Seni Sebagai Alat Penghalus Budi Pekerti


Tawuran antar pelajar sekolah dan kekerasan remaja, terutama di kota besar, nyaris setiap hari kita dengar dari pemberitaan media massa, baik elektronik maupun cetak. Tak jarang pula dalam tawuran antar pelajar tersebut, ada korban yang jatuh, entah hanya luka ringan atau berat, bahkan ada kalanya pula hingga merenggut nyawa.

Sebuah pergeseran nilai telah terjadi di kalangan pelajar dan remaja, yang sudah barang tentu sangat kita sayangkan dan memprihatinkan sekali. Mereka yang diharapkan akan menjadi penerima tongkat estafet untuk kelanjutan pembangunan bangsa dan negera ini, telah menjadi sosok yang beringas dan seakan tidak lagi memiliki budi pekerti.

Sungguh sebuah perubahan yang sama sekali tidak pernah kita inginkan. Namun apa hendak dikata, pergeseran nilai di kalangan anak sekolah dan remaja, sudah terjadi. Mereka seakan tidak lagi miliki kehalusan budi, yang sebenarnya merupakan ciri khas dari keperibadian bangsa ini.

Sekarang pertanyaannya, mengapa pergeseran nilai itu terjadi ?. Bukankah, leluhur kita senantiasa mengajarkan tata karma dan budi pekerti kepada anak cucunya. Tapi mengapa pergeseran nilai itu masih saja terjadi ?.

Ada satu kenderungan yang kerap kita temui setiap ada tawuran yang melibatkan pelajar dan remaja. Kita biasanya hanya suka sibuk mencari biang keladi dari terjadinya tawuran, dan tidak ada yang mau menghubungkan dengan fakta bahwa pendidikan seni makin tergusur dari kurikulum pendidikan.

Profesor Ramesh Ghanta dari India, menyatakan, bahwa bangsa yang menggeser pendidikan seni dari sekolahnya, akan menghasilkan generasi yang memiliki budaya kekerasan di masa depan. Generasi dari bangsa yang sudah tidak mendapatkan pendidikan seni di sekolahnya, sudah kehilangan kepekaan untuk membedakan mana yang baik (indah) dan mana yang buruk (tidak indah).

Pendapat serupa ini juga pernah disampaikan seorang pelukis Hidayat. Dalam Lewat papernya berjudul Seni untuk Meredam Kebrutalan, yang disampaikan pada Sarasehan Seni di Surabaya 1997, dengan tema “Traditional and Modernity”, Hidayat mengemukakan, bahwa peran seni dalam meredam terjadinya kebutralan di kalangan anak muda, sangatlah besar.

Dari ungkapan-ungkapan di atas, barang kali kita benar-benar mau mempertimbangkan adanya penggusuran pendidikan seni dalam kurikulum pendidikan di sekolah. Pemberian prioritas terhadap pendidikan IPTEK di sekolah, sebisa mungkin tidak sampai mengesampingkan pendidikan seni sebagai alat penghalus budi.                                                                                          Karena pada kenyataan, dengan memprioritaskan IPTEK, budaya kekerasan di kalangan anak muda, bukan semakin berkurang. Sebaliknya, belakangan justru semakin marak, bahkan semakin tidak terkendalikan.

Oleh karenanya, senyampang belum terlalu jauh meninggalkan kehalusan budi sebagai ciri khas keperibadian bangsa ini, ada baiknya pemberian prioritas pada IPTEK dalam kurikulum pendidikan di sekolah, juga disertai dengan pendidikan seni yang cukup. Sehingga ke depan, bangsa ini tidak hanya bisa menghasilkan generasi yang mumpuni dalam hal IPTEK, tapi juga generasi yang memiliki kehalusan budi.(*)

Penulis: Jemari, S.Pd.

sumber: situs talenta.com

Iklan

Apa itu kearifan lokal?


kearifan lokal sering kali dinilai secara serampangan dan membabi buta, hal tersebut kadang menjadi pemicu suatu konflik / ribut kyk admin d blog kemarin. xiixixii,, ga perlu ditiru ye.e…mungkin ada beberapa penafsiran ganda dan pemahaman yang berbeda..   😀

okey , malam ini budaya seni jawa akan mencoba membedah apa itu kearifan lokal ?

dari segi istilah berasal dari kata arif dan mendapatkan awalan ke, dan akhiran an. yup… “penegasan bisa sifat dan kerja”. seperti maju = kemajuan, mundur=kemunduran, naik=kenaikan, dll…

jadi kearifan lokal= suatu sikap yang mengedepankan sifat arif, bijaksana, nyengkuyung, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, dll dan disetiap daerah tentu saja berbeda-beda dan memiliki tradisi misal filosophy. contoh sederhana di Jawa ada ungkapan “sugih tanpa banda” yup mungkin bagi orang yang ngaku waras hal tersebut gila, hehhehe.. akan tetapi bagi masyarakat tertentu (jawa) itu merupakan sebuah peribahasa/ philosophy, filosofi,/ filsafat jawa/ dan masih banyak istilah2 lainya.  yah mungkin berarti kaya tetapi bukan kaya uang lho… yup filsafat berbeda dengan agama lhoo, yooh filsafat nisbi dan agama mutlak.

kadang kita denger kata kaya langsung ada dibenak kite banyak duit… xiixiii,, itu mungkin penafsiran sendiri, bisa kaya hati, kaya monyet, kaya kadal ato kaya2 yg lain… wekekeke… hmmm bisa juga tidak merasa kekurangan meskipun sehari makan 1/2x, xiixixi…. tetapi meskipun tidak memiliki bandha(harta) kadang ada sebagian orang bisa hidup tenang, tentram dan bersahaja.

tetapi ada pula yang sudah hidup banyak uang masih juga kekurangan uang/ bermental kere/ kekurangan terus/ kismin… xexexxeexee…sedangkan lokal berarti suatu keterangan tempat. yup setiap daerah ada…. perbedaan trsebut tidak perlu dicaci dan hina agar kerukunan dapat tercipta.. oh ya bahasa tetangganya local wisdom… ;D

good night kawaaan… zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Raja2 Dhemit Tanah Jawa


A.        Makhluk Halus
Kepercayaan terhadap kehidupan makhluk halus menyebar di berbagai wilayah tanah jawa. Orang jawa menjaga hubungan dengan makhluk halus. Bagi orang yang mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia makhluk halus itu biasa adanya dan bukan omong kosong.
Ada dua macam makhluk halus: pertama, makhluk halus asli yang memang diciptakan sebagai makhluk halus. Makhluk-makhluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai kedudukan tinggi seperti raja, ratu, menti. Sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja.
Kedua, makhluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh. Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam duniayang satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh beberapa macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Dunia ini terdapat beberapa lapis alam yang ditempati oleh bermacam-macam makhluk. Makhluk-makhluk tersebut, pada prinsipnya mengurusi alamnya masing-masing. Aktivitas mereka tidak bercampur dan setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Alam manusia mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain.
Warga alam yang lain mereka mempunyai badan cahaya atau secara populer dikenal sebagai makhluk halus. Alam-alam itu tidak ada hari terang benderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah di bawah sinar bulan dan bintang – bintang terang. Tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar Sang Hyang Bagaskara. Diantaranya dapat dijelaskan sebagai berikut :
Merkayangan. Kehidupan di alam ini hampir sama seperti kehidupan didunia manusia, kecuali tidak adanya sinar terang seperti matahari. Dunia merkayangan sama seperti dunia manusia, misalnya membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama. Ada banyak mobil yang jenisnya sama di jalan- jalan, ada banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Mereka memiliki teknologi yang lebih canggih dari manusia, kota-kotanya lebih moderen ada pencakar langit, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dll. Ada juga hal-hal yang mistis di dunia merkayangan ini. Kadang- kadang bila perlu ada juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk melaksanakan pertunjukan, menghadiri upacara perkawinan, bekerja di pabrik atau keperluan lain. Manusia yang melakukan pekerjaan di dunia tersebut, dibayar dengan uang yang sah dan berlaku seperti mata uang di dunia manusia.
Siluman. Makhluk halus ini suka tinggal di daerah seperti di danau-danau, laut, samudera. Masyarakt siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka mempunyai raja dan ratu. Terdapat golongan aristokrat, pegawai-pegawai, prajurit , pembantu-pembantu. Mereka tinggal di kraton-kraton , rumah-rumah. Di yogyakarta atau jawa tengah, orang akan mendengar cerita tentang beberapa siluman laut yakni kanjeng Ratu Kidul, sangat berkuasa dan amat cantik. Ia tinggal di istana laut selatan. Di parang kusumo terkenal sebagai tempat panembahan senopati dan kanjeng Ratu Kidul, pada pertemuan itu, kanjeng ratu berjaji untuk melindungi semua raja dan kerajaan mataram. Ia mempunyai seorrang patih yang sakti yaitu Nyai Roro Kidul.Kerajaan laut selatan ini terhampar pantaidi pantai selatan jawa, dibeberapa tempat kerajaan ini mempunyai adipati. Seperti layaknya sebuah negeri di kerajaan laut selatan ini juga ada upacara, ritual dan mereka juga mempunyai angkatan perang.
Kajiman. Kajiman hampir sama dengan bangsa siluman, tetapi mereka itu tinggal di daerah- daerah pegunungan dan tempat- tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak jim.
Demit. Demit bertempat tinggal di daerah- daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu, mereka itu seperti manusia hanya bentuk badanya lebih kecil.
Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti merkayang, siluman, kajiman, dan demit masih ada lagi sebuah alam yang terjepit, dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia. Manusia yang dilakukannya. Hukuman itu bisa dijalani pada waktu masi hidup di dunia sesudah mati. Pemujaan atau kejawen bukanlah patung-patung batu, tetapi pada sembilan macam makhluk halus yang dipercaya bisa menolong menjadi kaya secara material. Kesembilan makhluk jahat itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatannya seperti:
– jaran penoreh = kuda yang kepalanya menoleh ke belakang.
– Kutuk lamur = sebangsa ikan, penglihatannya tidak terang
– Gemak melung = gemak, semacam burung yang berkicau
– Codot ngising = kelelawar berak
– Bulus jimbung = bulus yang besar
– Kandang bubrah = kandang yang rusak
– Umbel molor = ingus yang menetes
– Bajul putih = buaya putih
– Srengara nyarap = anjing menggigit
Urip iku mung mampir ngombe artinya hidup didunia ini hanya untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang bener lan pener. Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan jasa berhala di atas, mereka tentu sesudah kematian mereka mendapat hukuman dari sangkan paraning dumadi. Hukuman sesudah kehidupan dipercaya orang jawa sebagai hukuman yang amat berat, dan tidak ada penderitaan yang melebihi. Maka, setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya dengan selalu bersyuker kepada tuhan yang maha kuasa. Tuhan memerintahkan agar kita senantiasa melakukan perbuatan yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur dan suka menolong.
Serat kalatidha karya Ranggawarsita yang sangat terkenal menyatakan dilalah kersaning allah, begjane wong kang lali, isih begja kangeling lan waspada, ditafsirkan bahwa eling, berarti kita senantiasa dituntut untuk berbakti kepada tuhan dan selalu berzikir kepada tuhan, tidak melupakan dan tidak meninggalkan sembahyang. Waspada berarti mampu membedakan mana yang benar dan yang salah, artinya selalu wiweka. Hal ini penting agar kita tidak ikut gila, tergilas oleh arus zaman dan hanyut dalam situasi yang tidak menentu.
B.                 Dhemit menghuni suatu tempat
Ada banyak versi tentang mitos penciptaan jawa, babad tanah jawi. Dalam suatu dongeng yang dikisahkan kepada saya oleh seorang dalang semar, pelawak wayang kulit yang lucu dan bijak, pahlawan kebudayaan jawa, yang berbicara kepada seorang pendeta Hindu- Muslim, orang pertama dari rangkaian panjang para kolonis Pulau jawa. Pendera itu berkata pada semar : ’ ceritakan kepadaku kisah pulau jawa sebelum ada manusia.’ Semarmengatakan bahwa pada masa itu seluruh pulau diliputi oleh hutan belantara kecuali sebidang kecil sawah tempat semar bertanam padi di kaki gunung merbabu. Tempat selama puluhan ribu tahun ia hidup bertani. ’ apakah kau ini?’ tanya pendeta itu keheranan. ’ apakah kau ii manusia? Umurmu bukan main panjangnya! Tentu kau bukan manusia. Bahkan nabi adam hanya berusia seribu tahun ! makhluk apakah ini? Akui saja yang sebenarnya!’
’Sebenarnya,’ kata semar,’ aku bukan manusia, aku adalah makhluk halus yang menjaga — danyang — pulau jawa. Aku adalah makhluk halus yang tertua, raja dan nenek moyang sekalian makhluk halus, dan melalui mereka ini menjadi raja seluruh manusia. ’ dalam nada yang berubah, ia melajutkan: ’ tetapi aku juga mempunyai sebuah pertanyan untukmu. Mengapa kau hancurkan negriku? Mengapa kau datang disini dan mengusir anak cucuku? Makhluk-makhluk halus itu, kalah oleh kekuatan spiritual dan ilumu agamamu, perlahan-lahan terpaksa melarikan diri kekawah-kawah gunung berapi atau kedasar laut selatan. Mengapa lakukan ini?’ pendeta itu menjawab, ’ aku telah di perintahkan oleh raja rum untuk mengisi pulau ini dengan umat manusia. Aku harus membabat hutan untuk dijadikan persawahan, membangun desa, dan memukimkan dua puluh ribu orang disini sebagai kolonis. Ini adalah titah rajaku dan kau tak bisa menghentikannya. Tetapi roh-roh yang mau melindungi kita akan tetap boleh tinggal dijawa ; aku akan menentukan apa yang harus kalian kerjaka.’ Ia melanjutkan pembicaran dengan menggambarkan garis-garis besar prespektif sejarah jawa sampai dengan zaman moderen dan menjelaskan peranan semar dalam proses itu, yakni sebagai penasehat spiritual dan pendukung magis bagi sekalian raja dan pangeran yang akan datang terjadi terus menjadi ketua sekalian danyang tanah jawa.
Dengan demikian, paling tidak dalam versi ini, dongen orang jawa dalam babad tanah jawi lebih mendekati apa yang disebut mitos kolonisasi dari pada mitos penciptaan, yang mengingatkan sejarah jawa yang terus menerus mengalami invasi orang-orang hindu, islam dan eropa, memang tidak mengherankan. Mbabad berarti membersikan sebidang hutan belantara unutk di ubah menjadi suatu desa lengkap dengan persawahan, membangun sebuah pulau kecil pemukiman manusia ditengah lautan makhluk halus yang menghuni hutan, walaupun istilah itu kini juga dipakai untuk persiapan umum mengelolah sawah. Yang harus dilakukan oleh orang dalam masa permulaan perputaran tanam padi setiap tahunnya. Lukisan yang disampaikan oleh mitos itu adalah gambaran masuknya para pendatang baru yang mendorng roh-roh jahat kegunung, tempat-tempat liar yang belum dijamah, dan lautan hindia, semetara bergerak dari utara keselatan , sambil mengatakan beberapa makhluk halus yang mau menolng sebagai pelindung mereka dan pemukiman mereka yang baru.
Cerita ini merupakan sebuah perkembangan tradisi lisan didalam masyarakat kita yang berwujud sebuah folklore yang tak lepas dari sebuah hakikat yang dinanmakan cerita lisan tersebut.
Cerita lisan ini memberikan sebuah konsep yang sangat mendasar tentang sebuah penceritaan tentang Dhemit yang mulai dari sisi wataknya yang bermacam-macam hingga bentuk yang bermacam-macam juga, hal ini dapat dinyatakan sebagai fungsi yangsangat kentel oleh mitos yang berkembang pada saat ini, dan menjadi bahan cerita buat anak cucu sehingga bahwa adanya makhluk halus itu berawal dari sebuah penceritaan, tetapi banyak unsur-unsur religiusitasnya karena kita akan selalu diingatkan untuk beribadah kepada Tuhan karena adanya penceritaan watak dari beberapa makhluk halus atas sebuah penceritaan dengan beberapa versi di jawa ini.
 berdasar QURAISYN ADAMMAKNA ( SERAT JANGKA JAYABAYA )
” Wonten kaol, yen ngambah wana utawi ngidak papan siti angker,panapadenen yen pinuku kathah sesakit, yen nananing dhemit dhemit wau dipun ungelaken ( dipun sebataken ), para dhemit boten urun angganggo damel”
ada perjanjian, jika masuk hutan atau menginjak tanah yg angker,apa bila ditempat itu banyak yg sakit,apabila nama dedemit itu disebutkan/dibunyikan,para demit tidak mau mengganggu(menggangu kerja).
Jika merambah hutan atau melewati tempat2 angker, atau banyak orang menderita sakit/banyak wabah penyakit, cukup dengan menyebut nama2 dhemit tersebut, niscaya mereka tidak akan mengganggu
NAMA — PANGGENAN / TEMPAT
Durgateluh — Majapahit
Sapujagad — Majapahit
Reja Baureksa — Majapahit
Kalabatuk — Blambangan
Butlocaya — Kediri
Prabujeksa — Giripura
Korek — Ponorogo
Sidakare — Pacitan
Klenthingmungik — Keduwang
Endrayeksa — Magetan
Tunjungpuri — Jenggala
Parangmuka — Surabaya
Pananggulan — Jipang
Sapujagad — Jipang
Kalasekti — Madiun
Prabujeksa — Pasuruan
Samaita — Gegelang
Gegeseng — Ngawi
Dhadhung — Ngawi
Butasalewah — Pajang
Mendhamendhi — Mataram
Rajegwesi — Plered
Macanguguk — Grobogan
Kalajohar — Singosari
Barukuping — Srengat
Kalakatung — Blitar
Buthakaroda — Ngrawa
Sekargambir — Karangbret
Sitalkung — Watukuru
Kures — Mandlaruknli
Ki Bujengan — Lowano
Nyi Bujenggis — Lowano
Si Korok — Lowano
Si Bedruk — Talpegat
Bagus Karang — Roban
Trenggilingwesi — Majenang
Dhudhukwarih — Pemasuhan
Sapuangin — Pemasuhan
Nyai Panggung — Kuthagedhe
Si Babut — Kerta
Setan Kumbari — Jombor
Jurutaman — Tunjungbang
Nitaluki — Tunjungbang
Sunan Lawu — Ngargapura
Malangganti — Tembayat
Gucukdandang — Medhi
Wedhitasik — Wedhi
Teluhrumput — Kali-Opak
Sanggabuwana — Kali-Opak
Majek — Galen
Cengjures — Kalipening
Karangwelang — Dhahrama
Sisendhal — Kreteg
Sapuangin — Bleberan
Senapada — Rangkudang
Pandhansari — Serisig
Malangkarsa — Wanapeti
Sandhung — Sawangan Praga
Siabur-abur — Panggung
Singabarong — Jagaraga
Aryatiron — Lodhaya
Sarpabangsa — Rawa Pening
Hinakarni — Betawi
Sapuregel — Betawi
Butagila — Tegal
Jaringwarih — Brebes
Dhandhungawuk — Brebes
Guntinggeni — Wiradesa
Teluhbraja — Cilacap
Kalasekti — Cilacap
Ni Buratwangi — Sabrang
Nayadipa — Selong
Gunturgeni — Pringtulis
Penatas — Kendhangwesi
Sithethel — Ngajah
Buta glemboh — Ngajah
Butatukang — Tegaloyang
Juru taman — Tegaloyang
Nyai Galuh — Jenar
Wesasi — Banjaransari
Sijayapidana — Dlepih
Widanangge — Dlepih
Bagelung — Wana Roban
Gendhung — Wana Roban
Gruwung — Wana Roban
Gitranaya — Wana Roban
Ki Daruna — Kayulandhean
Ki Daruni — Kayulandhean
Citranaya — Caruban
Satapura — Caruban
Ondar andir —Kuwu
Siparangtandang — Tuksanga
Siluwer —Batang
Sang Dalujawi —Kalkung
Kalanandhah — Tuntang
Ngalingkung — Setantelagapasir
Jalilung — Setantelagapasir
Singamarang — Semarang
Baratkatiga — Semarang
Arya Dipa — Lodhaya
Bancuri Kalabancuring — Redi Prahu
Gutukwatu — Pekalongan
Gunturgeni — Pekalongan
Setanturwangkal — Kaliwungu
Gutukapi — Kaliwungu
Maesakurda — Nusa Brambang
Durgabahu — Jeruklegi
Wirabangsa — Redikombang
Ajidipa — Redi Kendheng
Ratu Genawati — Seluman
Ragawati — Ringinputih
Kemandhang — Ringinputih
Jayengresmi — Masjid Sela
Jenggi — Gunung Agung
Warusuliwaringin — Gunung Agung
Udangalak — Pemalang
Sembungyuda — Pemalang
Manggisretna — Gunungtawang
Sanawati — Tidhar
Kalasekti — Tidhar
Maduretna — Sindara
Pujangga — Mrapi
Parlapa — Mrapi
Jatisewu — Sumbing
Jalela — Sumbing
Sidamurti — Karungrungan
Surapati — Tlaga
Parusa — Waringin
Teluhgung — Ngawang-awang
Kalekah — Ngawang-awang
Lempir — Rebabu
Terapa — Rebabu
Tlurki — Priyangan
Ni Jenggi — Kedhunggedhe
Garubawor — Lamongan
Gurnita — Puspalaya
Si Pangenbuta kumbari — Redi Prahu
Kaladremba — Redi Prahu
Pragota — Kartasura
Sikareteg — Pajajaran
Kresnapada — Rangkudan
Pandhansari — Tarisik
Ki Sandhungan — Sawahan
Dhudhukwarih — Pelabuhan
Butatukang — Pelayangan
Rara Amis — Ingtawang
Prabu Jaka — Redi Kelir
Butakala — Pasisir
Kalanandhan — Banyumas
Si Renthil — Segaluh
Geniara — Gunungduk
Baledhug — Parangkusuma
Ki Garunggung — Parangdhog
Ki Galenthung — Parangtritis
Bok Bereng — Parangtritis
Ki Wastuti — Parangtandang
Si Sabukjanur — Dalan Prapatan
Ki Gurong — Dalan Prapatan
Ni Gurong — Dalan Prapatan
Rara Dulek — Penancingan
Rara Dewi — Guws.langso
Raden Arya Jayengwesthi — Parangwedang
Silengkur — Tilamputih
Si Lancuk — Blora
Kala Durgi — Gambiran
Kalapraharan — Lasem
Dhandhangmurti — Sidayu
Widalangkah — Candhi
Suwanda — Sokawati
Nyai Ragil — Tandhos
Jayalelana — Suruh
Buta Trenggiling — Tanggal
Guntinggeni — Kenhal
Ki Samahita — Magelang
Udanriris — Pasijayan
Citranaya — Kayubarean
Logenjeng — Juwana
Si Londir — Wirasaba
Jaran Panolih — Matesih
Damapi — Jatisari
Parangtandang — Kesanga
Retnapangasih — Sendhang
Bok Sampur — Redi Wilis
Raden Panji — Ngambel
Si Penthul — Kacanag
Tambaksuli — Ngrema
Ki Klunthung — Jepara
Si Kecubung — Kadilangu
Drembomoha — Purbalingga
Si Kreta — Karangbolongan
Andhongsari — Kedhungwinong
Karungkala — Jenu
Banjaransari — Penggirtg
Condrolatu — Pagelen
Kethekputih — Kendhalisada
Rara Bhenok — Demak
Bathithit — Tuban
Juwalpayal — Talsinga
Kujang — Tremas
Ni Daruni — Trenggalek
Kaladhandhung — Benthongan
Si Hasmara — Taji
Bagus Anom — Kudus
Manglarmunga — Imogiri
Puspagati — Godhong
Cucukdhandhang — Kartika
Kulawarga — Tasikwedi
Sanggabuwana — Kaliopak
Pak Kocek — Pejarakan
Cincinggolong — Kalihonang
Ki Daruna — Warulandheyan
Si Daruni — Warulandheyan
Si Gandhung — Kedhunggarunggu
Genapura — Majaraga
Bajulbali — Rembang
Butagarigis — Madura
Si Gober — Pecangakan
Obar abir — Jatimalang
Rara Dungik — Randhulawang
Butakepala — Prambanan
Raden Gelanggang Jati — Redi Gadjahmungkur
Raden Kusumayuda — Pagerwaja
Dodolkawit — Pecabakan
Yudapeksa — Delanggu
Gambir anom — Pathi
Gendruk — Talpegot
Bermacam-macamnya makhluk hidup itulah kita biasa membuat suatu perkataan atau perbuatan jelek yang disangkut pautkan kedalam nama makhluk hidup karena perbuat yang tidak baik, bagaimanapun cerita dari rakyat seperti ini perlu banyak pendokumentasian yang akurat karena dengn seiring berjalannya waktu akan hilang dengan sendirinya karena pesatnya perkembangan zaman sepeti saat ini.
Sumber :
Dananjaya, 1984, Folklor Indonesia, grafitipres, jakarta.

Purwadi,2009, folklor jawa, pura pustaka, yogyakarta.

adies.blogspot.com

Ater-ater anuswara dan tripurusa


paramasastra. 😀

ater2 anuswara meliputi em, en , ng dan ny. (aktif)

contoh: pangan+em= mangan, tulis+en= nulis, sapu+ny= nyapu.

fungsi konjungsi dalam ater2 yang digabungkan dengan tembung/ kata dengan awalan huruf konsonan maka huruf tersebut akan luluh dan digantikan dengan ater2 yang mengikutinya. contohnya seperti diatas, pangan+em= mangan, dimana huruf konsonan “p” luluh dan digantikan dengan huruf “m”. dst…

ater2 tripurusa meliputi dak, ko, di (pasif)

contoh: dak sapu, kosapu, disapu, dakpangan, kopangan, dipangan, daktulis, kotulis, ditulis. dst…

Cara membedah naskah


cara membedah naskah sedikit rumit dan mudah, ada rumitnya, ada mudahnya.. hehhehe,, okey langsung saja :

1. datang ke musium yang menyimpan naskah, ato ke personal yang masih memiliki naskah atopun kolektor.. hehehe,, oke, global saja anggap saja d musium…

2. parkir kendaraan anda.. hehehe,, dan isi buku tamu d satpam…

3. masuk ke gedung, datangi petugas perpus.. dan minta katalog…

4. setelah menemukan naskahnya tunjukkan pada petugasnya,

5. hajyaar bleh… hehehhe,, magsudnya langsung saja di garap.

6. untuk metodenya berbeda dengan metode penelitian pendidikan, untuk naskah bisa menggunakan metode pen. bahasa dan sastra , jeninsnya banyak sx..

7. buat transkripsi, deskripsi, mulai dari kondisi, penulis, penyunting kalo ada, tahun, isi, watermark, dll.

8. teliti teksnya, apakah bentuknya nyacing, cetak, ato apa…

9. pulang bleh… wakakkaka…. lanjutin dirumah.,… 😀

10. setelah dilakukan transkripsi, lakukan transliterasi..

11. mulai d analisis tembung2nya… 😀

12. jadi d… tapi kyknya simple, tapi bikin kriting…. wakakkaka…. 😀

 

Nusantara / atlantis yang hilang? “17”


Nusantara seperti yang telah diketahui bahwa pada zaman dahulu merupakan suatu wilayah besar yang bergabung dengan Benua Asia untuk pulau-pulau di bagian barat, serta Benua Australia untuk pulau-pulau di bagian timur. Karena banjir besar (konon yang terjadi pada zaman Nabi Nuh AS), dataran rendah tertutup oleh air, sementara dataran yang lebih tinggi membentuk sebuah wilayah baru.
Berikut adalah gambaran wilayah pulau-pulau Nusantara pada zaman dahulu (kemungkinan):
1)  Pulau Sumatra
Pulau Sumatra, atau yang juga disebut Andalas, atau Swarnadwipa (pulau emas) atau Swarnabhumi (tanah emas) merupakan pulau terbarat di wilayah Nusantara. Berikut gambaran pulau Sumatra:
2) Pulau Jawa

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau terpadat di dunia. Pulau ini juga disebut sebagai Jawadwipa (pulau padi). Sir Thomas Stamford Raffles sangat mengagumi kesuburan tanah di pulau ini, sehingga ia menulis sebuah buku berjudul “The History of Java”. Berikut gambaran pulau Jawa zaman dahulu:
3) Sunda Kecil

Wilayah Sunda Kecil mencakup Bali, NTT dan NTB. Wilayah ini mempunyai keindahan alam yang sangat luar biasa, terutama pemandangan lautnya, baik itu di permukaan ataupun pemandangan bawah laut.
4) Pulau Kalimantan
Pulau Kalimantan juga dikenal dengan sebutan Warunadwipa (pulau dewa laut), yang kaya akan tambang dan hasil alam lainnya. Dalam beberapa naskah kuno Jawa, Pulau Kalimantan disebut juga dengan nama Nusa Kencana. Sementara Patih Gajah Mada menyebut pulau ini dengan nama Tanjungpura.
5) Pulau Sulawesi

Pulau Sulawesi disebut juga dengan sebutan Celebes. Pulau ini merupakan pulau yang telah berpenghuni sejak ribuan tahun silam. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya situs prasejarah di pulau ini.
6) Pulau Maluku

Pulau ini merupakan penghasil rempah-rempah yang sangat terkenal pada zaman dahulu. Sesoteris III, Fir’aun dinasti ke-12 (4000 tahun lalu) pernah melakukan transaksi mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius bernama “Punt”. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.
7) Papua

Papua merupakan salah satu pulau di Indonesia yang masih misterius. Pulau ini juga mempunyai salju meskipun berada di wilayah tropis yang hanya mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Robin Osborne dalam bukunya, “Indonesias Secret War: The Guerilla Struggle in Irian Jaya” (1985), menjuluki provinsi paling timur Indonesia ini sebagai surga yang hilang. Di pulau ini juga hidup burung Cendrawasih yang juga disebut sebagai burung surga karena keindahan bulunya.
                                       

“mungkin” dari perkembangan jaman suatu gugusan mengalami perubahan dari beberapa aktivitas baik fulkanik maupun sunami yang menjadikan bentuk suatu daratan berubah dari sebelumnya dari waktu ke waktu, seperti yang terjadi dengan pulau jawa dahulunya adalah satu kepulauan dengan sumatra dan sekarang terpisah.. akibat letusan dahsyat krakatau.. “17”
beberapa sumber menyatakan atlantis menggunakan bahasa sansekerta pada jamanya, atokah berkembang istilahnya menjadi hindia belanda/ nusantara? dan indonesia?? linguistik lagii…..
coba kita amati letak geografisny:
plato juga menyatakan Atlantis maju peradabanya meliputi seni, sastra, dan budaya, ilmu perbintangan, geologi, emas…hmm,, disebutkan juga bebeerapa kota atlantik berpusat d mohendaro n harapa?
yuk coba perhatikan, pemetaan modern tahun 2004 lalu sperti gambar dbwah:
nah pulau jawa sudah terpisah dengan sumatra akibat letusan krakatau abad ke 6 dan abad 18…

Tri Logi Kepemimpinan


Tu­ma­pa­king Har­dik­nas (Ha­ri Pen­di­dik­an Na­sio­nal) ku­wi pas ka­ro di­na pe­nge­tan wi­yos­ane swar­gi Ki Had­jar De­wan­ta­ra ut­awa RM Soe­war­di Soer­ja­ning­rat, tang­gal 2 Mei. Ing ja­ga­de pa­mu­lang­an apa­de­ne pang­gul­awen­tha­ha­ne pa­ra sis­wa swar­gi Ki Had­jar wis kon­dhang da­di pim­pin­ane Pa­wi­yat­an Ta­man Sis­wa, sing ma­deg ing Nga­yo­gya­kar­ta tang­gal 3 Ju­li 1922.

Je­je­re Ki Had­jar De­wan­ta­ra mi­nang­ka ba­pa­ke Pen­di­dik­an Na­sio­nal wis ka­wen­tar amar­ga suk­ses nge­su­hi pa­wi­yat­an Ta­man Sis­wa ku­wi. Unen-unen te­lung la­rik sing da­di irah-irah­ane tu­lis­an iki kang­go­ne ja­ga­de pa­mu­lang­an utam­ane ing ta­nah Ja­wa wis du­du ba­rang sing aeng ma­neh.

Te­lung pra­ka­ra sing da­di sem­boya­ne Pen­di­dik­an Na­sio­nal ku­wi da­di sra­na hang­gul­awen­tha­he pa­ra sis­wa ing pa­wi­yat­an kang­go le­lan­tar­an ngga­yuh id­ham-id­ham­ane, yai­ku se­pis­an, ing te­ngah-te­nga­he pa­ra sis­wa gu­ru ku­du ku­wa­gang nggu­gah se­ma­nga­te kang­go ngang­su kaw­ruh li­nam­bar­an te­kad sre­gep si­nau. Ka­ping pin­dho­ne, ing sa­nga­re­pe pa­ra sis­wa gu­ru ku­du ta­be­ri ma­ringi tu­la­dha sing be­cik-be­cik. Lan ka­ping te­lu­ne, gu­ru mi­nang­ka pa­mong ku­du si­yap si­ya­ga nga­wat-awa­ti pa­ra sis­wa­ne sa­ka mbu­ri ka­re­ben pa­dha ku­wa­gang ma­deg dhe­we ut­awa man­dhi­ri kang­go hang­ga­yuh id­ham-id­ham­ane sing lu­hur kang mu­ra­ba­ki kang­go nu­sa lan bang­sa­ne.

Akeh ca­ra lan re­ka­da­ya sing bi­sa di­ayahi pa­ra gu­ru kang­go nglek­sa­na­ka­ke unen-unen te­lu ku­wi. Tu­mrap bo­cah-bo­cah SD lan pra­se­ko­lah mi­tu­rut pa­ne­mu­ne Len­ne­berg ing hi­po­te­si­se kang ka­te­lah Cri­ti­cal Age Hy­po­the­sis “Hi­po­te­sis Umur Kri­tis”, bo­cah-bo­cah ing ja­lur pra­se­ko­lah lan SD ndu­we­ni “uteg sing nge­dab-eda­bi” ngan­ti umur 11 ta­hun. Bo­cah-bo­cah ing ja­lur umur iki bi­sa di­pre­di da­di lan­tip ca­tur­an ngang­go ba­sa apa wae kang­go sra­na mi­re­nga­ke lan mi­ca­ra/ca­tur­an kang ing tem­be­ne uga ba­kal bi­as di­pre­di da­di wa­sis ma­ca lan nga­rang. Won­de­ne pa­ra sis­wa SMP lan SMA, uga SMK, da­di ku­wa­jib­ane pa­ra gu­ru nam­ba­hi lan ni­ke­la­ke ngel­mu, kaw­ruh lan ka­tram­pil­ane kam­bi me­ma­ca bu­ku lan ga­we ka­rang­an ngang­go ba­sa apa wae sing wis di­sin­au sa­du­ru­nge.

Sa­te­me­ne yen bi­sa nan­ja­ka­ke wek­tu lan ka­lo­dhang­ane, pa­ra sis­wa SMP lan SMA/SMK kan­thi en­tuk bim­bing­ane pa­ra gu­ru bi­sa ni­ke­la­ke ka­bis­ane ngu­was­ani il­mu jum­buh ka­ro bi­dang sing di­pi­lih. Ngu­was­ani ngel­mu iki ku­du di­ayahi li­wat da­lan/sra­na sre­gep me­ma­ca lan ne­nu­lis, li­re ku­du akeh ma­ca bu­ku lan ga­we tu­lis­an ut­awa kar­ya-kar­ya il­mi­yah.

Wis du­du ba­rang kang di­wa­de­ka­ke ma­neh yen wong-wong suk­ses, yai­ku pa­ra sar­ja­na S-1, S-2 lan S-3 bi­sa ut­awa ku­wa­gang ngga­yuh ta­tar­an ka­sar­ja­na­ka­ne amar­ga pa­dha ndu­we­ni ka­bis­an lan pa­ku­lin­an me­ma­ca bu­ku lan nu­lis kar­ya-kar­ya il­mi­yah. Ya, ka­bis­an lan pa­ku­lin­an sing ka­ya meng­ke­ne iki sing ku­du dip­le­ter lan di­pe­pet­ri wi­wit SMP lan SMA. Sis­wa-sis­wa iki ku­du di­ku­li­na­ka­ke nda­de­ka­ke ma­ca lan nu­lis mi­nang­ka se­ga jang­ane ing sa­ben di­na­ne.

Ke­ma­ruk ma­ca ku­wi, utam­ane ma­ca bu­ku, da­di­ya sra­na tu­mu­ju ma­rang pa­ngu­was­ane il­mu. Nang­ing sing ku­du di­eling-eling pa­ra sis­wa yai­ku aja ngan­ti ndu­we­ni ka­se­ne­ngan apa­de­ne ho­bi ma­ca bu­ku-bu­ku por­no, ali­yas bu­ku-bu­ku sing bi­sa ngru­sak mo­ral. Uga aja ngan­ti ka­li­put lan ka­je­bak ma­rang ka­se­ne­ngan lan ka­seng­sem non­ton VCD por­no, awit se­pis­an wae ka­li­put angel bis­ane pa­ra sis­wa ba­kal hang­ga­yuh id­ham-di­ham­ane da­di sar­ja­na su­ja­na.

Ge­ga­yuh­an

Pan­cen abot je­jib­ah­ane gu­ru. Pa­ra pa­mong iki ku­du bi­sa da­di tu­la­dha­ne ma­sa­ra­kat, ya­ku­wi wong sing dhe­men ma­ca lan nu­lis, sak­du­ru­nge lan ri­ka­la nga­jak sis­wa-sis­wa­ne se­neng me­ma­ca, ne­nu­lis, lan ngang­su kaw­ruh. Ing ja­man sai­ki di­ajap pa­ra gu­ru bi­sa nan­ja­ka­ke wek­tu­ne kang­go si­nau te­rus. Tu­ju­wa­ne ora mli­gi kang­go ngun­dha­ka­ke pang­kat apa­de­ne ngun­dhuh tu­mu­ru­ne ge­ga­yuh­an kang awu­jud ser­ti­fi­ka­si, nang­ing kang­go me­ne­hi con­to ma­rang pa­ra sis­wa­ne yen se­ko­lah ku­wi bi­sa di­ayahi ka­pan wae, ora nde­leng pi­ra umu­re. Ka­pan wae wong bi­sa si­nau lan si­nau te­rus kang­go ngga­yuh id­ham-id­ham­ane, sao­ra-or­ane bi­sa da­di sar­ja­na sing mi­gun­ani kang­go ka­ma­ju­wa­ne ngel­mu, sum­ram­ba­ha­ke kang­go san­to­sa lan yu­wan­ane nu­sa lan bang­sa­ne.

Yen tu­ju­wa­ne pa­sin­aon awu­jud pa­ngang­go­ne ba­sa Ja­wa kom­plit ngang­go ung­gah-ung­gu­he, iki be­ner-be­ner da­di ku­wa­jib­ane gu­ru. Te­tan­dhi­ngan mi­ca­ra, cri­ta pi­da­to, ma­ca, lan nga­rang ngang­go ba­sa Ja­wa pre­lu ba­nget di­les­ta­re­ka­ke su­pa­ya bo­cah-bo­cah Ja­wa lan­tip mi­ca­ra lan nu­lis ngang­go ba­sa Ja­wa wi­wit SD ngan­ti te­kan se­ko­lah me­ne­ngah.

Te­tan­dhi­ngan mi­ca­ra nu­lis lan ngang­go ba­sa In­do­ne­sia uga pre­lu di­ku­li­na­ka­ke ing sa­ben ta­tar­an se­ko­la­han su­pa­ya pa­ra sis­wa han­du­we­ni ka­bis­an ngang­go­ka­ke ba­sa na­sio­nal-e. Te­tan­dhi­ngan ngang­go ba­sa Ing­gris uga pre­lu da­di tra­dhi­si. Sa­ra­na mang­ko­no bo­cah-bo­cah, utam­ane mu­rid-mu­rid SD, sing la­gi han­du­we­ni “umur kri­tis” bi­sa di­buk­te­ka­ke mum­pang­ate.

Kan­thi le­lan­dhes­an te­o­ri sing wis cu­me­pak (ka­ya­ta Hi­po­te­sis Usia Kri­tis) lan kip­ra­he pa­ra gu­ru kang nggul­awen­thah pa­ra sis­wa sa­ben di­na­ne ngang­go sen­ja­ta “ing ngar­sa sung tu­la­dha, ing ma­dya ma­ngun kar­sa, tut­wu­ri han­da­ya­ni,” di­ajap pang­gul­awen­tha­he bang­sa bi­sa ka­sil han­jun­jung dra­ja­te Nus­wan­ta­ra tu­mu­ju tu­ma­pa­king ja­man ma­ju. Mu­ga-mu­ga ka­sem­ba­dan. Amin!