Nilai Etis dalam Serat Tripama


BAB I
 PENULIS SERAT
1.      PENGARANG
Serat Tripama dikarang oleh Sri Mangkunegara IV (1809 – 1881) di Surakarta beliau menulis serat Tripama (Tiga Tamsil/Tiga Teladan) yang menceritakan kisah keteladanan Kumbakarna dan dua tokoh wayang lainnya ( Bambang Sumantri / Patih Suwanda dan Suryaputera / Karna ).
2.      DUNIA KRATON
Lahirnya Mangkunegaran berawal dari meletusnya Perang Suksesi Jawa III. Perang Suksesi Jawa III adalah perang yang terjadi antara pasukan pendukung VOC (Pakubuwana II, kemudian dilanjutkan oleh putranya, Pakubuwana III) dengan pasukan anti VOC (R.M. Said dan Pangeran Mangkubumi). Kemudian pada tahun 1755, VOC mengeluarkan Perjanjian Giyanti untuk menyelesaikan perang tersebut. Isi dari Perjanjian Giyanti adalah membagi wilayah Mataram menjadi dua, yaitu Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwana III dan Yogyakarta di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwana I). Hal ini ditentang oleh R.M. Said karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.
Selanjutnya, R.M. Said berjuang melawan VOC sendirian. Kehebatannya dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Karena hal tersebut ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Tidak ada yang bisa menaklukan R.M. Said, oleh karena itu pihak VOC meminta Pakubuwana III untuk mengadakan perjanjian damai dengan R.M. Said. Hal tersebut disetujui oleh R.M. Said dengan persyaratan pihak VOC tidak boleh ikut campur. Akhirnya, terjadilah perdamaian yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Salatiga (17 Maret 1757). Perjanjian ini memberi R.M. Said separuh wilayah Surakarta dan mengangkatnya menjadi Pangeran Adipati dengan Istananya yang beranama Puro Mangkunegaran. Setelah menjadi pangeran, ia bergelar Mangkunegara I.
Wilayah itu kini mencakup bagian utara Kota Surakarta (Kecamatan Banjarsari, Surakarta ), seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar , seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri , dan sebagian dari wilayah Kecamatan Ngawen dan Semin di Kabupaten Gunung Kidul .
Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebut Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan Fürst di Jerman) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Status yang berbeda ini tercermin dalam beberapa tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti jumlah penari bedaya yang tujuh, bukan sembilan seperti pada Kasunanan Surakarta. Setelah kemerdekaan Indonesia, Mangkunegara VIII (penguasa pada waktu itu) menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Secara tradisional penguasanya disebut Mangkunagara (baca: ‘Mangkunagoro’). Raden Mas Said merupakan Mangkunagara I. Saat ini yang memegang kekuasaan adalah Mangkunagara IX. Penguasa Mangkunegaran berkedudukan di Pura Mangkunegaran yang terletak di Kota Surakarta.
 Berikut adalah silsilah Mangkunegara:
1.Mangkunegara I (1757-1795)
            Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I alias Pangeran Sambernyowo alias Raden Mas Said (Kraton Kartasura, 7 April 1725 – Surakarta, 28 Desember 1795) adalah pendiri Praja Mangkunagaran, sebuah keadipatian tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunagara Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.
LATAR BELAKANG,
 Perjuangan RM Said dimulai bersamaan dengan pemberontakan laskar Tionghoa di Kartosuro pada 30 Juni 1742 yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi atau disebut Sunan Kuning,mengakibatkan tembok benteng kraton Kartasura setinggi 4 meter roboh. Pakubuwono II, Raja Mataram ketika itu melarikan diri ke Ponorogo. ketika itu RM Said berumur 19 tahun. Dia bergabung bersama-sama untuk menuntut keadilan dan kebenaran atas harkat dan martabat orang orang Tionghoa dan rakyat Mataram, yang ketika itu tertindas oleh Kumpeni Belanda (VOC) dan Rajanya sendiri Pakubuwono II .Geger pecinan ini berawal dari pemberontakan orang-orang Cina terhadap kompeni di batavia. Kemudian mereka menggempur Kartasura,yang dianggap sebagai kerajaan boneka dari Belanda. Sejak Pasukan Cina mengepung kartasura pada awal 1741, para bangsawan mulai meninggalkan Kraton Kartasura. RM Said membangun pertahanan di Randulawang, sebelah utara Surakarta, Ia bergabung dengan laskar Sunan Kuning melawan Kompeni. Said diangkat sebagai panglima perang bergelar Pangeran Perang Wedana Pamot Besur. Ia menikah dengan Raden Ayu Kusuma Patahati. Adapun Pangeran Mangkubumi justru lari ke Semarang, menemui penguasa Belanda dan meminta dirinya dirajakan. Kompeni menolak permintaan itu. Ia kemudian bergabung dengan Puger di Sukowati. Berkat bantuan Belanda, pasukan Cina diusir dari Istana Kartasura, enam bulan kemudian, Paku Buwono II kembali ke Kartasura mendapatkan istananya rusak. Ia memindahkan Istana Mataram ke Solo (Surakarta). Kebijakan raja meminta bantuan asing itu, ternyata harus dibayar mahal. Wilayah pantai utara mulai Rembang, Jawa Tengah, hingga Pasuruan, Surabaya dan Madura di Jawa Timur harus diserahkan kepada Kompeni. Setiap pengangkatan pejabat tinggi Keraton wajib mendapat persetujuan dari Kompeni. Posisi raja tak lebih dari Leenman, atau “Peminjam kekuasaan Belanda”. Pangeran Mangkubumi, akhirnya kembali ke Keraton.
BERGABUNGNYA PANGERAN MANGKUBUMI,
 Pangeran Mangkubumi lalu bergabung dengan Mangkunegoro, yang bergerilya melawan Belanda di pedalaman kan untuk kedua kalinya dengan Raden Ayu Inten, Puteri Mangkubumi. Sejak saat itulah RM Said memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto. Nama Mangkunegoro diambil dari nama ayahnya, Pangeran Aryo Mangkunegoro Kartasura, yang dibuang Belanda ke Sri Langka. Ketika RM Said masih berusia dua tahun, Aryo Mangkunegoro ditangkap karena melawan kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwono I) yang dilindungi Kompeni dan akibat fitnah keji dari Patih danureja. Mungkin karena itulah, Said berjuang mati-matian melawan Belanda. Melawan Mataram dan Belanda secara bergerilya, MangkuneYogyakarta, Mangkunegoro dalam usia 22 tahun, dinikahgoro harus berpindah-pindah tempat. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta ia mendengar kabar bahwa Paku Buwono II wafat. Ia menemui Mangkubumi, dan meminta mertuanya itu bersedia diangkat menjadi raja Mataram. Mangkubumi naik tahta di Mataram Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ngaloka Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Penobatan ini terjadi pada “tahun Alip” 1675 (Jawa) atau 1749 Masehi. Mangkunegoro diangkat sebagai Patih -perdana menteri- sekaligus panglima perang dan istrinya, Raden Ayu Inten, diganti namanya menjadi Kanjeng Ratu Bandoro. Dalam upacara penobatan itu, Mangkunegoro berdiri di samping Mangkubumi. Dengan suara lantang ia berseru, “Wahai kalian para Bupati dan Prajurit, sekarang aku hendak mengangkat Ayahanda Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogya Mataram. Siapa dia antara kalian menentang, akulah yang akan menghadapi di medan perang” meski demikian, pemerintahan Mataram Yogyakarta berpusat di Kotagede itu tidak diakui Belanda. Setelah selama sembilan tahun berjuang bersama melawan kekuasaan Mataram dan Kompeni, Mangkubumi dan Mangkunegoro berselisih paham, pangkal konflik bermula dari wakatnya Paku Buwono II. Raja menyerahkan tahta Mataram kepada Belanda. Pangeran Adipati Anom, putera Mahkota Paku Buwono II, dinobatkan sebagai raja Mataram oleh Belanda, dengan gelar Paku buwuno III, pada akhir 1749.
MANGKUNEGORO I BERJUANG SENDIRIAN MELAWAN 3 KEKUASAAN,
 RM Said berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752. Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, sebagai hasil rekayasa Belanda berhasil membelah bumi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, merupakan perjanjian yang sangat ditentang oleh RM Said karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.
Selanjutnya, ia berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan Pakubuwono III & Hamengkubuwono I (yaitu P. Mangkubumi,Pamannya sekaligus mertua Beliau yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh VOC), serta pasukan Kumpeni (VOC), pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun, pasukan Mangkoenagoro melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.
Dalam membina kesatuan bala tentaranya, Said memiliki motto tiji tibèh, yang merupakan kependekan dari mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan motto ini, rasa kebersamaan pasukannya terjaga.
PERTEMPURAN DAHSYAT YANG TERJADI,
 Tiga pertempuran dahsyat terjadi pada periode 1752-1757.Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman.
Yang pertama, pasukan Said bertempur melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) di desa Kasatriyan, barat daya kota Ponorogo, Jawa Timur. Perang itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 16 Syawal “tahun Je” 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Said setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan, dan Ponorogo. Di desa ini terdapat peninggalannya yaitu Ndalem Pramudhaningratan yang ditinggali oleh anak keturunan Raden Said yaitu keluarga Pramudhaningrat.
Yang kedua, Mangkoenagoro bertempur melawan dua detasemen VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan negeri Rembang, tepatnya di hutan Sitakepyak Sultan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Mangkunegoro. Besarnya pasukan Sultan itu dilukiskan Mangkunegoro “bagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus”. Kendati jumlah pasukan Mangkunegoro itu kecil, ia dapat memukul mundur musuhnya. Ia mengklaim cuma kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 menderita luka. Di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas. Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah (Senin Pahing, 17 Sura, tahun Wawu 1681 J / 1756 M).Pada pertempuran ini, Mangkunegoro berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan kepada salah satu istrinya sebagai hadiah perkawinan.
Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg Belanda dan keraton Yogya-Mataram ( Kamis 3 Sapar, tahun Jumakir 1682 J / 1757 M).Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara Kompeni yang mengejar Mangkunegoro sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Mangkunegoro murka. Ia balik menyerang pasukan Kompeni dan Mataram. Setelah memancung kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, secara diam-diam Mangkunegoro membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng Kompeni Belanda, yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara Kompeni tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Selanjutnya pasukan Mangkunegoro menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh Mangkunegoro baru menarik mundur pasukannya menjelang malam. Serbuan Mangkunegoro ke Keraton Yogyakarta mengundang amarah Sultan Hamengku Buwono I. Ia menawarkan hadiah 500 real, serta kedudukan sebagai bupati kepada siapa saja yang dapat menangkap Mangkunegoro. Sultan gagal menangkap Mangkunegoro yang masih keponakan dan juga menantunya itu. Kompeni, yang tidak berhasil membujuk Mangkunegoro ke meja perundingan, menjanjikan hadiah 1.000 real bagi semua yang dapat membunuh Mangkunegoro.
PERJANJIAN SALATIGA,
 Tak seorang pun yang berhasil menjamah Mangkunegoro. Melihat kenyataan tersebut, Nicholas Hartingh, penguasa Kompeni di Semarang, mendesak Sunan Paku Buwono III meminta Mangkunegoro ke meja perdamaian. Sunan mengirim utusan menemui Mangkunegoro, yang juga saudara sepupunya. Mangkunegoro menyatakan bersedia berunding dengan Sunan, dengan syarat tanpa melibatkan Kompeni. Singkatnya, Mangkunegoro menemui Sunan di Keraton Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Sunan memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk prajurit Mangkunegoro.Akhirnya, terjadilah perdamaian dengan Sunan Pakubuwana III yang diformalkan dalam Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757. Pertemuan berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri. Sunan memohon kepadanya agar mau membimbingnya. Sunan menjemput Mangkunegoro di Desa Tunggon, sebelah timur Bengawan Solo. Untuk menetapkan wilayah kekuasaan Said, dalam perjanjian yang hanya melibatkan Sunan Paku Buwono III, dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I dan VOC ini, disepakati bahwa Said diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri. Walaupun hanya sebagai adipati, kedudukan hukum mengenai Mangkunagara I (nama kebesarannya), tidaklah sama dengan Sunan yang disebut sebagai Leenman sebagai penggaduh, peminjam kekuasaan dari Kumpeni, melainkan secara sadar sejak dini ia menyadari sebagai “raja kecil”, bahkan tingkah lakunyapun menyiratkan bahwa “dia adalah raja di Jawa Tengah yang ke-3”. demikian kenyataannya Kumpeni pun memperlakukannya sebagai raja ke III di Jawa Tengah, selain Raja I Sunan dan Raja II Sultan.
Ia memerintah di wilayah Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Akhirnya, Mangkunagara mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunagaran. Mangkunagara I tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Selama menjalankan pemerintahannya, ia menerapkan prinsip Tridarma.
PASUKAN WANITA LASKAR MANGKUNEGORO,
 Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan Kompeni. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegoro mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.
TARIAN CIPTAAN MANGKUNEGORO,
 Tarian sakral yang telah diciptakan oleh RM.Said (KGPAA Mangkoenagoro I), yaitu : 1. Bedhaya Mataram-Senapaten Anglirmendung (7 penari wanita, pesinden, dan penabuh wanita), sebagai peringatan perjuangan perang Kesatrian Ponorogo. 2. Bedhaya Mataram-Senapaten Diradameta (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), sebagai monumen perjuangan perang di Hutan Sitakepyak. 3. Bedhaya Mataram-Senapaten Sukapratama (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), monumen perjuangan perang bedah benteng Vredeburg, Yogyakarta.
GELAR PAHLAWAN NASIONAL,
 Pada 1983, pemerintah mengangkat Mangkunegoro I sebagai pahlawan nasional, karena jasa-jasa kepahlawanannya.Mendapat penghargaan Bintang Mahaputra. Mangkunegoro I memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Ia bertahta selama 40 tahun, dan wafat pada 28 Desember 1795
2.Mangkunegara II (1796-1835)

Asal Usul Mangkunegara II

Mangkunegara II berasal dari keluarga Prabuwijaya yang lahir dari Ratu Alit.Dalam diri Mangkunegara II mengalir darah Paku Buwono III dan Mangkunegara I. Tampil sebagai raja Mangkunegaran menggantikan kakeknya yang wafat tahun 1795.Tampilnya Mangkunegara II menggantikan Mangkunegara I merupakan catatan yang menarik berhubung suksesi di Istana Pangeran Sambernyawa berbeda dengan dua Kerajaan lainnya. Perbedaan ini segera tampak dalam sistem pergantian dan masa pemerintahannya.
Mangkunegara II berasal dari Dinasti pejuang yang kental sekali dengan warna kemiliteran sehingga dalam hal suksesi pergantian pimpinan Istana, selain telah dipersiapkan seorang calon juga mewarisi tradisi cita cita dari pendahulunya untuk diwujudkan dalam masa masa pemerintahan penerusnya. Tradisi dan adat Jawa yang tidak membedakan laki laki dan wanita dalam mengurus negara terbukti dengan keberadaan pasukan tempur wanita sejak perjuangan pendahulunya Pangeran Sambernyawa.Dalam masa pemerintahannya pula calon penerus sudah tampak dipersiapkan dan jalur wanita bukan persoalan yang menghambat.

Pemerintahan Mangkunegara II

Mangkunegara II adalah sebutan untuk Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara II Raja di Praja Mangkunegaran. Dalam penulisan sejarah sering hanya disebut dengan nama Mangkunegara II tetapi secara jelas tetap menunjukan sebagai yang dimaksud Raja Mangkunegaran.Semasa mudanya bernama RM.Sulomo kemudian dewasa bergelar Pangeran Surya Mataram dan Pangeran Surya Mangkubumi. Mangkunegara II lahir dari pasangan Ratu Alit dan Pangeran Hario Prabuwijaya.Dari pihak ibu adalah cucu dari Paku buwono III sedang dari pihak ayahnya adalah cucu dari Mangkunegara I yang terkenal dengan gelar Pangeran Sambernyawa. Ratu Alit adalah putri Paku buwono III sedang Pangeran Hario Prabuwijaya adalah putra Mangkunegara I. Pemerintahan Mangkunegara II berlangsung dari tahun 1796 sampai 1835.
Nama Pangeran Surya Mataram sempat membuat panik Belanda disebabkan nama itu memuat unsur keagungan yang dapat memancing kekeruhan stabilitas tiga kerajaan; Kasultanan-Kasunanan-Mangkunegaran.Pergantian nama dan gelar Pangeran Surya Mataram menjadi Pangeran Surya Mangkubumi membuat peralihan dari kepanikan Belanda menjadi mengundang kemarahan Sultan Hamengku buwono I. Belanda perlu khawatir karena nama Pangeran Surya Mataram belum pernah ada waktu itu dan terasa betul unsur unsur keagungan nya yang bakal mengundang rasa curiga bagi pihak Keraton/Kerajaan yang lain.Rasa curiga bagi pihak lain mengundang ancaman perselisihan dan perang terbuka yang akan menyeret kembali Belanda kedalam peperangan.Belanda tidak ingin mengulang kembali keterlibatannya dalam perselisihan dan perang yang berlarut larut.Sultan Hamengku Buwono I mengajukan protes lewat patihnya karena nama Mangkubumi adalah nama untuk dirinya sebagai anggota tertua yang masih hidup dalam dinasti Mataram.
Pada masa Mangkunegara I penggunaan nama selalu mengundang faktor kecurigaan dan sensitif yang tinggi karena nama memuat sejumlah harapan dan cita cita yang dapat menjadi claim bagi hegemoni dan pelebaran kekuasaan.Pemerintahan Mangkunegara II sarat dengan percaturan kekuasaan dan Mangkunegaran cenderung aktif dan ekspansif keluar Istana.Pemerintahannya yang berakhir sampai 1835 mengindikasikan bahwa Mangkunegara II terampil dan lihay dalam memainkan peran Kerajaan berhadapan dengan kekuasaan Kolonial dan Kekuasaan dua Kerajaan yang lain di Jawa ini. Mangkunegaran telah berhasil membaca tanda tanda jaman.Tiga Serangkai Penguasa kelajutan Dinasti Mataram teruji oleh jaman dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensi Kerajaannya.

Perluasan wilayah kerajaan

Dalam pemerintahan Mangkunegara II daerah Mangkunegaran mengalami perluasan wilayah dari 4.000 cacah menjadi 5.500 cacah.Penambahan perluasan ini diperoleh semasa Raffless menjabat Gubernur Jenderal di Hindia Belanda.Pada jaman Daendels sebelum Raffless kedudukan Mangkunegara sebagai Pangeran Miji ditingkatkan menjadi Pangeran pinisepuh/yang dituakan .Pada tahun 1808 Legiun Mangkunegaran dibentuk dan dibangun.Legiun ini berkekuatan 1.150 personil dan dipersenjatai untuk memperkuat kedudukan dan posisi Mangkunegaran.Pertambahan luas wilayah Mangkunegaran diikuti juga dengan penambahan jumlah personil Legiun menjadi 1.500 orang.Pembentukan dan pembangunan Legiun menggunakan dana upeti Belanda ke Mangkunegaran dan sebagai Komandan pertama adalah Mangkunegara II.Praja Mangkunegaran dalam tata praja terdiri dari daerah daerah yang meliputi; Daerah Malangjiwan, Daerah Wonogiri dan Daerah Karanganyar. Masing masing daerah dipimpin oleh seorang Wedana Gunung.
Legiun Mangkunegaran mengangkat prestise Mangkunegaran ditingkat percaturan politik yang lebih mandiri.Kekuatan untuk memaksakan kehendak dalam politik bukan sekadar tanpa tindakan melainkan alat untuk memaksakan kehendak terhadap pihak lain sudah dipersiapkan.Pembangunan Korp Legiun Mangkunegaran dilengkapi dengan pendidikan kemiliteran yang disebut sebagai Sekolah Kadet Legiun Mangkunegaran.Komandan Legiun Mangkunegaran adalah Mangkunegara yang sedang bertahta dengan pangkat kemiliteran Kolonel. Dalam Korp Legiun ini terdapat Pasukan Infantri, Kavaleri dan Artileri. Dengan Legiun Mangkunegaran maka Praja Mangkunegaran menjadi satu satunya Istana dimana tradisi tradisi militer bangsawan Jawa tetap hidup meski berhadapan dengan kekuasaan kolonial. Dengan korp Militernya Mangkunegaran tampil aktif dan lebih terbuka terhadap ide ide baru.
Penggunaan kata “Legiun” dalam Korp kemiliteran Mangkunegaran merupakan serapan ide baru dalam hubungannya dengan Perancis melalui Daendels yang menjabat Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Seperti Korp Elite Militer Perancis sekarang Legiun Asing yang menyatukan anggotanya dengan bahasa Perancis, demikian juga Legiun Mangkunegaran anggotanya dipersyaratkan menguasai bahasa Belanda dan bahasa Melayu.Penggunaan bahasa Melayu di Korp militer Mangkunegaran menjadi catatan tersendiri untuk Mangkunegaran dalam sumbangsihnya untuk kepentingan Nasional Indonesia, karena bahasa Melayu kemudian ditetapkan menjadi bahasa Nasional Indonesia.Mangkunegaran telah memberikan kontribusi awal jauh sebelum Bangsa Indonesia Merdeka lewat tradisi berbahasa Indonesia yang kala itu disebut sebagai bahasa Melayu.Sebagai syarat bahasa Melayu adalah wajib yang harus dikuasai oleh anggota Legiun disamping bahasa Belanda.
3.Mangkunegara III (1835-1853)
Beliau adalah cucu dari Mangkunegara II dan dilahirkan oleh puterinya yang menikah dengan Pangeran Natakusuma. Makamnya terletak di Astana Mangadeg, Kabupaten Karanganyar
4.Mangkunegara IV (1853-1881)
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV terlahir dengan nama Raden Mas Sudira pada hari Senin Paing, tanggal 8 Sapar, tahun Jimakir, windu Sancaya, tahun Jawa 1738, atau tahun Masehi 3 Maret 1811, yang adalah juga merupakan salah satu cucu dari Mangkunegoro II. Sejak kecil ia memiliki intelektual yang lebih jika dibanding dengan beberapa pendahulunya. Sebelum Ia menduduki jabatan sebagai raja, ia pernah diangkat sebagai patih jero (patih kedua) di dalam Istana sebelum Mangkunegoro III menyederhanakan struktur pemerintahan. Mangkunegoro IV juga merupakan tokoh yang sangat dekat dengan Pemerintah Hindia Belanda, bahkan pernikanannya dengan putri sulung Mangkunegoro III pun adalah hasil campur tangan Pemerintah Hindia Belanda.
Minatnya yang besar untukn memperbaiki posisi trah Mangkunegaranmelalui ekonomi terlihat dalam beberapa tembang Sinom yang termuat dalam Serat Wedhatama. Dalam satu tembang Mangkunegara IV memberikan nasihat kepada rakyatnya bahwa yang penting dalam kehidupan adalah mencari nafkah. Setelah nafkah tercukupi baru dilanjutkan dengan memenuhi kebutuhan lain, misalnya ilmu agama. Pada tembang yang lain dikemukakan bahwa orang hidup akan memiliki arti jika memiliki tiga hal, yakni wirya atau jabatan, arta atau kekayaan, dan winasis atau kepandaian. Mereka yang tidak memiliki salah satu dari tiga hal itu dipandang rendah derajatnya (aji godong jati aking)
Semasa hidupnya, beliau memerintah Kasunanan Mangunegaran selama 25 tahun sejak 24 Maret 1853 dengan catatan prestasi di antaranya :
·                      MN IV pd masa pemerintahannya menitikberatkan pada pembangunan ekonomi, dng latar belakang tanah-tanah yg telah ditanami dan dikerjakan semasa Tanam Paksa.
·                      MN IV merintis pembangunan perusahaan-perusahaan milik Mangkunegaran dlm bentuk perkebunan, khususnya perkebunan tebu, pabrik gula dan perkebunan kopi. Pabrik bungkil di Polokarto, pabrik genteng
·                      MN IV melakukan restrukturisasi pemerintahan dng menambah 9 Kawedanan yg membidangi semua urusan di dlm istana dan luar istana.
·                      MN IV kembali mengangkat patih jaba dan patih jero dng pangkat bupati.
·                      MN IV mengangkat Kapitein Ajudan sbg penghubung antara raja dan kolonel komandan Legiun Mangkunegaran.
·                      MN IV juga terkenal sbg penyair dan ahli agama. Beberapa karyanya yg terkenal adl Tripama dan Wedhatama.
·                      Di bidang pemerintahan, beliau mempertegas batas wilayah batas Kasunanan Mangunegaran
·                      Di bidang pertahan dan militer, beliau menerapkan kewajiban mengikuti pendidikan selama 6-9 bulan bagi para kerabat dewasa, yang kemudian harus menjadi pegawai negara dalam berbagai bidang.
·                      Sedang di bidang sosial budaya, menghasilkan karya sastra, tarian jawa, pembaharuan dalam musik gamelan Jawa dan sebagainya. Karya Sastra Terkenal dari Mn IV adalah Serat Wedhatama dan Serat Tripama. Sedikit membahas tentang Wedhatama, Serat Wedhatama terdiri dari tiga suku kata, yaitu : serat, wedha dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan tama berasal dari kata utama yang artinya baik, tinggi atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian: sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan dan keluhuran hidup dan kehidupan umat manusia.
Sri Mangkunegara wafat pada hari Jumat tanggal 8 September 1881 pada usia 70 tahun. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Namun seiring dengan perjalanan waktu,  nilai budaya luhur yang ditinggalkannya secara pelan dan pasti semakin tergerus budaya asing dalam perjalanan waktu. Hal ini terjadi karena generasi muda penerus budaya dan kehidupan bangsa ini lebih pada kenyataannya banyak yang budaya manca dalam berbagai bentuknya, yang kebanyakan justru menjauhi esensi hidup dan kehidupan umat manusia dan alam semesta
5.Mangkunegara V (1881-1896)
6.Mangkunegara VI (1896-1916)
Mangkunegara VI adalah adik dari Mangkunegara V dan memerintah di Mangkunegaran sebelum kemudian digantikan oleh keponakannya Mangkunegara VII. MN V tidak digantikan oleh putranya langsung karena belum mencapai kematangan untuk berkuasa.
7.Mangkunegara VII (1916-1944)
(wafat 1944) adalah pemegang tampuk pemerintahan Mangkunegaran, 19161944. Ia adalah salah seorang putera dari Mangkunegara V, terlahir dengan nama RM Soerjo Soeparto. Ia memiliki anak putri tertua B.R.Ay. Partini yang menikah dengan sejarawan Husein Djajadiningrat, seorang ningrat dari Serang, Banten.
8.Mangkunegara VIII (1944-1987)
(lahir di Kartasura, 7 April 1925 – meninggal di Surakarta, 2 Agustus 1995 pada umur 70 tahun, mulai berkuasa 1944) adalah penguasa Praja Mangkunagaran terakhir yang mengalami masa kolonial Belanda dan yang pertama kali pada masa Indonesia merdeka. Baru saja dilantik dan kemudian harus menghadapi arus perubahan politik yang besar, Mangkunagara VIII kesulitan memposisikan diri untuk menjaga kedaulatan wilayah. Akibatnya wilayah Surakarta (termasuk Mangkunagaran) digabungkan ke dalam provinsi Jawa Tengah sejak 1950.
Mangkunagara VIII wafat tahun 1995 dan digantikan oleh putra ketiganya sebagai KGPA Mangkunagara IX.
9.Mangkunegara IX (1987-sekarang)
Para penguasa Mangkunegaran dimakamkan di  Astana Mangadeg dan Astana Girilayu ,yang terletak di lereng Gunung Lawu. Pengecualian untuk Mangkunegara VI, yang dimakamkan di tempat tersendiri, yaitu Astana Oetara di Jl. Nayu.
Warna resmi Mangkunegaran adalah hijau dan kuning emas serta dijuluki “pareanom” (padi muda), yang dapat dilihat pada lambang istana.
Wilayah Mangkunegaran
Mangkunegaran mengacu pada dua konsep, yakni unit pemerintahan dan wilayah. Sebagai unit pemerintahan, yang dimaksud dengan Mnagkunegaran adalah sebutan bagi sebuah praja atau kerajaan kecil atau kadipaten besar yang didirikan oleh Raden Mas Said yang kemudian bergelar Mangkunegara I setelah perjanjian salatiga tahun 1757. Sebagai unit wilayah, Mangkunegaran terdiri dari kota praja dan daerah di lyuarnya yang sebagian besar terdiri dari pedesaan. Kota praja merupakan pusat pemerintahan. Lokasi kota praja berada di jantung Kota Surakarta bagian utara, di sebelah utara dari Kraton Kasunanan. Kota praja ini meliputi 1/5 dari keseluruhan Kota Surakarta. Pedesaan mangkunegaran sebagian besar berlokasi di selatan Kota Surakarta, yakni di wilayah yang kemudian menjadi Kabupaten wnonogiri dan sebaggian kecil lainnya berada di sebelah timur dan selatan Kota Surakarta yang kemudian masuk dalam wilayah Kabupaten Karang Anyar. Wilayah Mangkunegaran telah mengalami beberapa kali perubahan. Pada tahun 1757, ketika Praja Mangkunegaran berdiri, luas wilayahnya hanya sekitar 4.000 karya atau 959,5 jung atau 2.800 hektar. wilayah awal dari Praja Mangkunegaran ini di dalam khasanah Mangkunegaran disebut sebagai Desa Babok.
Wilayah Praja Mangkunegaran Tahun 1737
Nama Wilayah
Luas (jung)
Luas (karya)
Keduwang
141
564
Laroh
115,5
462
Matesih
218
872
Wiraka
60,5
242
Haribaya
82,5
330
Hanggabayan
25
100
Sembuyan
133
532
Gunung Kidul
71,5
286
Pajang (sebelah selatan jalan besar Surakarta-Kartasura
58,8
235,2
Pajang (sebelah utara jalan Surakarta-Kartasura)
64,5
258
Mataram (Pertengahan Yogyakarta)
64,5
258
Kedu
8,5
34
Jumlah
979,5
3.918 = (4000)
Sumber: Pringgodigdo, Dhoemados Saha Ngrembakanipoen Pradja Mangkoenagaran, (naskah ketik Reksa Pustako Mangkunegaran, 1938), hlm. 40; Rouffaer, Vorstenlanden, dalam Adatrechbundel no. 34, hlm. 270.
Luas wilayah Mangkunegaran sejak berdirinya hingga pertengahan abad XX mengalami bebrapa kali perubahan. Perbahan pertama terjadi pada masa pemerintahan Mnagkunegara II, yakni tahun 1813. Ketika Praja Mangkunegaran memperoleh tambahan wilayah dari Raffles seluas 240 jung2 atau 1000 karya sehingga luas wilayahnya menjadi sekitar 5.000 karya atau 3.500 hektar.
Perubahan kedua terjadi pada tahun 1830, masih dalam masa pemerintahan Mangkunegara II. Ketika ityu wilayah Mangkunegaran bertambah lyuasnya 120 jung aau 500 karya. Berbeda dengan tanah-tanah babok yang umunya tanah yang kurang subur, tanah-tanah tambahan ini terdiri dari tanah-tanah yang subur di lembah Bengawan solo. Industri gulaMangkunegaran yang dibangun pada akhir abad XIX berada di wilayah ini. Industry gula Colo Madu berada di wilayah Pajang Utara (Malang Jiwan) dan industry gula tasik Madu berada di wilayah Sukawati bagian Timur (Karang Anyar, Afdeeling Sragen)
BAB II
TEKS SERAT TRIPAMA
Anggitan : KGPAA Mangkunagara IV
Dhandhanggula.
1.
Yogyanira kang para prajurit,
lamun bisa sira hanuladha,
Duk ing nguni caritane,
Andelira sang Prabu,
Sasrabau ing Maespati,
Aran Patih Suwanda,
Lelabuhanipun,
Kang ginelung tri prakara,
Guna kaya purun kang den antepi,
Nuhoni trah utama.
Seyogianya para prajurit,
Andai bisa semuanya meniru,
Seperti masa dahulu,
Tentang Andalan sang Prabu,
Sasrabau di Maespati,
Bernama Patih Suwanda,
Jasa-jasanya,
Yang dipadukan dalam tiga hal,
Pandai, kaya/mampu dan berani yang ditekuninya,
Menepati sifat keturunan (orang) utama.
2.
Lire lalabuhan tri prakawis,
Guna: bisa saneskareng karsa,
Binudi dadya unggule,
Kaya: sayektinipun,
Duk mbantu prang Manggada nagri,
Hamboyong putri dhomas,
Katur ratunipun,
Purune sampun tetela,
Aprang tandhing lan ditya Ngalengka aji,
Suwanda mati ngrana.
Arti jasa bakti yang tiga macam itu,
Pandai mampu di dalam segala pekerjaan,
Diusahakan memenangkannya,
Sugih Seperti kenyataannya,
Waktu membantu perang negeri Manggada,
Memboyong delapan ratus orang puteri,
Dipersembahkan kepada rajanya,
(tentang) keberaniannya sudahlah jelas,
Perang tanding melawan raja raksasa Ngalengka,
Suwanda meninggal dalam perang.
3.
Wonten malih tuladhan prayogi,
Satriya gung Nagri Ngalengka,
Sang Kumbakarna namane,
Tur iku warna diyu,
Suprandene nggayuh utami,
Duk awit prang Ngalengka,
Denya darbe atur,
Mring raka amrih raharja,
Dasamuka tan kengguh ing atur yekti,
De mung mungsuh wanara.
Ada lagi teladan baik,
Satria agung negeri Ngalengka,
Sang Kumbakarna namanya,
Tetapi (ia) bersifat raksasa,
Meskipun demikian (ia) berusaha meraih keutamaan,
Sejak perang Ngalengka (melawan Sri Ramawijaya),
Ia mengajukan pendapat,
Kepada kakandanya agar selamat,
(tetapi) Dasamuka tak tergoyahkan oleh pendapat baik,
Karena hanya melawan (barisan) kera.
4.
Kumbakarna kinen mangsah jurit,
mring raka sira tan nglenggana,
nglungguhi kasatriyane,
ing tekad datan sujud,
amung cipta labuh negari,
lan nolih yayah rena,
myang leluhuripun,
wus mukti aneng Ngalengka,
mangke arsa rinusak ing bala kapi,
punagi mati ngrana.
Kumbakaran diperintah maju perang,
Oleh kakandanya ia tidak menolak,
Menepati (hakekat) kesatriaannya,
(sebenarnya) dalam tekadnya (ia) tak mau,
(kesuali) melulu membela negara,
Dan mengangkat ayah-bundanya,
Telah hidup nikmat di negeri Ngalengka,
(yang) sekarang akan dirusak oleh barisan kera,
(kumbakarna) bersumpah mati dalam perang.
5.
Wonten malih kinarya palupi,
Suryaputra Narpati Ngawangga,
lan Pandhawa tur kadange,
lan yayah tunggal ibu,
suwita mring Sri Kurupati,
aneng nagri Ngastina,
kinarya gul-agul,
manggala golonganing prang,
Bratayuda ingadegken senapati,
ngalaga ing Korawa.
ada pula untuk teladan,
Suryaputera raja Ngawangga,
dan Pandawa adalah saudaranya,
dan berlainan ayah tunggal ibu,
mengabdi kepada Sri Kurupati,
Dijadikan andalan,
Panglima di dalam perang Bratayuda,
(ia) diangkat menjadi senapati,
Perang di pihak Korawa.
6.
Den mungsuhken kadange pribadi,
aprang tandhing lan sang Dananjaya,
Sri Karna suka manahe,
De nggonira pikantuk,
marga dennya arsa males-sih,
ira sang Duryudana,
marmanta kalangkung,
dennya ngetog kasudiran,
aprang rame Karna mati jinemparing,
sumbaga wiratama.
Dihadapkan dengan saudaranya sendiri,
Perang tanding melawan Dananjaya,
Sri Karna suka hatinya,
Karena (dengan demikian) ia memperoleh jalan untuk membalas cinta kasih,
Sang Duryudana,
Maka ia dengan sangat,
Mencurahkan segala keberaniannya,
(dalam) perang ramai Karna mati dipanah (musuhnya),
(akhirnya ia) mashur sebagai perwira utama.
7.
Katri mangka sudarsaneng Jawi,
pantes sagung kang para prawira,
amirita sakadare,
ing lelabuhanipun,
Haywa kongsi mbuwang palupi,
manawa tibeng nistha,
ina esthinipun,
sanadyan tekading buta,
tan prabeda budi panduming dumadi,
marsudi ing kotaman.
Ketiga (pahlawan tersebut) sebagai teladan orang Jawa,
Sepantasnyalah semua para perwira,
Mengambilnya sebagai teladan seperlunya,
(yakni) mengenai jasa-bakti-nya,
Janganlah sampai membuang teladan,
Kalau-kalau jatuh hina,
Rendah cita-citanya,
Meskipun tekad raksasa,
Tidaklah berbeda usaha menurut takdirnya (sebagai) makhluk,
Berusaha meraih keutamaan.
BAB III
NILAI ETIS SERAT TRIPAMA
           
            Serat tripama adalah serat yang berisi tentang tiga suri tauladan yang bagi kita memiliki sifat yang baik/berbudi luhur dan bisa kita tiru,didalam kehidupan sehari-hari. Serat Tripama juga memiliki nilai etis tersendiri, nilai etis di sini artinya adalah apa yang diidamkan adalah sesuatu yang berdasar pada baik  dan buruknya. Dengan kata lain etis ialah kebenaran yang dinilai berdasar etika, berikut ini adalah macam-macam etika yang ada pada serat Tripama:
1.      Etika kenegaraan
Memperlihatkan seorang tokoh yang lebih memegang teguh sifat kesatrianya di dalam melindungi negaranya isinya ada di dalam serat tripama pada bait ke 4:
 Kumbakarna kinen mangsah jurit,Mring kang rak sira tan lenggana,Nglungguhi kasatriyane,Ing tekad datan purun,Amung cipta labih nagari,Lan nolih yayahrena,Myang luluhuripun,Wus mukti aneng Ngalengka,Mangke arsa rinusak ing bala kali,Punagi mati ngrana.
(·  Kumbakarna setelah mendengar perintah kakaknya, untuk melawan musuh yang menyerang negaranya, berangkat tanpa menolak karena memegang teguh sifat Kesatrianya, walaupun di dalam hatinya sesuangguhnya tidak setuju akan perbuatan kakaknya yang salah, tetapi ia tetap berangkat ke medan perang    dengan maksud untuk membela negara, keluhuran keluarga, leluhurnya dan bangsanya, maka ia bersemboyan lebih baik mati dalam medan peperangan daripada hidup mewah di Alengka tetapi dirusak oleh prajurit kera.)
2.      Etika kesusilaan
Memperlihatkan seorang tokoh yang memegang teguh nilai kesusilaan yaitu seorang satria agung dari negeri Alengka, bernama Kumbakarna, walaupun ia berwujud raksasa, namun berbudi utama (luhur), sejak perang Alengka, ia selalu mengingatkan kepada kakaknya bahwa yang dilakukan kakaknya itu sungguh salah dan tindakannya dapat membuat hancur negara namun Rahwana(kakaknya) tidak mau menanggapinya, padahal yang dilakukan kumbakarna sudah benar. Ini terdapat pada bait ke 3:
Wonten malih tuladan prayogi, Satriya gung nagari Ngalengka, Sang Kumbakarna namane, Tur iku warna diyu, Suprandene nggayuh utami, Duk awit prang Ngalengka, Dennya darbe atur, Mring raka amrih raharja, Dasamuka tan keguh ing atur yekti,De mung mungsuh wanara.
(Ada lagi teladan baik, Satria agung negeri Ngalengka, Sang Kumbakarna namanya, Padahal dia bersifat raksasa, meskipun demikian dia berusaha meraih keutamaan, sejak perang Ngalengka melawan Sri Ramawijaya, ia mengajukan pendapat,kepada kakandanya agar selamat, tetapi Dasamuka tak tergoyahkan oleh pendapat baik,Karena hanya melawan barisan kera.)

BAB IV
ISI
Dalam Serat Tripama [3 Satria Utama] gubahan KPGAA Mangkunegara ke-IV ada tiga tokoh pewayangan yang dijadikan suri tauladan bagi para prajurit dalam pengabdiannya melaksanakan tugas membela negaranya. Serat ini memuat kisah, sifat, watak dan tekad tiga tokoh atau pahlawan di dalam cerita wayang, yakni :
1.      Bambang Sumantri atau Patih Suwanda,
2.      Kumbakarna dan
3.      Adipati Karna.
Terpilihnya ketiga tokoh tersebut sebagai lambang kepahlawanan dan kesetiaan membela negara, karena ketiga tokoh tersebut memiliki jiwa nasionalisme yang besar sesuai dengan jiwa dan karakter mereka masing masing. Kebetulan mereka hidup dalam jaman (masa) yang berbeda, kecuali patih Suwanda dan Kumbakama yang hidup dalam generasi yang sama (pada jaman Ramayana), sedangkan Adipati Kama hidup pada era Mahabharata.
1.      Patih Suwanda Ing Maespati
Patih Suwanda alias Bambang Sumantri anak dari Resi Wisanggeni. Sejak kecil, Sumantri bertekad hanya akan mengabdi pada seorang raja yang memiliki kesaktian melebihi dirinya. Maka, oleh bapaknya, Sumantri disarankan melamar kepada Prabu Harjuna Sasrabahu yang masih saudara jauhnya sendiri. Sumantri diperbolehkan mengabdi dengan syarat mengalahkan Prabu Dharmawisesa dan adiknya, (Prabu Jonggirupaksa), dari Jonggarba, dan para sekutunya, yang berniat meminang putri Manggada, Dewi Citrawati, dengan jalan kekerasan. Dengan senjata sakti berupa anak panah yang bernama Cakrabaskara hadiah dari Batara Narada, yang tiap kali dilepas akan selalu meminta korban terus menerus sebelum dipanggil pulang oleh tuannya. Akhirnya prabu Dharmawisesa dapat dikalahkan dengan mudah. Lalu memboyong Dewi Citrawati ke Maespati.
Di tengah perjalanan rombongan berhenti berkemah dikarenakan perkataan Dewi Citrawati kepada Sumantri yang membuat sumantri ingin mencoba kesaktian Arjuna sebagai tuanya. Lalu Sumantri menantang arjuna adu kesaktian, Arjuna menanggapinya dengan tenang. Dalam duel Sumantri kewalahan menghadapi kesaktian arjuna. Semua seranganya tidak mempan terhadap arjuna, dengan kalut mata ia melepaskan anak panahnya ke arjuna. Kereta arjuna hancur lebur tetapi jasad arjuna belum di temukan. Sumantri lalu masuk dan menyisiri hutan mencari arjuna. Sumantri terkejut melihat arjuna ber tiwikrama menjadi raksasa mengerikan lalu mencium kaki raksasa tersebut sambil minta ampun. Atas perbuatannya, sumantri dihukum memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan Utarasegara milik Dewa Wisnu ke kerajaan Maespati. Hukuman yang tidak masuk akal dari seorang perempuan yang menyebabkannya menerima hukuman.
Sumantri yang putus asa berlalu meninggalkan tempat itu. Meratapi nasibnya yang tidak bakal mampu menjalani hukumannya.
Sementara itu, Sukrasana yang merindukan kakaknya nekat meninggalkan padepokan untuk menyusul Sumantri. Perjalanannya dilakukan dengan berjalan kaki melintasi hutan-hutan yang dihuni oleh penghuninya yang aneh-aneh. Hingga pada akhirnya, Sukrasana mendapatkan ganjaran atas laku prihatinnya itu. Ajian Candhabirawa – yang mampu mengeluarkan raksasa sakti yang tidak bisa mati. Setiap dilukai, darah yang menetes akan menciptakan raksasa sejenis sejumlah darah yang menetes itu. Begitu berulang-ulang – berhasil didapatkannya.
Secara tidak sengaja, kedua kakak-beradik itu dipertemukan. Sumantri berkeluh-kesah tentang hukumannya yang tidak masuk akal. Sukrasana menanggapi dengan tersenyum dan memutuskan untuk menolong kakak tersayangnya itu. Chandabirawa segera dikeluarkan dan dengan cepat menunjukkan keampuhannya. Taman Sriwedari berpindah dengan kilat dari khayangan Utarasegara ke Maespati.
Sumantri berniat melaporkan keberhasilan itu kepada Harjuna Sasrabahu. Tapi sayangnya, Sukrasana berwujud raksasa, sehingga Sumantri malu mengajak serta Sukrasana. Dikhawatirkan Sukrasana bakal menakutkan untuk rakyat Maespati.
Sukrasana ngotot ikut. Sumantri jadi kesal. Sumantri kembali mencabut Cakrabaskara-nya. Mengancam akan menembakkan ke arah Sukrasana jika Sukrasana tidak mau pulang. Celaka, Sukrasana tidak takut, bahkan berjalan maju seakan-akan yakin sang kakak tidak akan tega melepas Cakrabaskara. Tapi tiba-tiba Sukrasana tersandung ke depan. Badannya langsung menjemput Cakrabaskara, dan melesatlah nyawanya.
Sumantri kontan menangis meraung-raung di hadapan jenazah adiknya. Dari langit tiba-tiba terdengar suara, “Jangan menangis, Mas Mantri. Kelak, dalam suatu perang, aku akan menjemput Mas Mantri dengan perantaraan seorang raksasa. Dan kita akan berkumpul kembali.”
Dengan perasaan tidak karuan akhirnya Sumantri menghadap Prabu Harjuna Sasrabahu. Menceritakan segalanya dan siap dengan segala resikonya. Dengan bijak Harjuna Sasrabahu menasehati Sumantri, menunjukkan rasa bela-sungkawanya, tidak menjatuhkan hukuman, bahkan menganugerahi Sumantri pangkat sebagai patih dengan gelar Patih Suwanda.
Sumantri pun selanjutnya menunaikan tugasnya sebagai patih dengan baik. Konon, Saking miripnya dengan Sang Prabu, jika suatu saat Sang Prabu berhalangan memimpin rapat negara, Sumantri akan didandani dengan pakaian kebesaran raja oleh Sang Prabu sendiri dan diperintahkan untuk menduduki singgasana. Para pembesar pun bakal menyangka raja mereka sendiri yang selalu memimpin rapat.
Hingga pada suatu saat, biangnya angkara-murka, raja raksasa, Prabu Rahwana alias Dasamuka, yang mendengar tentang kecantikan Dewi Citrawati berniat merebut Sang Dewi dari tangan Harjuna Sasrabahu. Pasukan Alengka berangkat di bawah pimpinan langsung rajanya untuk menyerbu Maespati. Sampai di tepi sungai Gangga, mereka beristirahat sejenak.
Prabu Harjuna Sasrabahu dan Patih Suwanda segera menggelar siasat. Harjuna Sasrabahu akan bertiwikrama dan tidur membendung Sungai Gangga, berharap akan membanjiri perkemahan pasukan Alengka dan membuat mereka pulang. Tapi jika pasukan Alengka nekat, Patih Suwanda harus segera membangunkan Sang Prabu. Jangan menghadapi Dasamuka sendirian, pesan Sang Prabu.
Perkemahan pasukan Alengka banjir. Tapi itu tidak menyurutkan keangkara-murkaan Dasamuka. Dia nekat menyeberang untuk menyerbu Maespati. Patih Suwanda siaga. Merasa tidak enak jika harus mengganggu Tiwikrama, pasukan Alengka dihadapinya tanpa mengindahkan pesan rajanya.
Suwanda berhadapan dengan Dasamuka. Cakrabaskara melesat membunuh Dasamuka berulang-ulang. Tapi dengan ajian Pancasona-nya, Dasamuka selalu hidup lagi dan hidup lagi. Hingga suatu saat Dasamuka ambruk dan tidak bangun kembali.
Sambil menggenggam senjata kebanggaannya, Suwanda memeriksa “mayat” Dasamuka. Tiba-tiba, Dasamuka bangun! Suwanda dipitingnya, Cakrabaskara direbutnya, dan dipakai untuk mencacah tubuh sang tuan sendiri. Suwanda gugur termutilasi. Jasadnya diterbangkan oleh Dasamuka ke langit. Di sana, arwah Sukrasana menjemput arwah sang kakak.
Penutup: Setewasnya Patih Suwanda, Dewi Citrawati berlari membangunkan suaminya. Dasamuka akhirnya kalah menghadapi Tiwikrama. Kejahatannya bisa diredam untuk sementara waktu. Sampai suatu saat, Harjuna Sasrabahu tewas di tangan Resi Jamadagni atau Ramabargawa, dan meninggalkan supata kalau suatu saat nanti Jamadagni bakal mati pula di tangan titisan Wisnu yang lain. Dasamuka, sepeninggal Harjuna Sasrabahu, kembali merajalela. Jamadagni sendiri akhirnya tewas di tangan Ramawijaya, yang juga akhirnya berhasil memusnahkan angkara-murka Dasamuka untuk selamanya.Patih Suwanda memiliki 3 watak dan kepribadian sebagai berikut:
a.                                          Guna    :            pinter, wasis, mumpuni, kepandaian
b.                                          Kaya    :            sugih, kecukupan
c.                                          Purun   :            berani, saguh, mau
Bambang Sumantri yang kemudian bergelar Patih Suwanda di negeri Maespati yang masyhur keberaniannya dan mampu menyelesaikan tugas berat dengan penuh tanggung jawab. Belapatinya pada raja sangat luar biasa, sifat prajurit yang patuh. patuh pada pimpinan sejak awal walau mulanya ya coba-coba kesaktian rajanya … biasa deh darah muda pingin jajal calon bos dulu. Ada cacatnya sih, agak tegaan dengan saudara demi tujuan mengabdi pada negara .. tetapi pengabdian pada raja dan negara tidak diragukan lagi dan itu dibayar dengan nyawanya sendiri
KESIMPULAN

Berdasarkan kesimpulan yang kami dapatkan dari serat Tripama karangan Sri Mangkunegara IV adalah dalam serat itu mengisahkan tiga pahlawan dalam cerita pewayangan yang pantas diteladani yaitu Patih Suwanda, Kumbakarna dan Adipati Karna. Ketiganya digambarkan mempunyai loyalitas dan dedikasi yang tinggi pada negaranya, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Sikap ketiga pahlawan itu juga menggambarkan berbagai macam nilai-nilai yang ada di dalam mata kuliah Etika Jawa, jadi sudah sepantasnya jika kita menjadikan mereka sebagai suri teladan/ contoh yang baik dalam kehidupan kita selama ini..

sumber: rokerminator.blogspot.

One response to “Nilai Etis dalam Serat Tripama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s