca untuk melihat  varian-varian yang terdapat dari naskah yang seversi. Jadi aparat kritik merupakan pertanggungjawaban ilmiah, dan tujuan penyertaan aparat kritik agar pembaca dapat mengecek bagaimana bacaan naskah dan apabila perlu membuat penafsiran sendiri.

6. Langkah-langkah penelitian:

  1. Metode penelitian
  • Menggunakan metode peneletian deskriptif. Yang meliputi, deskripsi kondisi fisik dan unsur instrinsik naskah, transliterasi (diplomatis, orthografis terbatas), pemetaan keluarga naskah, perbandingan, suntingan, dan terjemahan teks.
  1. Subjek penelitian
  2. Pengumpulan data
  • Instrumen penelitian adalah kartu yang digunakan untuk mencatat semua data berhubungan dengan subjek penelitian, yang diperoleh dari hasil pembacaan dan transliterasi.
  • Teknik pengumpulan data, meliputi inventarisasi naskah, deskripsi naskah, transliterasi diplomatik, memasukkan data dalam kartu data.
  1. Analisis data yaitu menggunakan teknik analisis deskriptif yang berlaku dalam penelitian kepustakaan. Langkah-langkah analisis data:
  • Deskripsi kondisi fisik dan instrinsik naskah yaitu dengan cara memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci mengenai kondisi fisik dan unsur intrinsik naskah.
  • Transliterasi diplomatis dan orthografis terbatas, transliterasi diplomatis dilakukan dengan cara melakukan alih aksara. Transliterasi orthografis terbatas dilakukan dengan cara melakukan penyempurnaan transliterasi diplomatik.
  • Pemetaan keluarga naskah yaitu dilakukan dengan cara mengelompokkan, berdasarkan kriteria banyaknya persamaan dan perbedaan dalam jumlah pupuh, kandungan bait teks, asasi cerita.
  • Perbandingan teks, dilakukan dengan cara membandingkan setiap variasi dari keluarga terpilih.
  • Suntingan teks: dilakukan dengan cara melakukan koreksi pada teks.
  • Terjemahan teks: dilakukan dengan cara menerjemahkan keseluruhan teks yang berbahasa jawa dalam bahasa indonesia, secara bebas sesuai dengan konteks.

10 Prinsip Lichacev

1. Tekstologi adalah ilmu yang menyelidiki sejarah teks suatu karya. Salah satu diantara penerapannya yang praktis adalah edisi ilmiah teks yang bersangkutan. Dalam tekstologi juga mempelajari seluk beluk tek, antaranya adalah meneliti penjelmaan dan penurunannya. Gambaran sejarahnya dapat ditemukan pada edisi ilmiah teks yang bersangkutan.

2. Penelitian teks harus didahulukan dari penyuntingannya. Suntingan teks merupakan teks yang telah mengalami pembetulan-pembetulan dan perubahan-perubahan sehingga dianggap bersih dari segala kekeliruan. Jadi dengan melakukan penelitian terlebih dahulu maka akan tahu teks pada bagian mana sajakah yang perlu adanya penyuntingan.

3. Edisi ilmiah teks harus menggambarkan sejarahnya. Karena dengan adanya gambaran sejarah tentang teks yang diteliti maka akan mempermudah dalam melakukan penyelidikan tentang sejarah teks tersebut.

4. Tidak ada kenyataan tekstologi tanpa penjelasan. Dalam tekstologi itu mempelajari seluk-beluk teks yang antaranya adalah meneliti penjelmaan, penurunan teks sebuah karya sastra, penafsiran, pemahaman maupun sejarahnya yang semuanya itu berupa penjelasan-penjelasan.

5. Secara metodis perubahan yang diadakan secara sadar dalam sebuah teks harus didahulukan daripada perubahan mekanis. Maksudnya perubahan metodis seperti perubahan ideologis, artistik dan psikologis harus didahulukan dapat dimengerti dahulu maksud apakah yang terkandung dalam teks. Dan ketika melakukan perubahan mekanis akan menjadi lebih mudah.

6. Teks harus diteliti secara keseluruhan. Karena dalam penelitian menggunakan prinsip kekompleksan. Yaitu untuk mempermudah dalam penelitian, karena suatu teks tidak akan dapat dimengerti apabila hanya ditinjau dari sebagian saja. Informasi (sejarah teks, dll) dalam teks akan terungkap semuanya jika teks diteliti secara keseluruhan.

7. Bahan-bahan yang mengiringi sebuah teks harus diikutsertakan dalam penelitian. Selain bahan-bahan tersebut sebagai sumber, juga digunakan sebagai bahan pembanding yang dapat menyertai penyajian suatu naskah.

8. Perlu diteliti pemantulan sejarah teks sebuah karya dalam teks-teks dan monumen sastra lain. Teks-teks karya dari monumen sastra lain tersebut dijadikan bahan pembanding untuk mengetahui sejauh mana pemantulan sejarah teks yang sedang diteliti. Sehingga hal mengenai sejarah teks menjadi jelas.

9. Pekerjaan seorang penyalin dan kegiatan skriptoria-skriptoria tertentu harus diteliti secara menyeluruh. Untuk mengetahui jika ada kesalahan-kesalahan pada salinan teks, sehingga mengetahui apakah penyebab terjadinya kesalahan-kesalahan tersebut dan bisa membenarkannya.

10. Rekonstruksi teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan dalam naskah-naskah. Karena walaupun teks yang direkonstruksikan atau dipugar dipandang paling dekat dengan yang ditulis oleh pengarang, namun teks aslinya itu hanya ada dalam ingatan pengarang/pengelola cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s