Nilai Moral dalam Tembang Pocung


Pocung merupakan salah satu tembang macapatan dan lagu asli jawa (klasik) yang mengisyaratkan salah satu fase kehidupan manusia yakni kematian (ketika dipocong). macapat, suluk dan kidung terdiri dari metrum asli jawa dan beberpa pakem guru lagu, guru wilangan dan guru gatra. Ternyata pocung mengajarkan nilai moral sesuai dengan etika, sopan santun, unggah-ungguh dan kepribadian adiluhung bangsa kita. contoh sederhana:

“Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani
setya budya pangekese dur angkara”

Orang berilmu itu ditandai sampai ditindakkan (tidak cuma diomongkan)
Dengan ketekunan dan pantang menyerah,
membuat kehidupan menjadi sentosa
serta menahan nafsu angkara murka

Dalam filsafat Jawa ada istilah mati sajroning urip urip sajroning pathi… yang berati “mati dalam kehidupan dan hidup dalam kematian” bukat berarti mati is dead ya, magsudnya agar kita mengekang hawa nafsu dan seperti dalam petikan suluk di bawah ini oleh sunan bonang  kepada salah satu santrinya, teks asli dengan bahasa saat itu dan berisikan ajaran untuk mengekang hawa nafsu (puasa) :

21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya

23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar

24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan

Diatas beberapa contoh tembang (lagu klasik asli jawa), filsafat dan suluk dengan metrum asli jawa tentunya filsafat berbeda dengan agama… filsafat nisbi agama mutlak. Sunan Bonang berpandangan agar kita bisa mengekang hawa nafsu (puasa) tentunya sesuai dengan ajaran agama kita. dan pada dasarnya tidak lebih berat kepada kepentingan duniawi karena dalam pandangan beliau setelah kematian manusia baru menjumpai kehidupan yang sebenarnya (Akherat) . Untuk itu hendaknya kita senantiasa beribadah kepada Allah. begitu juga seperti dalam firman Allah “tidaklah aku ciptakan jin dan manusia hanya semata2 untuk beribadah”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s